blank
Prosesi Doa dan Macapat dalam perhelatan budaya acara Ngangsu Banyu. Foto Dok RKBBR

Oleh Septiana Wibowo

Di dalam Omah Kudus, Rumah Khalwat dan Balai Budaya Rejosari yang telah di dekorasi dengan banyak lukisan dan sketsa Putut Pasopati bersanding apik dengan puisi-puisi yang naratif oleh Arif Khilwa dan Aloeth Pati. Ada sekitar 50 karya terpampang dengan tata lampu dan letak yang apik. Juga tata seni Instalasi yang merepresentasikan bagaimana kehidupan pesisiran.

Saya tertegung, tampak pengunjung turut larut dalam dialog sunyi antara rangkaian kata dan rupa. Inilah Pameran Puisi Rupa yang menjadi satu dengan serangkaian acara Ngangsu Banyu Gunung dan Ombak, dengan pembukaan yang dilaksanakan pada tanggal 29 Agustus 2025 dan akan berlangsung hingga satu bulan kedepan.

Pameran ini tumbuh sebagai sebuah ruang pertemuan antara puisi dan seni visual yang menghadirkan pengalaman estetika yang lebih mendalam. Tampak para seniman dari Pati ini menyatukan berbagai disiplin seni dalam kolaborasi yang tidak biasa. Puisi tak lagi sekadar teks yang dibaca, tapi hadir sebagai elemen visual yang bisa dirasakan, dilihat, bahkan menjadi sebuah representasi fisik yang bisa disentuh.

blank
Asa Jatmiko dan Arif Khilwa berfoto dengan Lukisan Putut Pasopati. Foto Dok. RKBBR

Salah satu karya yang mencuri perhatian adalah Tempat Sampah Dunia, sebuah puisi karya Arif Khilwa di mana larik-larik puisinya menjadi satu rangkaian gambar trenyuh yang di lukis oleh Putut Pasopati dengan judul yang sama. Bait-bait sederhana menjadi semakin menggetarkan saat puisi ini dibacakan ketika upacara pembukaan pameran yang dilaksanakan bersamaan dengan Performance Art di tengah rintik hujan gerimis malam itu.

“Pantai kami bukanlah destinasi selfie

Atau lokasi film romantic penuh hasrat

Ia adalah altar korban.

Tempat sampah sungai bersujud tanpa rumat

Limbah rumah tangga yang membaiat laut

Dengan air mata industri yang larut”

blank
Tim Ilustrasi Musik dan para Creator seni Instalasi bersama Arif Khilwa, Putut Pasopati dan Aloeth Pati saat kolaborasi Perform di depan Omah Kudus. Foto Dok RKBBR

Adalah sebuah penggalan puisi yang dibacakan oleh Arif dan diadopsi oleh Siwi Agustin menjadi sebuah performance art tentang kerusakan dan pencemaran pantai yang ada di sepanjang pesisir pantai utara. Selama acara berlangsung semua berjalan khidmat hingga pameran resmi dibuka untuk umum dengan ditandai penyerahan pohon kepada Romo Sumargo yang telah bersiap di dalam pameran sebagai gambaran harapan dimulainya kehidupan yang baru.

Beberapa karya yang bahkan menggabungkan media yang tidak lazim: instalasi dengan pasir dan kerang, rajutan jerami dan anyaman bambu yang membentuk ekosistem pantai, alat-alat nelayan hingga gambar yang menyandingkan narasi puisi nan apik.

blank
Penyerahan Tanaman oleh Siwi Gustin kepada Romo Sumargo. Dok RKBBR

“Pameran ini bukan hanya tentang seni dan sastra, tapi juga tentang dialog antar-disiplin. Di balik setiap karya ada percakapan antara penyair dan perupa, saling menginterpretasi dan menerjemahkan emosi.” Ungkap penyair dari Pati Aloeth Pati, salah satu dari dua penyair yang berkolaborasi dalam pameran.

Menurut Asa Jatmiko, konseptor acara Ngangsu Banyu, pada tahun ini, Rumah Khalwat Balai Budaya Rejosari mengangkat tema “Gunung dan Ombak” berkolaborasi dengan para seniman dari Pati sekitarnya. Menghadirkan karya-karya instalasi yang bertalian dengan kehidupan para nelayan di Pantura yang dirangkai dalam Pameran Puisi Rupa.

Bagi Asa, konsep gunung menuju laut sangat pas dengan kondisi lingkungan kita saat ini, air akan mengalirkan peri-kehidupan masyarakat. Mengabarkan kejernihan menjadi nafas hidup semua orang. Dimana ini mengandung pesan bagaimana manusia agar selalu menjaga lingkungan.

blank
Menikmati Lukisan dengan Membaca Puisi. Foto Dok. RKBBR

Setelah upacara pembukaan, acara dilanjutkan dengan tur singkat yang dipandu oleh para seniman dan kurator pameran. Para pengunjung tampak antusias mengikuti acara, bahkan banyak yang mengabadikan momen dengan latar belakang karya-karya yang dipamerkan.

Pengunjung juga dipersilahkan menscan barkod yang di sediakan di beberapa sisi untuk mendapatkan buku dan katalog karya dari ketiga Seniman tersebut bertajuk “Text Merupa, Merupakan Text”.

Membuka Makna Ruang Baru

Pameran Puisi Rupa ini berhasil membuka ruang baru dalam cara kita memahami puisi dan seni rupa. Bukan lagi sebagai entitas yang terpisah, tapi sebagai dua wajah dari satu ekspresi jiwa manusia.

Bagaimana para penyaji bersama-sama mengangkat Kearifan Lokal Kepesisiran. Bertujuan mengulik kondisi sosiologis masyarakat, dan mengedukasi masyarakat dan para intelektual bahwa secara demografi, ketiga kota yang mengelilingi Muria, Jepara, Kudus dan Pati ini kental dengan pegunungan dan juga menyimpan sisi kepesisiran yang tak bisa dikesampingkan.

Semua itu diwujudkan dalam manuskrip apik oleh Putut Pasopati dengan rekaman vusial yang tampak mendokumentasikan sosial budaya pesisiran dan Arif Khilwa dan Aloeth Pati dengan diksi yang juga merekam kondisi sosiologis kemasyarakatan dan ekosistem alam yang ada. Tak semua indah namun semua adalah potret bagaimana ekologi dan masyarakat menyatu dalam kehidupan sekarang.

Pameran ini mencoba meringkas, selain sebagai edukasi bersama, ini adalah sebuah kritik sosial yang bertujuan menggugah Nurani sehingga timbul rasa ingin membangun menuju hal yang lebih baik setelahnya.

Permasalahan pencemaran seta alih fungsi sumber daya alam yang tak semestinya dan pergeseran sosial menjadi isu di angkat dalam pameran ini. Dengan tidak menghilangkan unsur estetika dalam seni dan narasi. Para penyaji mampu mengolah sumber daya mereka menjadi sebuah komunikasi kuat bahwa “Menjaga sumber air dan laut adalah menjaga masa depan”.

Hal yang juga diungkapkan pelukis dari Kudus, Indarto Suksmono dalam sesi diskusi setelah pameran, bahwa Pameran Seni dan Rupa ini merupakan peristiwa yang menarik karena ada upaya baru dan pergerakan yang baru di Muria Raya ini sendiri. Setidaknya kita menangkap semacam kegelisahan kreatif untuk menghadirkan wacana baru dalam kesenian daerah dan ini adalah hal yang baik dalam berkesenian di Muria ini.

Maka bagi saya dan para penikmat seni dan sastra lain di Kawasan Muria, pameran ini bukan hanya sebuah tontonan, tapi juga pengalaman yang mengesankan. Ia mengajak kita untuk tidak hanya melihat atau membaca—tapi merasakan makna yang lebih dalam dari sebuah karya seni Rupa dan Sastra.

Acara lalu di tutup dengan Pertunjukan Macapat oleh Paguyuban Sitoresmi, dan dilanjut peletakan air dari sumber yang berbeda yang akan dimasukkan ke dalam sebuah Jun besar (Gentong) pada Upacara Prosesi Ngangsu Banyu keesokan paginya.

Ini sebagai sebuah representasi dari Ngangsu Banyu yang sebenarnya. Kami diijinkan menghadiri peletakan ketiga kendi yang dibawa oleh para Pemuka Agama yang ada di Nusantara di tengah Omah Kudus, RKBBR.

Septiana Wibowo, Penulis Esai dan Reporter Seni Budaya Suarabaru.id