KOTA MUNGKID (SUARABARU.ID) – Sebanyak 20 guru bahasa Jawa sekolah dasar dan menengah (SD, MI, SMP, Mts) di bawah koordinasi LP Ma’arif PC NU Kabupaten Magelang mengikuti Pawiyatan (pelatihan dasar) aksara Jawa Carangapak. Pelatihan di SMK Ma’arif Walisongo, Kajoran, Kabupaten Magelang, itu berlangsung 30-31 Agustus 2025.
Sekretaris Yayasan Bina Aksara Mulya (YBAM), Afiffuddin, hari ini Sabtu (30/8/25) mengatakan, pelatihan itu untuk memberikan metode baru bagaimana cara mengajarkan aksara Jawa. Dengan pelatihan itu diharapkan supaya aksara Jawa tidak lagi menjadi momok. Karena, selama ini anak-anak maupun masyarakat menganggap belajar aksara Jawa itu sulit.
Dengan metode itu, untuk belajar aksara Jawa dimulai dari memahami bentuk dan karakter dari aksara itu. Melalui cara itu, menurut dia, bisa cepat memahami.
“Selama ini metodenya hafalan.
Selain itu ketika belajar aksara Jawa terbebani tiga hal, yakni belajar bahasa, sastra, sekaligus aksara. Padahal anak SD baru permulaan,” katanya.
Sementara kalau belajar huruf Latin, maupun Arab, tidak diwajibkan bisa Bahasa Arab. Begitu juga ketika belajar huruf a, b, c, d, e, itu murni belajar huruf Latin.
Melalui pelatihan itu diupayakan bisa menguasai belajar baca dan tulis aksara Jawa. Aksara Jawa bisa untuk menulis berbagai jenis bahasa.
Keunggulan metode itu adalah memahami bentuk dan karakter aksara. “Carangapak itu bukan berarti Banyumasan, tapi lima aksara Jawa Co, Ro, Ngo, Po, Ko,” jelasnya.

Dari lima aksara itu kemudian di – breakdown atau diurai mendekati yang mirip dengan huruf itu. “Kalau belajar secara intensif hitungannya hanya beberapa jam sudah bisa mengetahui,” katanya.
Ditambahkan, pelatihan itu terselenggara atas kerja sama Perusahaan Listrik Negara (PLN) dengan produknya PLN Mobile dan Yayasan Bina Aksara Mulya (YBAM) yang berpusat di Yogyakarta.
“Kegiatan ini untuk memperkuat literasi aksara Jawa bagi para guru dan pendidik, sekaligus menghadirkan metode pembelajaran inovatif yang mudah, praktis, dan relevan dengan kebutuhan siswa di sekolah,” imbuhnya.
Menurut dia, itu merupakan salah satu bentuk kepedulian PLN dalam bidang penguatan pendidikan dan kebudayaan. PLN Mobile, merupakan salah satu produk aplikasi mobile online bagi pelanggan yang dikembangkan oleh PLN.
Pembina YBAM, Akhmad Fikri AF menegaskan, metode “Carangapak” dirancang untuk membantu pendidik dan guru dalam menyampaikan materi aksara Jawa dengan lebih komunikatif, menyenangkan dan aplikatif di ruang kelas. “Metode ini menekankan pada Logika Nalar Visual (LNV), di mana para siswa diajak untuk memahami aksara Jawa dari bentuk dan karakternya, sehingga cepat hafal dan mudah mengingatnya,” lanjut pengasuh Pondok Pesantren YBAM yang merupakan penggagas dan penemu metode tersebut.
Dikatakan, itu merupakan metode yang dirancang untuk menjawab tantangan sekaligus mengatasi problem yang dihadapi para guru maupun siswa. Sudah terbukti di berbagai sekolah dan komunitas yang dilatih dengan metode tersebut, merasakan kemudahannya dalam belajar baca tulis akasara Jawa.
Pelatihan itu menghadirkan Tim Pelatih dari Pondok Pesantren Bina Aksara Mulya Yogyakarta.
Kepala SMK Ma’arif Walisongo Kajoran, Maksum, menyampaikan, kegiatan itu sangat dibutuhkan oleh masyarakat dan para pendidik di sekolah. Dalam rangka revitalisasi aksara Jawa di dunia pendidikan. “Kami sudah membuktikan dengan mengirim 10 siswa ke Pesantren YBAM Yogyakarta. Saat ini, 10 siswa tersebut sudah menguasai aksara Jawa dengan baik. Bahkan mereka juga dilatih desain grafis, kaligrafi dan membatik,” katanya.
Sementara itu Ketua Lembaga Pendidikan Ma’arif PCNU Kabupatan Magelang, M Nurdin Syafi’i, menyatakan, aksara Jawa merupakan warisan budaya leluhur yang sangat penting maknanya bagi eksistensi masyarakat Jawa, karena tidak semua bangsa punya aksara. Menurutnya, hal itu perlu dipertahankan dan dikembangkan sebagai salah satu cara untuk memelihara dan mengembangkan kembali semangat penggunaan aksara Jawa di tengah masyarakat. “Kita bisa belajar dari bangsa-bangsa maju seperti Jepang, Korea, Cina dan Rusia yang tetap konsisten mempertahankan eksistensi aksara yang mereka miliki,” katanya.
Eko Priyono













