blank
Penampilan peserta karnaval dari Prokompim Setda Wonosobo cukup menarik perhatian penonton. Foto : SB/Muharno Zarka

WONOSOBO (SUARABARU.ID)-Jalan protokol Wonosobo, mulai dari perempatan Jl Honggoderpo hingga Alun-Alun, mendadak berubah jadi lautan manusia, Senin (18/8/2025). Warga tumplek blek berdiri di pinggir jalan.

Sejumlah ribuan peserta dari 65 kelompok memadati karnaval HUT Kemerdekaan ke-80 Republik Indonesia yang digelar Pemerintah Daerah. Mereka merupakan perwakilan organisasi perangkat daerah (OPD) hingga perwakilan sekolah.

Tak seperti tahun-tahun sebelumnya, seluruh peserta tampil berjalan kaki tanpa kendaraan hias, membawa nuansa baru dalam perayaan kemerdekaan, bertema perjuangan, budaya dan ramah lingkungan.

Arak-arakan dimulai pukul 13.00 WIB dari perempatan Honggoderpo, menyusuri Jalan A. Yani melewati Pasar Induk dan Pasar Raya Rita hingga berakhir di Jalan Merdeka. Para peserta melakukan perfomance di dua tempat.

Perfomance pertama di sebelah Pasar Induk dan aksi kedua di depan Tribun Utama di Jl Merdeka No 1 atau depan Pendopo Bupati. Bupati Afif Nurhidayat dan Wakil Bupati Amir Husein.

Ribuan penonton berjejal di sepanjang rute, memberikan tepuk tangan dan sorak sorai setiap kali rombongan peserta melintas. Penonton tampak ruang gembira saat peserta melakukan perfomance.

Untungnya, cuaca cerah sepanjang siang hingga menjelang magrib membuat jalannya karnaval berlangsung lancar dan meriah. Bahkan peserta terakhir dari Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) sampai menjelang maghrib sampai di lokasi terakhir.

Pesan Positif

blank
Peserta dengan tampilan unik juga mampu menyedot perhatian penonton. Foto : SB/Muharno Zarka

Ketua panitia sekaligus Kepala Diskominfo Wonosobo, Khristiana Dhewi, menjelaskan bahwa peserta karnaval berasal dari OPD, BUMN, BUMD, sekolah, universitas, komunitas masyarakat, kelompok kesenian hingga marching band.

“Mereka tampil dengan tiga tema utama : perjuangan, budaya, dan ramah lingkungan. Masing-masing OPD membawa tema masing-masing. Mereka total dengan penampilan yang cukup unik untuk menarik penonton,” ujarnya.

Yang menarik, sejumlah pejabat juga ikut turun ke jalan. Sekretaris Daerah Kabupaten Wonosobo, One Andang Wardoyo, tampil mengenakan kostum Emblek, kesenian khas Wonosobo yang sarat makna filosofis.

Tak sedikit peserta lain mengenakan busana pejuang, menambah kuat suasana historis perjuangan kemerdekaan di tengah karnaval.

“Karnaval ini bukan sekadar hiburan, tapi juga cara instansi lebih dekat dengan masyarakat. Masyarakat bisa tahu apa saja tugas, fungsi, dan capaian pembangunan dari setiap instansi. Pesan positif banyak ditampilkan lewat kreativitas peserta,” jelas Khristiana.

Tahun ini panitia mengangkat tema besar “Lestari Alamku, Luhur Budayaku, Jaya Indonesia.” Fokus pada isu lingkungan dipilih untuk menegaskan kembali pentingnya budaya bersih di masyarakat.

“Budaya bersih masih kurang, sampah ada di mana-mana. Kalau alamnya lestari, anak cucu kita bisa hidup dengan lebih baik. Di sisi lain, budaya Wonosobo juga harus terus kita junjung tinggi agar tidak kalah oleh budaya luar,” tambah Khristiana.

Karnaval HUT Kemerdekaan RI ke-80 di Wonosobo akhirnya menjadi lebih dari sekadar tontonan. Event tersebut juga menjadi ajang kampanye untuk mencintai budaya lokal, cinta tanah air dan peduli lingkungan.

Karnaval ini menjelma menjadi ruang kebersamaan, refleksi sejarah perjuangan, kampanye lingkungan, sekaligus pesta rakyat yang benar-benar menyatukan masyarakat dengan pemerintah daerah.

Muharno Zarka