Oleh : Septiana Wibowo
Malam itu keindahan gerak gemulai menghibur penonton dengan apik di panggung Sekuro Village Resort Jepara. Para penari tradisional yang terdiri dari usia remaja atau Gen-Z memukau penonton dengan alur cerita apik pada sendratarinya.
Dengan tajuk “Kisah Cinta Rama dan Shinta” mereka saling memainkan peran dengan apik diiringi oleh musik dan gamelan live Sekar Asmoro. Pakaian tradisional dan tata rias yang dipadu padankan dengan baik menambah performa mereka.
Pertunjukan dimulai dengan para dayang yang menemani Shinta menari hingga muncul sepasang kekasih yaitu Rama dan Shinta. Mereka menari bersama menampakkan suasana kerajaan, hingga muncul kijang emas yang dengan lincah kesana kemari menggoda Shinta. Membuat Shinta ingin menangkap dan memilikinya sehingga meminta Rama untuk pergi memburunya.

Suasana tampak keos ketika kijang emas berubah menjadi Buto Cakil sesampainya di tengah hutan, muncul juga para buto yang mana adalah pasukan dari Cakil. Mereka bertempur melawan Rama agar bisa menculik Shinta. Tampak pula Bagong dan Gareng yang merupakan punggawa dari Rama turut serta dalam pertempuran.
Pertempuran yang dipertontonkan antara Rama dan Cakil bukanlah perkelahian melainkan Battle Dance atau berlomba menari. Suasana tidak serta merta menakutkan dan mencekam namun banyak yang mengundang gelak tawa penonton. Karena di sela cerita selalu ada tingkah yang lucu dari para penari Gen-Z ini.

Mereka mengolah cerita tradisional dengan dimodifikasi dan diadaptasi menjadi komedi namun masih tetap menggunakan pakem cerita. Banyak gimmick dan celetukan lucu terutama antara para buto dengan Bagong dan Gareng saat bertempur.
Sebelum sendratari utama, juga ada penampilan dengan tajuk “Dewi Tri Sekti” yang dari ditarikan oleh penari Kartika Wanodya. Ada tiga penari perempuan yang menari dengan gemulai sore itu.

Acara ini digagas oleh Management Sekuro Village Resort yang bekerja sama dengan RUN Event Organizer dan Sanggar tari Mutia Vie ini menghasilkan kolaborasi antar pegiat tari terutama memang para Gen-Z. Menurut Joharta dari Sanggar Tari Mutia Vie, kolaborasi antar para pelaku seni ini menjadi kunci sukses
Leader RUN Management yang akrab disapa Jo ini juga mengungkapkan bahwa dia dan tim sebagai management event bertugas mempersiapkan crew untuk mempersiapkan pentas, jadi pemain bisa fokus dengan penampilan dengan maksimal. Dia menerangkan bahwa untuk urusan teknis memang dibantu tim RUN dan Sanggar Mutia Vie sebagai fasilitator untuk menyediakan Fasilitas untuk proses Latihan.

Sendratari ini bukan sekadar hiburan, melainkan cara untuk menjaga dan menghidupkan kembali warisan budaya yang kita miliki. Saya bersyukur ada banyak Gen-Z yang masih nguri-uri dan bersinergi untuk budaya tradisional,” ujar Teguh selaku Pembina Sanggar Mutia Vie dan Pemusik Gamelan Sekar Asmoro saat ditemui di kesempatan yang berbeda.
Penulis adalah pegiat budaya Jepara













