Oleh JC Tukiman Taruna
TELAAH ini berusaha meninggalkan dan menanggalkan model analisis SWOT, –strengths, weaknesses, opportunities, and threats- ; dan menggantinya dengan telaah model analisis SOAR, –Strengths, Opportunities, Appreciations, and Results– , karena ada dua alasan utama.
Pertama, para penyelenggara pendidikan dasar dan menengah (dikdasmen) pasti sudah sangat jenuh (mungkin juga bosan) memeroleh berbagai masukan dan kritik serba bernada SWOT; dan umumnya fokus analisis ini dititik-beratkan pada berbagai kelemahan/kekurangan berikut ancamannya.
Bagi penerima masukan, sangat boleh jadi lalu lupa terhadap kekuatan dan peluang yang dimilikinya, berhubung ungkapan-ungkapan tentang kelemahan dan ancaman sering terasa sangat tajam melumpuhkan.
Jangankan perseorangan, sebuah instansi/lembaga pun pasti lemas-lunglai, misalnya memeroleh masukan: “Tidak fokus bekerja, banyak maunya.” Apa reaksi spontan atas masukan seperti itu? Pasti membela diri lebih diutamakan daripada memerbaiki diri.
Kedua, sejak kabinet Merah Putih efektif bekerja, penyelenggara(an) dikdasmen dalam kondisi “dikeroyok ramai-ramai” baik oleh Kemeterian Dikdasmen sendiri, maupun oleh Badan Gizi Nasional dengan program makan bergizi gratisnya, dan Kementerian Sosial dengan program Sekolah Rakyatnya.
Belum lagi Kementerian Diktisaintek lewat program Sekolah Unggulan Garudanya. Berbagai program itu kena-mengena terhadap penyelenggaraan dikdasmen, dan hal itu sangat terasa getaran magnitudonya di daerah, yakni provinsi serta kabupaten/kota karena memang anak-anak usia pendidikan dasar dan menengah itu berada di sana.
Pentingya apresiasi
Asumsi dasar SWOT ialah organisasi itu, apa pun organisiasinya, di dalamnya selalu dipandang serba ada masalah, maka analisisnya mengutamakan pencarian solusi atas berbagai masalahnya (problem solving). Penelusuran analitiknya lewat identifikasi persoalan, analisis penyebab, analisis solusi, dan implementasi solusi.
SOAR tidaklah demikian. Asumsi dasar SOAR ialah organisasi itu bagaimana pun harus dilihat sebagai sebuah misteri, atau sekurang-kurangnya selalu terkandung misteri di dalam sebuah organisasi. Karena itu, misteri itu perlu difahami, dan salah satu cara memahami terbaik ialah mengapresiasi. Contoh personal: Dalam diri sang istri, terdapatlah misteri, sama halnya di dalam diri sang suami.
Metode terbaik untuk membangun hidup berkeluarga terbaik, selayaknya saling memahaminya lewat saling mengapresiasi tentang apa saja yang ada/dimiliki. Jika contohnya organisasi, setiap organisasi pasti memiliki kelebihan/kekuatan dan peluang.
Untuk mengapresiasi, baik bagi perseorangan maupun lebih-lebih organisasi, tahapannya mulai dari melihat apa yang ada atau dimiliki, berlanjut dari apa yang ada/dimiliki itu ke apa yang mungkin. Selanjutnya, dilihat bersama apa yang harus, dan apa yang dapat.
Apresiasinya tidak mengada-ada atau pun mencari-cari, karena betul-betul berdasarkan pada apa yang ada, berlanjut ke apa yang mungkin, apa yang harus, dan apa yang dapat dilakukan.
Dewasa ini, kita perlu menyiptakan bersama “iklim mengapresiasi,” mengapa? Dunia kehidupan sehari-hari sudah dipenuhi cemooh, saling menyalahkan, saling mengakui dirinya paling benar, jagoan, dst. Padahal semua orang tahu, betapa tidak enaknya dicemooh, ditunjuk-tunjuk kelemahan/ kesalahannya. Betapa lemah lunglai atau marahnya di-bully habis-habisan sekali pun oleh teman dekat; betapa tersiksanya hati ini jika setiap saat dihadapkan kepada kesalahan atau kelemahan.
Mari kita sudahi iklim semacam itu, kita ganti dengan iklim baru, yakni berani belajar mengapresiasi sekalipun mulai dari hal yang serba sederhana. Sekecil atau sesederhana apa pun sebuah apresiasi, ia akan menghasilkan (results) rasa senang, bangga, berbesar hati, termotivasi, dan perasaan sejenis lainya khususnya bagi penerima apresiasi.
Jempol apresiasi
Mengawali Tahun Ajaran Baru 2025/2026 ini, berbagai lembaga/instansi yang programnya kena-mengena dengan para siswa di dikdasmen, rasanya patut bersyukur. Mengapa? Sejak kabinet Merah Putih kick off sampai dengan akhir tahun ajaran 2024/2025 ini, Anda semua telah berhasil menjalin kolaborasi (koordinasi??) kerja bersama secara proporsional.
Ini catatan sangat penting mengingat selama ini koordinasi (kerja) antar lembaga/instansi apa pun, selalu disebut dengan ungkapan: Gampang terucap, gamang terungkapnya. Para siswa dikdasmen adalah target utama berbagai program Anda, meski pun begitu Anda semua dapat mengatasi bersama pelaksanaan yang potensial dapat tumpang tindhih itu.
Jempol apresiasi kedua terarah kepada Kementerian Dikdasmen dan Kementerian Diktisaintek yang bernyali dan berbesar hati, terutama dalam waktu relatif sangat cepat-singkat, berhasil “mengubah total” nyaris semua kebijakan sebelumnya. Nyalimu luar biasa, dan sudah Anda tunjukkan secara transparan pula, entah perubahan itu berkaitan dengan siswa, sebut misalnya sistem penerimaan siswa baru, kurikulum, beasiswa; entah pula perubahan yang berkaitan dengan ketenagakerjaan, seperti jumlah jam tatap muka, peran pengawas, dsb.
Nyalimu sudah terbukti, tinggal besar hatimu saja yang masih harus dibuktikan, kelak. Kapan? Lima tahun lagi manakala ada pergatian personil menteri: Hendaklah Anda cukup besar hati bila kelak kebijakan-kebijakanmu diganti secara sertamerta dan drastis sebagaimana Anda lakukan saat ini.
Jempol apresiasi ketiga tertuju kepada para penyelenggara dikdasmen di provinsi dan kabupaten/kota. Pastilah mereka mengawali semuanya serba bingung, bertanya-tanya, mungkin saja tertekan, dan pontang-panting karena begitu cepatnya segala sesuatu yang terkait dengan program-program itu baik rancangannya maupun implementasinya.
Semuanya serba cepat, sebuah akselerasi kerja yang selama ini jarang terjadi dalam program apa pun. Kepala daerah semakin banyak yang responsif dan akomodatif atas program-program pusat itu, dan kendati mereka terengah-engah, namun justru di situlah kualitas kepemimpinannya terasah dan semakin teruji.
Jempol apresiasi keempat teracung untuk sejumlah menteri atau kepala badan yang semakin sabar penuh tawakal menerima masukan, koreksi, kritik, dan sejenisnya dari berbagai kalangan, utamanya dari media (sosial). Pada awal-awal program, bawaan Anda marah, tersinggung, atau bahkan mungkin menghindar sedapat mungkin. Namun sekarang, sikap Anda sudah lepas bebas serta lancar dalam menjelaskan berbagai persoalan program.
Acungan jempol-jempol apresiasi sebagaimana terumuskan di atas, rasanya dapat semakin memotivasi di tahun ajaran baru 2025/2026. Lanjutkan kerja cerdas Anda semua, dan jangan lupa senantiasa penuh kegembiraan mengabdi negeri.
Dosen pascasarjana dalam matakuliah Pengembangan Masyarakat (UNS, Surakarta), dan Filsafat Ilmu (SCU, Semarang)













