blank
Daging kurban yang diterima warga, dibungkus menggunakan besek, dibungkus daun jati, dan diikat dengan tali bambu. Foto: dok/mlh

SEMARANG (SUARABARU.ID)– Majelis Lingkungan Hidup (MLH) Pimpinan Pusat Muhammadiyah, menunjukkan keseriusannya dalam menggerakkan ‘Green Qurban’, pada peringatan Idul Adha 2025.

MLH tak hanya sekadar wacana, tetapi langsung menerapkannya dalam praktik nyata di Pati, pada Sabtu (7/6/2025). Tepatnya di Laboratorium Bioreaktor Kapal Selam (BKS), Desa Langse, Kecamatan Margorejo, Kabupaten Pati.

Kegiatan ini juga menjadi bagian dari kampanye memeringati Hari Lingkungan Hidup Sedunia, yang jatuh pada Kamis (5/6/2025), dengan tema global ‘Ending Plastic Pollution’.

BACA JUGA: Mendikdasmen  Apresiasi  Capaian Pendidikan  Jepara

Gerakan ini diluncurkan sehari sebelumnya, atau pada Rabu (4/6/2025), dan langsung disosialisasikan pada publik melalui siaran bincang santai, di JM Radio, milik PWM Jateng bertajuk ‘Green Qurban, Apakah Bisa?’.

Menurut Ketua MLH PP Muhammadiyah, M Azrul Tanjung, Kabupaten Pati dipilih sebagai lokasi percontohan, karena memiliki fasilitas dan sumber daya yang mendukung penerapan zero waste, pada pelaksanaan kurban kali ini.

”Ini bukan sekadar menyembelih hewan kurban, tapi menyempurnakan prosesnya dari hulu ke hilir yakni, halal, higienis, dan ramah lingkungan,” ujarnya, seperti dalam keterangan tertulisnya, Senin (9/6/2025).

BACA JUGA: Kurban Perdana di Badiklat Hukum Jateng, Tumbuhkan Spirit Sosial Kultural Pancasila

Menurut dia, penyembelihan dilakukan Juru Sembelih Halal (Juleha) Muhammadiyah Kabupaten Pati, dengan memperhatikan aspek kesejahteraan hewan. Sapi diistirahatkan selama 24 jam, sebelum disembelih untuk mengurangi stres, dan menghasilkan kualitas daging yang lebih baik.

Proses penyembelihan pun mengikuti syariat Islam, yakni membaca doa (Bismillahirohmanirrohim), memotong kerongkongan (Mari’), saluran napas (Hulqum), serta dua urat nadi utama (Wadajain). Darah dan kotoran hewan langsung ditampung dan dialirkan ke dalam bioreaktor.

”Semua limbah, mulai dari isi usus, sisa pakan hingga darah, masuk ke reaktor biogas, untuk diubah jadi energi dan pupuk. Ini benar-benar bebas pencemaran, bahkan menyumbang solusi energi dan pangan,” jelas Azrul lagi.

BACA JUGA: Diler Sea-Doo Can-Am Dibuka di Pesisir Semarang, Dukung Pengembangan Olahraga dan Wisata Air

Yang menarik, distribusi daging kurban juga tak kalah inovatif. Alih-alih kantong plastik, daging justru dibungkus dengan menggunakan besek (anyaman bambu), daun jati, dan diikat dengan utus (tali bambu).

”Saya senang sekali, bungkusnya pakai daun jati, ramah lingkungan. Dagingnya juga lembut, bersih, dan segar,” ungkap Alaina Shabira, pelajar SMA yang menjadi salah satu penerima manfaat kurban.

Program Green Qurban di Pati, merupakan hasil kolaborasi antara MLH PP Muhammadiyah dan Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH). Selain di Pati, kegiatan serupa juga dilaksanakan di sejumlah wilayah lain, seperti di Banten, Sumatera Utara, NTB, dan Papua Barat Daya.

BACA JUGA: Mendikdasmen Tinjau Pelaksanaan SPMB dan Mural KAIH di SMAN 1 Mayong, Ini Pesannya

Dengan model ini, Muhammadiyah ingin memberi contoh, ibadah kurban bisa dilakukan dengan tetap menjaga bumi.

”Green Qurban bukan hanya soal ibadah, tapi juga tanggung jawab sosial dan ekologis kita sebagai umat beriman. Kami ingin menunjukkan, menjaga lingkungan bisa dimulai dari cara kita berkurban,” pungkas Azrul.

Riyan