
KATA ora itu artinya tidak, sebuah ungkapan penolakan, negasi, bahkan bisa juga berupa penyangkalan, denial; kosok balen, berlawanan.
Namun, ora juga dapat bermakna sebuah keharusan, dapat juga bernada saran atau pun kritik. Berbagai arti itu sangat bergantung kepada kata yang menyertai ora.
Tiga kata ini kait-mengait, yaitu (a) genah, (b) kudu digenahake, dan (c) harus genah-genahan.
Genah
Bacalah genah sebagaimana Anda mengucapkan gerah atau segan, atau lekat; dan arti genah sendiri ada lima. Arti pertama genah ialah prenah (bukan pernah lho), yakni telah mapan pada tempatnya yang tepat. Bagi keluarga, jika salah satu anaknya telah bekerja, apalagi sebagai ASN, komentar orang akan mengatakan: Oooohhh, wis genah, wis prenah nyambut gawene.
Arti keduanya, ialah dunung, yaitu mengerti. Jika beberapa anak generasi Z dikeluhkan kurang dalam hal sopan santunnya; nah……. Itu karena mereka itu durung genah, durung dunung, durung ngerti. Dalam arti dunung inilah salah satu titik lemah sebagian para pembantu tadi.
Durung dunung, belum mengerti tugas dan fungsinya dan sekaligus apa yang harus dikatakan. Ada yang masih bergaya sok tahu, lalu bla….bla…bla ….bli…..bli…..bli…..blup….blup. Ada juga yang masih bergaya politisi tulen.
Arti ketiga genah ialah kanggo utawa dinggo, terpakai atau dimanfaatkan. Dan arti keempat serta kelima sangatlah penting, yaitu genah itu artinya cetha, terang, tetela.
Baca juga Ora Mbejaji
Judul genah yen durung nggenah menegaskan bahwa jelaslah bahwa sejumlah bla…bli….blup itu terjadi karena mereka belum mengerti persis, Cetha wela-wela. Dan itu terkait dengan arti kelima, genah itu tata, ngerti tata(krama). Maka, kalau dikatakan ora atau durung genah, itu maksudnya cetha yen ora/durung ngerti tata, pun tatakrama.
Digenahake
Jadi, kabeh kudu digenahake; maksudnya siapa saja yang durung genah, apalagi ora genah, perlu didunungake, perlu ditunjukkan secara rinci etikanya sebagai pejabat, kalau di aitu pejabat; termasuk moralitasnya sebagai pribadi. Jelasnya, sing durung nggenah, kudu digawe genah; mereka yang ternyata belum tahu persis tupoksinya, harus diberi tahu secara rinci. Apa bener laut kok bisa duwe HGB artinya dimiliki perseorangan, misalnya. Kalau memang benar, hati-hati…… nanti angkasa kita bisa juga dikapling-kapling.
Dalam konteks digenahake ini, lebih-lebih bagi mereka yang ora genah; perlu fase yang disebut genah-genahan. Maksudnya, ialah perlu satu dengan lainnya saling terang-terangan lan padha dene mratelakake. Inilah makna koordinasi, yakni saling menjelaskan tupoksi, contohnya, dan sekaligus membangun sinergi.
Kabeh kudu cetha, genah, dan jangan ora genah; artinya semua harus jelas dan dijelaskan; sehingga sing ora nggenah dadi genah; yang semula bla…bli…blup menjadi semakin tertata baik. Siapa saja sing ora genah banjur dadi genah.
Jual air sungai
Seorang pengkhotbah terkenal, biasanya berkotbah panjang lebar dan ditunggu-tunggu pendengarnya. Tetapi kali ini, ia hanya berkhotbah satu kalimat saja, demikian: “Satu-satunya yang aku kerjakan di sini, hanyalah duduk di pinggir sungai, berjualan air sungai.” Orang-orang menunggu dan menunggu, tetapi tidak ada lanjutan khotbahnya. Orang mulai gelisah, dan satu per satu pergi pulang karena tidak ada tanda-tanda berlanjut.
Ketika jumlah orang semakin sedikit, seseorang memberanikan bertanya, apa maksud khotbah singkat itu. Pengkhotbah menjawab: Jualan air sungai di warung itu laris manis, karena orang tidak melihat sungai di belakang warung. Jika melihatnya, apalagi tahu bahwa yang dijual adalah air sungai itu, pasti pembeli akan semakin berkurang. (A de Mello.1984)
Mereka sing ora nggenah adalah seumpama penjual air sungai itu; dibeli oleh orang-orang yang tidak tahu atau tidak melihat sungai di balik jualannya itu. Karena itu, hai orang-orang yang ora dunung, ora genah; orang-orang yang ora/durung ngerti, berhentilah jualan air sungaimu.
JC Tukiman Tarunasayoga, pengajar Pengembangan Masyarakat di Pascasarjana UNS Surakarta dan SCU Semarang.













