WONOSOBO(SUARABARU.ID)-Proses penyembelihan hewan qurban melibatkan banyak orang. Pelibatan banyak warga tersebut karena biasanya sapi dan kambing qurban yang disembelih juga cukup banyak.
Di Masjid Baitul Mujahidin Perum Purnamandala Bumireso Wonosobo, yang menyembelih 7 sapi dan 17 kambing qurban, Sabtu (7/6/2025), pun musti melibatkan banyak warga setempat.
Ada pasukan penyembelih, ada tenaga kelet kulit, pencacah daging, pemotong tulang, pembakar kikil dan kepala, pembagi daging serta pembersih jeroan.
Di antara sekian banyak petugas, pasukan pencuci jeroan termasuk yang paling “berat” dan “susah”. Mengapa? Karena harus bergumul dengan bau kotoran hewan dan berjibaku dengan dinginnya air untuk mencuci kotoran.
Pasukan pencuci jeroan pada PHBI Idul Adha Takmir Masjid Baitul Mujahidin Perum Purnamandala terdiri dari 5 orang. Mereka ada dari pelajar milenial, unsur pemuda dan orang tua.
Pasukan yang sudah “bertempur” tiap tahun pada hari raya qurban itu adalah Yudi Riyan (guru SDN), Gilang (Kernet Bus Pariwisata), Rafael Mabrur Ibrahim (pelajar SMP), Marsudiono (pensiunan ASN) dan Mursodo (agen bus antarkota).
Mereka termasuk tenaga yang sudah cukup terampil dan terlatih, karena tiap tahun selalu didapuk untuk mencuci jeroan hewan qurban. Karena peran mereka jeroan tempat kotoran hewan pun jadi bersih dan bisa dimasak.
Dengan cekatan kelima orang tersebut mampu merampungkan pembersihan 7 jeroan sapi dan 17 jeroan kambing dalam waktu hanya setengah hari. Selama proses pembersihan tidak ada waktu jeda agar kotoran hewan tidak lama mempel di jeroan.
Aksi mereka biasanya dimulai sejak jam 08.00 begitu hewan qurban mulai disembelih hingga pukul 13.00 WIB sudah selesai. Hebatnya, jeroan yang dicuci bersih dan tetap utuh tak ada satupun yang rusak atau mritili.
Sudah Biasa
Ada yang bertugas membedah jeroan dan membuang kotoran, ada yang mlirit usus dan ada yang mengucurkan air kran agar jeroan dan usus bersih dari kotoran (tlepong atau mendil) yang tersisa.
Tempat untuk mencuci jeroan di kebun milik salah satu warga pun telah didesain secara khusus. Di bawah ada lubang sumur untuk membuang kotoran. Di atasnya ada tempat atau penyaring usus. Air dikucurkan dari kran yang mengatur deras.
Lokasi untuk mencuci jeroan juga tak jauh dari tempat penyembelihan dan kelet kulit sapi atau kambing. Begitu kelet selesai, jeroan langsung diangkut menggunakan angkong ke tempat pembersihan.
Guna menjaga kebersihan, pasukan pembersih jeroan melengkapi diri dengan kostum khusus. Seperti alat pelindung diri (APD) serupa mantol hujan berwarna putih, kaos tangan, topi, masker dan sepatu boat.
Tak jarang, meski sudah menggunakan kostum khusus, kotoran jeroan sapi atau kambing masih menciprat ke wajah. Saking lamanya, bergelut dengan air jari tangan mereka pun sampai tampak memutih karena kedinginan dan terlalu lama terkena air.
Koordinator Pembersihan Jeroan Hewan Qurban, Marsudiono mengaku meski berat tapi dia dan pasukannya tetap enjoy dalam melaksanakan tugas mulianya itu. Yang penting pekerjaan selesai dan jeroan yang dibersihkan steril dari kotoran.
“Kami mau menjadi juru cuci jeroan hewan qurban karena “suka memang suka”. Dulu, malah nyuci jeroannya di kali yang tempatnya jauh dan medannya cukup sulit. Kini sudah sangat mudah karena ada tempat khusus dan dekat dengan lokasi penyembelihan,” aku dia.
Proses pembersihan jeroan bisa selesai cepat, lanjut Marsudi, karena memang sudah kulina. Sesuatu yang sudah biasa dilakukan akhirnya bisa. Pihaknya pun tidak akan meninggalkan prosesi itu selama masih bisa.
Tidak ada ilmu khusus. Semua dipelajari secara otodidak. Alhamdulillah, semua bisa karena sudah terbiasa. Ke depan kami akan mengajak lebih banyak lagi anak-anak muda untuk ikut membersihkan jeroan biar ada regenerasi. Nanti yang muda yang gantian tandang,” tegasnya.
Muharno Zarka













