blank
Kesedihan kapten tim MU, Bruno Fernandes, usai gagal meraih trofi Liga Europa. Foto: dok/manutd

blankOleh: Amir Machmud NS

// begitulah siklus bicara/ kadang dia menegaskan/ tentang kelengkapan keterpurukan/ meluruhkan harapan/ di titik mana harus berada…//
(Sajak “Keterpurukan MU”, 2025)

RUBEN Amorim dan Manchester United sedang berakrab-akrab dengan pusaran nasib. Siklus yang tak bersahabat, memosisikan keduanya di wilayah penuh muram.

Amorim gagal mengubah performa MU di tengah musim 2024-2025. Manchester Merah terpuruk ke kondisi terburuk. Muram di semua ajang, dilengkapi kegagalan meraih trofi Liga Europa.

MU kalah 0-1 dari Tottenham Hotspur dalam laga pamungkas di Stadion San Mames, Bilbao, Kamis dihinari WIB (22 Mei) lalu. Padahal, itulah yang diincar sebagai ajang terakhir pemberi gelar penawar kondisi.

Statistik tiga pertemuan sebelumnya melawan Son Heung-min dkk ditutup dengan kekalahan keempat. MU cukup mendominasi permainan, namun tak mampu membobol gawang Spurs.

Dan, inikah periode paling buruk Setan Merah, yang untungnya masih bisa selamat dari ancaman degradasi? Menghuni klasemen di urutan ke-16 dengan poin terendah dalam sejarah Liga Primer, jelas menjadi petaka bagi klub dengan reputasi sebesar MU.

Renovasi Tim
Simaklah analisis Ralf Rangnick, pelatih yang menangani MU pada musim 2021-2022. Dia pernah menyatakan, klub ini butuh “bedah jantung” untuk membongkar penyakitnya.

Dari 2013, sejak Sir Alex Ferguson pensiun, pelatih silih berganti datang, tetapi semuanya gagal memperbaiki performa MU. Dari David Moyes, Ryan Giggs (karteker) Louis van Gaal, Jose Mourinho, Ole Gunnar Solskjaer, Michael Carrick (karteker), Ralf Rangnick, Erik Ten Hag, Ruud van Nistelrooy (karteker), dan terakhir Ruben Amorim yang didatangkan di tengah musim sekarang.

Terapi “bedah jantung”, apakah yang sudah dilakukan?

Dengan manajemen baru Sir Jim Ratcliffe yang mengambil alih klub dari kekuarga Glazer? Dengan mendatangkan sejumlah pemain baru sebagai penyegaran yang cukup masif? Lalu atmosfer apa yang sudah dihadirkan?

Rasanya belum ada penyegaran permainan yang dirasakan.

Analisis Rangnick diperkuat oleh penilaian dua legenda Inggris, Alan Shearer dan Micah Richards. Keduanya berpendapat, persoalan MU bukan pada kualitas pemainnya, tetapi pada sistemnya (bola.net, 22 Mei 2025).

Bagi keduanya, kekalahan MU di final Liga Europa bukan sekadar tamparan, melainkan isyarat perlunya perubahan drastis. Shearer dan Richards menilai, MU butuh perombakan tim secara menyeluruh.

Pelatih yang didatangkan dari Sporting CP, Ruben Amorim yang diharapkan membawa angin segar, justru terlihat bingung dengan sistemnya sendiri. Kekalahan dari Tottenham Hotspur di Liga Europa makin menegaskan kondisi MU saat ini.

Langkah MU dinilai masih setengah hati dalam rencana transfer musim panas nanti, termasuk pembelian Matheus Cunha senilai 62,5 juta poundsterling dari Wolverhampton Wanderers. Menurut Shearer, masalah MU jauh lebih kompleks dari sekadar membeli striker baru.

Mantan penyerang top Inggris itu menilai, MU perlu membangun ulang tim dari dasar. “Mereka butuh kiper baru karena yang ada sekarang tak cukup meyakinkan, plus bek tengah yang lebih solid,” ujarnya di podcast The Rest is Football. “Kreativitas MU mandek di lini tengah. Mereka juga butuh striker top”.

Micah Richards secara khusus menyoroti bek sayap. Menurut dia, Diogo Dalot tampil tidak konsisten. MU butuh bek dengan crossing akurat. Bek yang ada sering salah waktu dalam mengirim bola.

Dia melihat, sistem Ruben Amorim justru menjadi bumerang. Rasmus Hojlund sering kekurangan layanan umpan, sementara Bruno Fernandes terlihat bekerja keras sendirian. Bagi Richards, ini bukan masalah kualitas pemain, tetapi sistem yang justru membatasi potensi mereka.

Dia ragu MU bisa menarik pemain top musim panas ini. Masalahnya lebih serius daripada hanya sekali kekalahan di final Liga Europa. Dengan gaya bermain seperti sekarang, pemain bintang pasti berpikir dua kali sebelum bergabung.

Dipertahankan
Manajemen MU akhirnya mempertahankan Ruben Amorim walaupun Pasukan Old Trafford mengakhiri musim tanpa satu pun trofi. Sejauh ini manajemen tidak berencana memecat pelatih asal Portugal tersebut. Amorim diyakini sebagai sosok yang tepat, terlepas dari performa MU belakangan ini. Dia tetap dipercaya bisa mengembalikan klub ke kesuksesan.

Jika punya cukup waktu persiapan di pra-musim, Amorim diyakini bisa menerapkan filosofi permainan yang diinginkan. Tentu dengan mendatangkan pemain yang bisa beradaptasi dengan kebutuhan taktiknya.

Kegagalan MU di final Liga Europa, pada sisi lain, berefek ke finansial klub. Pemasukan mereka dipastikan akan berkurang signifikan. Akibatnya, anggaraan transfer untuk kebutuhan Amorim bakal terpengaruh.

Padahal, seperti disampaikan oleh legenda MU Rio Ferdinand, Amorim harus diberi kesempatan membangun skema sesuai visi taktik dan identitas tim. Dan, itu harus didukung di bursa transfer.

“Anda tidak bisa merekrut seorang manajer tanpa memberinya kesempatan untuk merombak skuad dan mendatangkan pemain yang cocok dengan filosofi permainannya,” ungkap mantan kapten MU itu.

Dia menilai, cara bermain dalam filosofi Amorim sangat berbeda dibandingkan dengan manajer sebelumnya, baik dari segi formasi maupun apa yang diinginkannya dari pemain. Dia bukan tipe pelatih yang hanya melakukan sedikit penyesuaian.

Sudah begitu banyak perubahan yang bergulir dari pelatih ke pelatih sejak era Alex Ferguson. Perombakan tim juga banyak dilakukan. Ruben Amorim adalah eksperimen terakhir untuk merenovasi Setan Merah. Dinamika perjalanan Amorim berbeda dari Arne Slot yang menggantikan Juergen Klopp di Liverpool, yang boleh dibilang langsung “nyetel” dan tidak menghadapi problem sekompleks MU.

Di Sporting CP, Ruben Amorim yang dijuluki “Sang Penyair” sukses menerapkan filosofi dan membangun identitas permainan. Lalu, apakah fans MU bisa mengharap perbaikan pada musim 2025-2026?

Artinya, apakah siklus balik MU — dengan berbagai syarat manajerialnya — bisa berlangsung pada musim depan?

Amir Machmud NS, wartawan Suarabaru.Id dan Ketua PWI Provinsi Jawa Tengah