blank
Ilustrasi guru mengajar.(Foto:SB/Pixabay.com)

𝑢𝒍𝒆𝒉 Β π’€π’–π’…π’Š π‘Ίπ’–π’”π’†π’•π’šπ’ Β S𝑷𝒅  𝑴𝑻

blank
Yudi Susetyo SPd MT.(Foto:SB/YS)

Di tengah gelombang revolusi digital dan kemajuan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI), banyak profesi mengalami disrupsi. Namun, di antara semua itu, profesi guru, dosen serta Β dokter tetap berdiri sebagai fondasi peradaban manusia yang sulit tergantikan.

Seorang dokter bukan hanya mendiagnosis penyakit. Namun ia juga menyentuh aspek paling manusiawi dari pasien: rasa aman, harapan, dan empati.

Terlebih dalam tindakan medis seperti operasi, proses melahirkan, pemeriksaan fisik, atau penanganan darurat, AI hanya mampu menjadi asisten text book, bukan pelaksana utama. Ketepatan tangan, intuisi klinis, dan keputusan etis tetap berada di tangan manusia.

Begitu pula dengan profesi guru dan dosen. Apalagi di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) atau di Fakultas Teknik. Pendidikan kejuruan dan teknik menuntut keterampilan fisik, praktik langsung, dan penanaman budaya kerja, hal-hal yang tidak bisa diajarkan lewat layar atau algoritma semata. Guru SMK dan Dosen berperan sebagai pembimbing, pelatih, sekaligus teladan kerja keras, peran yang jauh melampaui sekadar pemberi materi.

Lebih dari itu, guru dan dosen juga dihadapkan pada tantangan mendidik siswa atau mahasiswa yang mengalami kesulitan belajar. Ini tidak bisa diselesaikan hanya dengan data atau rumus. Dibutuhkan kepekaan, intuisi, serta pendekatan psikologis yang manusiawi. Pendeknya, butuh kedalaman perasaanΒ  dan sentuhan hati seorang pendidik sekaligus pengajar.

Setiap anak didik adalah dunia yang unik, dan hanya hati nurani seorang guru atau dosen yang mampu menjangkaunya. AI bisa saja menggantikan secara fisik saat guru dan dosen mengajar. Namun AI tidak mampu memberi sentuhan perasaan dan hati.

Dengah kata lain, fungsi utama guru atau dosen bukan hanya mengajar, tetapi menciptakan stimulus dan motivasi yang mampu mengubah sikap dan semangat belajar peserta didik. Dalam proses itu, guru atau dosen menjadi tokoh sentral yang diteladani dan diidolakan oleh siswa atau mahasiswanya. Ia sumber inspirasi yang menanamkan nilai, harapan, dan arah masa depan.

Kecerdasan buatan memang alat bantu luar biasa, tetapi tidak memiliki hati, empati, dan kebijaksanaan yang tumbuh dari pengalaman hidup. AI hanya copilot, pilotnya ada guru, dosen, dan dokter. Maka, mari kita perkuat dan hargai peran guru atau dosen dan dokter, dua profesi yang tak hanya mendidik dan menyembuhkan, tetapi juga menjaga nyawa dan masa depan bangsa.

Penulis pengamat pendidikan, bekerja pada perusahaan konstruksi di Gombong, Kebumen.