blank
Ketua Gapoktan Margo Rukun, Bengkal, Kranggan, Temanggung memberikan penjelasan tentang "Tornado Boost" alat pembuat nitrobakter. Foto: R. Widiyartono

TEMANGGUNG (SUARABARU.ID) – Bumi makin tua, kualitas lingkungan makin jauh menurun. Air yang menjadi kebutuhan utama kehidupan sudah makin berkurang, baik kapasitas maupun kualitasnya. Tanah yang yang menjadi tempat tumbuhnya aneka jenis tumbuhan juga demikian. Lahan pertanian makin berkurang untuk Kawasan permukiman dan industri.

Tak pelak pula, hutan yang fungsinya sebagai pelindung, penyimpan air, dan fungsi lainnya makin menyusut. Maka wajar kalau bencana lingkungan sering terjadi. Setelah kekeringan kemudian banjir, longsor. Tanah pertanian pun makin sulit untuk memberikan hasil yang memuaskan.

Kondisi semacam ini menuntut manusia harus berkrasi, melakukan inovasi. Tanah yang sudah tercemar, kesuburannya menurun, memerlukan penanganan dengan menggunakan teknologi. Tidak harus teknologi tinggi, tetapi teknologi yang gampang diterapkan, dan dilakukan oleh orang-orang yang mau melakukan perubahan untuk perbaikan.

Itulah yang dilakukan oleh warga Desa Bengkal, Kecamatan Kranggan, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Gapoktan (Gabungan Kelompok Tani) Margo Rukun di Desa Bengkal mulai beralhir dari budi daya pertanian biasa ke budi daya penanaman pagi organik.

Gapoktan Magro Rukun Bengkal ini, oleh Dinas Perumahan Rakyat, Kawasan Permukiman, dan Lingkungan Hidup Kabupaten Temanggung diusulkan untuk mencgusulkannya sebagai calon penerima Penghargaan Kalpataru kategori Penyelamat Lingkungan tingkat Jawa Tengah

blank
Tim verifikasi lapangan Prof Hartuti Purnaweni dan Nini Damiati menggali apa saja yang sudah dikerjakan Gapokta Margo Rukung dari Isrofi. Foto: R. Widiyartono

Tim dari Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Jawa Tengah menurunkan tim juri yang terdiri atas Prof Dr Hartuti Purnaweni (guru besar Ilmu Administrasi Publik FISIP Undip), Ninik Damiati dari DLHK Provinsi Jateng, R. Widiyartono (wartawan dari PWI Jateng/Pemimpin Redaksi SuaraBaru.Id), untuk melakukan verfikasi di lapangan.

“Petani mulai menanam padi secara organik karena prihatin, tanah pertaniannya mengalami penurunan kualitas secara terus-menerus dan dampaknya menurunnya produksi,” kata Prasodjo SAg, MM, Kepala Dinas Perumahan Rakyat, Kawasan Permukiman, dan Lingkungan Hidup Kabupaten Temanggung.

Warga pun punya keinginan mengembalikan kesuburan tanah untuk kembali meningkatnya produksi pertanian mereka. Salah satu warga, Isrofi, memengikuti pelatihan pembuatan penyubur tanah dengan menggunakan nitrobakter. Isrofi yang semula hanya pengemudi angkutan umum ini kemudian serius mengembangkan pengetahuan yang didapat.