blank
Bram, pemuda asal Wonogiri yang turut mengembangkan dan memasarkan produk Gapoktan Sido Rukun memberikan penjelasan pada tim. Foto: R. Widiyartono

“Karena bakteri itu berkembang dengan cara membelah diri, maka kami tambahkan alat agar cairan di dalam drum bergerak, sehingga memicu pembelahan diri bakteri, dan mempercepat prosesnya,” kata Isrofi yang lulusan SMA jurusan IPS ini.

Inovasi peralatan yang mereka buat itu disebut tornado boost. “Dengan tornado boost ini proses bisa berlangsung hanya dalamw aktu tiga hari saja, sedangkan bila dengan cara konvensional membutuhkan waktu sampai tiga minggu,” kata dia.

Dengan keberhasilannya membuat nitrobakter dan membuktikan hasilnya lewat lahan yang ditanami, maka banyak yang datang untuk belajar di Gapoktan Margo Rukun, Bengkal ini. Mereka yang datang dari Klaten, Blitar, dan Jombang ini kemudian mengadopsi apa yang sudah dilakukan oleh Margo Rukun.

Bahkan alat tornado boost yang mereka buat pun dibeli. “Sehingga kami kemudian memproduksi lagi alat-alat tersebut, karena meski mereka belajar cara pembuatan di sini, lebih memilih beli alat yang sudah jadi,” kata Isrofi.

Karena pupuk nitrobakter ini fungsinya mengembalikan kesuburan tanah, maka tidak hanya dimanfaatkan untukmlahan padi. Isrofi bersama anak dan teman anaknya yang studi di Politeknik Pembangunan Pertanian (Yogyakarta) juga mengembangkan tanaman pepaya Hawaii. “Pasarnya sudah pasti, kami kontrak penjualan, dan selama kontrak harga flat,” ujar Bram, lulusan Politeknik Pembangunan Pertanian yang rela bergabung di sini meski asalnya Wonogiri.

Alat tornado boost karya mereka dijual dengan harga Rp 1.200.000 per unit, kemudian lahan padi seluas sekitar 20 hektar menghasilkan 7 sampai 8 ton per hektarnya. “Kami menjual beras organik untuk varietas menthik wangi Rp 18.000 per kilogram, untuk IR 64 Rp 15 ribu per kilogram. Belum lagi hasil dari papaya Hawaii. Setidaknya perekonomian petani menjadi makin baik dan meningkat,” kata Isorfi.

Apa yang sudah dilakukan Gapoktan Margo Rukun ini, yang pasti telah membantu menyelamatkan lingkungan. Tanah yang semula sudah jenuh dan kesuburannya menurun akibat pemakaian pupuk kimia, kini sudah berubah menjadi subur kembali, dan menghasilkan produk  lebih banyak dan sehat.

Bukan hanya lingkungan yang terjaga, tetapi perekonomian warga pun meningkat. Terlebih lagi bila kelak desa mengembangkannya sebagai desa wisata edukasi pertanian, tentu akan berdampak lebih luas. Mereka yang datang bisa belajar mengenai penyelamatan lingkungan, dan kedatangan mereka memberikan dampak ekonomi bagi warga.

R. Widiyartono