
Dia pun mulai membuat nitrobakter dengan menyediakan peralatan yang dibutuhkan seperti drum plastik, pipa-pipa PVC, dan peralatan lainnya. Tentu saja melalui trial and error proses yang dijalani, sampai akhirnya kemudian berhasil memproduksi nitrobakter.
“Semula untuk kebutuhan sendiri, tetapi makin banyak yang datang ke sini, bahkan ada yang kemudian meniru hal yang serupa. Kami juga membuat alat pembuat nitrobakter, dan alat ini juga dibeli oleh tamu yang belajar ke sini,” ujar Isrofi.
Menebar Pupuk Kandang
Slamet Riyanto, anggota kelompok tani yang tergabung dalam Gapoktan Margo Rukun menuturkan, kelompoknya memulai budi daya padi organik sejak tahun 2007. sebelum menggunakan nitrobakter, dia menggunakan pupuk kendang untuk memupuk sawahnya.
Dia dan teman-temannya merasa prihatin karena kualitas tanah yang makin menurun akibat penggunaan pupuk kimia. Kualitas tanah yang menurun berakibat pada penurunan produksi pertanian mereka. Kami ingin mengembalikan kesuburan tanah serta menjaga keseimbangan lingkungan,” kata Slamet.
Pada mulanya mereka menggunakan pupuk kendang. “Kami butuh 35 karung pupuk kandang dan ditebarkan di areal sawah. Sekarang dengan adanya nitrobakter, kebutuhan pupuk bisa lebih gampang, dan caranya mudah,” kata Slamet Riyanto.
Slamet Riyanto juga menuturkan, mengawali menanam padi organik, diawali perkenalannya dengan seorang Tionghoa. Kemudian orang tersebut juga memfasilitasi untuk penanaman padi organik.
“Dia membawa teman orang Dayak, yang untuk mengetes beras organik. Orang Dayak itu bisa membedakan mana nasi organik dan yang bukan hanya dengan merasakan. Dan, orang Dayak itu memastikan produk kami organik,” kata Slamet.
Namun kini produk beras dari Gapoktan Margo Rukun sudah dinyatakan organik setelah memenuhi berbagai persyaratan yang ditentukan.
Harga Lebih Tinggi
Isrofi, yang kini menjadi Ketua Gapoktan Margo Rukun menuturkan, pemilihan menanam padi organic benar-benar meningkatkan pendapatan petani. “Harga jual gabah lebih tinggi dibandingkan padi nonorganik. Pengeluaran untuk kebutuhan sarana produksi padi juga menurun karena kami menggunakan nitrobakter produksi sendiri,” kata Isrofi.
Beras organik produksinya dijual jauh lebih tinggi dari beras nonorganik. “Jadi kalau ada isu beras impor, produksi beras organik kami tidak terpengaruh, karena harganya tinggi dan pasarnya sudah pasti,” ujar Isrofi.
Dia pun menuturkan bagaimana proses hingga berkenalan dengan nitrobakter ini. Pada mulanya Isrofi hanya sopir angkutan umum, yang biasa membawa penumpang. Dia sering membawa rombongan orang-rang yang mendapat pelatihan di Bapeltan Jateng yang ada di Soropadan.
Sembari menunggu pelatihan selesai dan Kembali mengantar pulang para peserta, Isrofi “nguping” di luar ruang pelatihan. Dia mendengarkan dan mencermati bagaimana cara membuat nitrobakter yang bisa Kembali menyuburkan tanah.

“Kemudian saya tanya apakah boleh ikut pelatihan ini. Dan ternyata diperkenankan, sehingga akhirnya kami bisa memproduksi nitrobakter, membuat alat-alat pembuatan, dan labratorium mini,” kata Isrofi.
Menurutnya, pada awal kegiatan, lahan yang digarap secara organik ini hanya seluas 2 hektar, karena hanya beberapa orang yang mau. “Mereka masih menganggap budi daya secara organik memberatkan. Namun seiring dengan berjalannya waktu, kini dengan 30 anggta sudah berhasil menggarap 20 hektar,” ujar Isrofi.
Produksi Nitrobakter
Produksi nitrobakter Gapoktan Margo Rukun makin besar, dan menurut Isrofi, dibutuhkan inovas-inovasi untuk efektivitas produksinya. Maka dia pun mengembangkan peralatan untuk pembuatan nitrobakter ini.













