PERNAH Anda kapusan, tertipu? Pasti pernah. Pernahkah Anda ngapusi, menipu? Pasti pernah. Pertanyaan terakhir dalam konteks ini: Pernahkah Anda berbuat apus-apus, yakni sengaja merancang untuk menipu? Ayoooooo, tidak usah malu-malu jawab saja sejujurnya.
Wahhhhhh…………jebul akeh sing ngacung, banyak yang tunjuk jari mengaku betapa dalam hidupnya pernahlah sesekali atau bahkan beberapa kali merancang secara cermat untuk menipu, bertindak apus-apus.
Siapa saja yang tunjuk jari mengaku jujur itu? Banyak pihak, dan rata-rata mereka yang sudah “pensiun” atau sekurang-kurangnya mereka yang sudah tidak terikat lagi dalam suatu jabatan atau kedudukan. Mengakui diri bahwa biyen asring apus-apus, rasanya lebih baik untuk meringankan dosa katimbang seumur hidup menyimpan rahasia karena pernah secara sengaja berbuat apus-apus.
Tindak apus-apus, penipuan secara terencana, apa pun wujudnya, pasti tergolong “dosa besar/berat.” Di antara berbagai wujud apus-apus tergolong dosa berat itu, ialah mbangun tandha.
Bangun lan mbangun
Kata bangun dalam bahasa Jawa maknanya hampir mirip dengan dalam bahasa Indonesia, yaitu tangi, bangkit; juga berarti gumregah. Sedikit berbeda, bangun dalam kosakata Jawa juga berarti pagi-pagi benar. Contoh kalimatnya: Ing wayah bangun, jago padha kluruk; ayam jantan berkokok di pagi-pagi buta.
Baca juga Taktik Cari Muka: Gupuh
Kata kerja mbangun menjadi semakin mudah terpahami ketika dipasangkan dengan kata tertentu, seperti misalnya mbangun miturut , tunduk, taat aturan. Atau contoh lainnya mbangun tresna, memadu kasih; mbangun ningkah, membaharui janji perkawinan.
Mbangun tandha
Apa itu mbangun tandha yang di atas tadi disebut-sebut tergolong dosa besar/berat? Ada dua arti mbangun tandha, pertama, tindak apus-apus dengan cara ngowahi perjanjian, mengubah perjanjian secara sepihak.













