blank

blank

SUARABARU.ID : Rinten dikenal sebagai gadis cerdas, baik hati, dan pemberani. Dia tidak seperti teman-teman seusianya. Kalau yang lain setelah tamat madrasah kemudian patuh pada nasehat umi dan abinya menerima pinangan anak juragan beras atau mandor perkebunan tebu, Rinten tidak demikian. Dia memilih melanjutkan sekolah, dan bahkan hingga ke luar negeri. Dia lulus dan berhak menyandang gelar di depan namanya. Namun yakin bahwa gelar yang diperoleh membuat repot orang saat memanggil dirinya, maka Rinten memutuskan untuk menyembunyikan dari namanya.

Rinten tetap sebagai gadis desa. Cara bicaranya tetap ceplas ceplos, tak berusaha dihias dengan gimik sebagai gadis lulusan sekolah tinggi atau attribute lain yang membuatnya nampak lebih alim. Dia bahkan tidak berkerudung, meski dikenal sebagai putri seorang guru ngaji. Rinten tetap Rinten seorang gadis desa. Yang membuat dia beda adalah rasa pedulinya pada orang lain yang sedang butuh perhatian.

Cholis tidak pernah lupa saat dirinya dibantu menghapus identitas “ET” (Eks Terlarang)  di KTP (Kartu Tanda Pendududuk) miliknya. Dengan hilangnya dua huruf di KTP nya itu anaknya , Mulyadi, bisa didaftarkan jadi tentara. Impiannya terkabul, Mulyadi kini berpangkat Kopral Kepala. “Apa yang dibicarakan saya tidak tahu, namun Pak Lurah dibuat gelagapan saat berbedbat dengan Rinten. Matur nuwun Gusti, lemah teles Mbak Rinten, Mulyadi sekarang bisa punya pangkat.”, kenang Cholis lirih.

Keberhasilan Mulyadi karena pertolongan Rinten menjadi kembang lambe penduduk desa. Rinten, meski tetap bersahaja, menjadi idola karena keberaniannya. Sejak keberhasilan Cholis terbebas dari sandera KTP ber “ET” Rinten  menjadi jujukan (tempat mengadu) penduduk desa. Berita santer keberanian dan kehebatan Rinten menginspirasi banyak pemuda desa. Karena itu pula Zain, Pardi, dan Muchlis dari desa tetangga pengin bertemu Rinten. Sebutan sebagai mahasiswa mereka khawatirkan kehilangan gengsi saat batok kepalanya tidak terisi dengan isu-isu (yang dianggap) “besar”.

“Assalamu’alaikum Mbak Rinten”, salam Zain mewakili ketiga temannya. Dibanding kedua temannya Zain memang terlihat lebih sareh, oleh karenanya wajar ketika dipercaya membuka percakapan.

“Mbak Rinten kami ber tiga pengin berdiskusi dengan Mbak Rinten. Saya prihatin dengan disahkannya Revisi Undang-Undang Tentara; revisi undang-undang tersebut merupakan pengkhianatan terhadap amanat reformasi. Bukankah penugasan tentara di ranah sipil berarti menggoda tentara untuk menjalankan dwi fungsi peran?” Lanjut Pardi, “Kekhawatiran kami semakin membesar tatkala Revisi UU Tentara tersebut akan dilanjutkan dengan Revisi Undang-Undang Polisi. Untuk menjadi professional polisi membutuhkan pengawasan intensif, bukan perluasan kewenangan sebagaimana gagasan yang tertuang dalam draft. Dan pula besar keyakinan kami, andai kita biarkan penguasa main bongkar Undang-Undang, besar kemungkinan mereka juga akan membongkar UU Kejaksaan, dan UU Pers. Tamatlah kita!”

Tak sabar menunggu giliran, Muchlis menyela, “Apa kabar dengan tuntunan kami agar negara  mengusut dugaan pelanggaran hukum yang dilakukan mantan presiden?”. Mendengar pertanyaan yang dilontarkan Muchlisin, Rinten terlihat gusar. Melihat keganjilan respon dari tokoh idola yang ada di depannya, Zain menyenggol kedua temannya, “ Mas Pardi dan Mas Muchlis, kita beri kesempatan Mbak Rinten untuk menaggapi; silahkan Mbak Rinten.”

Satu, dua, tiga menit menunggu, tidak satu patah katapun terdengar keluar dari mulut Rinten. Ketiganya justru melihat komat-kamit mulut tak terkontrol, tangan dan jemari tremor, serta pandangan matanya bergerak liar bak melihat hantu mengerikan. “Sa ..sa …sasa…ya ….. Jangan …aku..aku …” Rinten berlari masuk ke kamarnya.

Zain dan kedua temannya hanya bisa saling melempar pandang; tidak mempercayai apa yang mereka lihat. Lama mereka menunggu, namun Rinten tak kunjung keluar. Seorang ibu sepuh muncul dari gandhok, mencoba menjelaskan apa terjadi pada diri anaknya.

“Nak, maafkan anakku Rinten. Kami juga mengkhawatirkan kondisinya. Tiga hari lalu dia duduk di bawah pohon ringin itu.” Tangan ibu tua itu menunjuk pohon beringin yang bergerak melambai ditiup angin. “Rupanya Wewe (makhluk halus) penunggunya menggoda Rinten. Sejak diganggu sore itu Rinten jadi aneh.

Zain memotong, “Aneh bagaimana Bu?”

“Dia seperti mengalami ketakutan dan kalau bicara gagap”.

“Bukankah Wewe hanya mengganggu anak kecil nakal yang suka keluyuran malam.”

“”Entahlah Nak, sepertinya sekarang juga mengganggu remaja yang suka bicara politik; jadi berhati-hatilah.”

Zain bertanya memotong, “Saat dibawah pohon beringin Rinten sendirian atau ada temannya?”

“Oh Rinten bersama dua orang tamunya.”

“Siapa mereka?”

“Tidak tahu Nak, mereka bapak-bapak berbadan tegap dan berambut cepak”.

“Haaahh…”

——————————————————————-

Kisah diatas tentu fiktif. Karakter dan plot ceritanya juga sepenuhnya rekaan. Penulis pengin pembaca melengkapinya dengan akhir cerita sesuai dengan preferensi masing-masing. Yang penulis ingin ungkapkan melalui cerita carangan tersebut adalah efek “Wewe (Gombel) bisa saja terjadi di abat Artificial Intelligence (AI) ini. Terlalu njelimet untuk menjelaskan makanisme efek Wewe Gombel, namun yang jelas area kritis Rinten berhasil dijebol oleh ketiga tamunya. Kepadanya diberikan sugesti untuk berhenti berbicara (politik dan mantan presiden) atau mengalami kondisi (sangat) tidak nyaman ketika mendengar tema pembicaraan tersebut.

Hari Minggu 6 April 2025, terjadi dialog “tanpa” sensor antara Presiden Prabowo Subiyanto dengan tujuh wartawan senior. Melihat siapa yang diundang berdialog, publik membayangkan akan terjadi “pengadilan” terhadap pemerintah. Najwa Shihab, Uni Lubis, Avitoe dan yang lain akan mengupas tuntas Revisi UU TNI, rencana revisi UU Kepolisian, Kejaksaan, dan media masa. Akan terbongkar titik pembuntu gagasan pengadilan Mantan Presiden Jokowi serta teror kepala babi terhadap Media Tempo oleh siapa dan apa motifnya.

Benar, pokok-pokok masalah tersebut disebut, namun detil penutup substansi masih misteri tak teurai sama sekali. Yang terlihat justru Presiden Prabowo memiliki panggung luas untuk menjelaskan keyakinan dirinya bahwa ada pihak asing yang menyetir demo mahasiswa dan tutup buku terhadap wacana pengadilan mantan Presiden Jokowi. Presiden juga fasih membuat narasi bahwa negara dalam keadaan baik-baik, dan tidak dalam kegelapan. Alih-alih melihat presiden kerepotan melayani pertanyaan Najwa dan Uni, yang terjadi justru pemandangan yang sangat kontras. Presiden terkesan menikmati menikmati momen dialog sementara tujuh wartawan dihadapannya larut dalam irama tarian presiden. Wal hasil, publik masih harus mengais sendiri jawaban yang mereka butuhkan.

Tulisan ini tidak berkepentingan untuk melihat Presiden kepayahan “diinterogasi” oleh wartawan. Tulisan ini tidak pula menginginkan mantan Presiden Jokowi akhirnya diadili atau dilindungi oleh Presiden Prabowo. Pikiran penulis yang sebenarnya justru menginginkan dialog yang bertajuk “tanpa sensor” tersebut memberi panggung kedua pihak untuk mendekatkan pikiran berjarak antara pemerintah dan masyarakat. Keduanya diharapkan sampai pada kesepakatan untuk penyelesaian masalah-masalah kebangsaan secara transparan dan adil.

Bisa jadi efek “Wewe Gombel” dialami oleh teman-teman wartawan, sehingga diskusi tak lebih sebagai panggung “show off”, namun publik menaruh harapan besar dialog tanpa sensor dengan presiden akan terus terselenggara. Ruang harus dibuka semakin lebar. Demi melihat laksa persoalan, Presiden Prabowo justru semakin berkepentingan untuk bertemu dengan elemen-elemen bangsa yang lain, termasuk para mahasiswa.

Yang perlu diingat adalah, ketika nantinya Presiden membuka panggung diskusi, publik (mahasiswa) harus menyambut dengan argumen-argumen bernas dan tangkas menyampaikan. Itu artinya, halusinasi “digondhol wewe sebagaimana yang dialami karakter Rinten tidak boleh terjadi.

Penulis : Hartono Sri Danan Djoyo, Gerakan Jalan Lurus Indonesia