SEMARANG (SUARABARU.ID) – Budaya Nyadran, bersih-bersih makam dan pengajian menjelang bulan puasa (Ramadan), digelar warga RW 03 Kelurahan Wonotingal, Kecamatan Candisari, Kota Semarang sejak pagi hingga siang ini, di area Makam Sasono Layon, Minggu (03/03/2024).
Yono Subari, Ketua RW 03 Kelurahan Wonotingal mengatakan, tradisi Nyadran menjelang bulan puasa itu sudah dijalankan sejak tiga tahun lalu usai pandemi covid-19, berdasarkan saran dan usul dari sesepuh kampung, sebagai upaya untuk melestarikan budaya baik menjelang puasa.
Dan seminggu sebelum digelar tradisi Nyadran dan pengajian hari ini, dilaksanakan terlebih dahulu kerja bakti, yang melibatkan warganya, dari jumlah sebanyak 10 RT (rukun tetangga), masing-masing RT mengirimkan perwakilannya.
“Kegiatan Nyadran ini sudah kita jalankan, insya Allah sejak tahun 2022 lalu usai covid. Dan seminggu sebelumnya, tanggal 25 Februari 2024 kemarin kami adakan kerja bakti, masing-masing RT mengirimkan 10 warganya. Jadi ada 100 warga untuk bersih-bersih makam. Kemudian pada pengajian hari ini, masing masing RT menyiapkan 20 kardus nasi, lalu ditambah dari anggaran kas RW dan kas donatur makam serta donatur dadakan, untuk ratusan pengunjung yang sebagian besar ahli waris keluarga yang dimakamkan di pemakaman Sasono Layon, Kelurahan Wonotingal,” jelasnya.
Ahli waris yang dimaksud, lanjut Yono, berasal dari warga Kelurahan Wonotingal sendiri, warga Kelurahan Candi dan Kelurahan Tegalsari serta keluarga dari warga di tempat lain, yang dulunya pernah tinggal dan menjadi warga di tiga kelurahan itu.
“Ahli waris paling banyak warga RW 12 Kelurahan Tegalsari, lalu warga RW 6 dan 7 kelurahan Candi serta warga RW 2 sampai RW 6 Kelurahan Wonotingal, selain RW 01. Karena khusus RW 1 sudah memiliki area pemakaman yang dikelola sendiri,” ujar Ketua RW yang tetap gesit dan semangat, walaupun sudah di usia 64 tahun.
Swadaya Warga RW 03
Dikatakan pula oleh Yono Subari, untuk memfasilitasi kegiatan tradisi Nyadran, yang menghabiskan anggaran sebanyak kurang lebih Rp 5 juta tersebut berasal dari swadaya masyarakat, khususnya warga RW 03 Kelurahan Wonotingal Kecamatan Candisari, Kota Semarang tanpa sokongan anggaran pemerintah.
“Untuk kegiatan tradisi Nyadran ini, kurang lebih menghabiskan anggaran sebanyak Rp 4 juta – Rp 5 jutaan. Ya berasal dari swadaya warga, mulai dari kas RW, dana kas makam dan donatur dadakan dari warga. Tidak ada bantuan anggaran dana dari pemerintah,” terangnya.
Dalam tradisi Nyadran, sebelum pengajian dan tauziah KH Lukman Wahid, diperdengarkan terlebih dahulu lantunan ayat-ayat suci Al Qur’an dan ditutup dengan do’a bersama ratusan ahli waris makam Sasono Layon.
Hadir dalam tradisi Nyadran tersebut, Camat Candisari Eka Kriswati beserta jajaran, Lurah Wonotingal, Babinsa, Bhabinkamtibmas serta tokoh-tokoh masyarakat dan tokoh-tokoh agama se Kelurahan Wonotingal.
Absa













