BREBES (SUARABARU.ID) – Persaingan yang akan terjadi pada tahun-tahun mendatang bagi Indonesia dan belahan dunia lainnya yang dihadapi adalah persoalan energi dan pangan. Karena itu untuk menjaga kedaulatan negara kuncinya adalah ketahanan pangan melalui pertanian Indonesia, tak terkecuali Kabupaten Brebes, harus menjadi sektor andalan.
“Sejak zaman dahulu sampai hari ini, penyumbang pertumbuhan ekonomi terbesar Kabupaten Brebes yakni sektor pertanian. Maka kawasan pertanian harus dijaga agar jaya selalu,” ucap Pj Bupati Brebes Urip Sihabudin SH MH saat membuka Sarasehan Kaum Tani di Pendopo Brebes, Senin (9/10/2023).
Urip menambahkan, pertanian kontribusinya nyata dan tidak tanggung-tanggung karena menyumbang 37 persen pada akhir tahun 2022. Jumlahnya pun di provinsi lain tidak ada yang menyamai Brebes. “Kita tidak bisa lari dari sumber ekonomi yang luar biasa ini, namun akhir akhir ini semakin menurun dan industri pengolahan dan perdagangan mulai menyundul pertanian, itu tidak boleh,” ujarnya.
Urip ingin, semua luasan kawasan pertanian Brebes yang jumlahnya 64 ribu hektar harus diamankan betul, jangan sampai tergerus oleh kepentingan yang lain, termasuk kepentingan industri. Alasannya kunci kedaulatan pangan dari sektor pertanian, bersama dinas terkait, dia mengajak kaum tani untuk menjaga agar tetap eksis, syukur bisa ditingkatkan.
“Kemudian 64 ribu hektar ini kita upayakan agar produktif, setelah saya pantau, sawah di pinggiran jalan tol dari Semarang ke arah Brebes itu kering dan tandus, sedangkan dari Tegal ke arah Semarang masih hijau,” jelasnya.
Menurut Urip, ternyata masalahnya soal air, maka lahan sawah tadi, bagaimana caranya untuk bisa kembali hijau. Salah satu caranya sawah irigasi teknis harus bisa dimaksimalkan agar bisa tiga kali tanam dan sumber air diperbaiki.
“Untuk sawah beririgasi teknis saat ini kondisinya memprihatinkan, kita punya 449 daerah irigasi, 120 bendungan, kondisinya cukup parah, sudah saya cek mulai dari Glempang, Notog sampai Buaran, belum lagi jaringan irigasinya, maka dari itu harus kita perbaiki,” serunya.
Sementara itu Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Brebes Masrukhi Bacharo menyampaikan dirinya sangat gundah sekali melihat nasib para petani Brebes, Brebes tidak lagi menjadi sentral bawang merah nasional, karena daerah lain sudah mengikuti, sehingga manakala panen raya Brebes tidak bisa apa-apa. “Ini prediksi saya sepuluh tahun yang lalu bahwa kita akan menjadi penonton dan ini sudah mulai terlihat,” ucapnya.
Lanjut Masrukhi, ditambah petani yang hijrah ke daerah lain seperti Majalengka, Weleri dan lainnya bukan petani besar saja, petani kecil juga ikut. Mereka petani besar punya modal, sedangkan petani kecil tidak cukup modal.
“Ternyata ini juga yang membuat risau petani karena tidak ada air, sehingga mereka hijrah. Dan mereka harus membeli air di sana, untuk petani kecil ini cukup menjadi beban,” terangnya.
Menurut Masrukhi, bagaimana caranya agar petani bisa kembali menaman di Brebes, yakni dengan menata kembali pertanian di Brebes. Prinsipnya ada dua yaini tanah dan air, gagasan yang didiskusikan harus bisa tersampaikan ke kelompok tani.
“Semoga dari sini kita bisa menentukan arah kebijakan di bidang pertanian, apalagi peserta sarasehan ini di luar dugaan, ratusan peserta dari kelompok tani hadir,” harapnya.
Sarasehan diisi diskusi dengan pemateri dari ahli bidang pertanian yakni Ir H Abdullah Sungkar dan Prof Dr Ir Muhammad Ali Japri MS. Dihadiri kelompok tani dari 9 kecamatan.
Sutrisno












