blank
Dialog Budaya Warisan Lestari bertema Menguatkan Tradisi di Tengah Transformasi sekaligus peringatan dua abad Perang Jawa Pangeran Diponegoro diadakan BI Jateng dalam rangkaian acara Rupiah Tresno Budoyo di Gedung Radjawali Semarang Cultural Center, Sabtu 1 November 2025. foto : hery priyono

SEMARANG (SUARABARU.ID) – Pahlawan nasional Pangeran Diponegoro memberikan banyak inspirasi keteladanan kepada masyarakat luas. Tak hanya dalam soal budaya semata namun juga dalam hal ekonomi.

Hal tersebut diutarakan Kepala BI Jateng, Rahmat Dwisaputra, saat dialog sejarah dan budaya yang merupakan rangkaian kegiatan Rupiah Tresno Budoyo di gedung Radjawali Semarang Cultural Center, Sabtu 1 November 2025.

Dalam peringatan dua abad Perang Jawa, dialog bertema ‘Warisan Lestari, Menguatkan Tradisi di Tengah Transformasi’, Rahmat menyampaikan pandangannya tentang inspirasi dari Pangeran Diponegoro dan hubungan esensial antara ekonomi dan budaya.

Menurutnya, Pangeran Diponegoro dalam sejarah Perang Jawa 1825 – 1830 memiliki esensi ekonomi meskipun dirinya bukan lulusan pendidikan tinggi.

“Saat ditangkap, Pangeran Diponegoro menyampaikan bahwa beliau tidak anti terhadap orang Eropa, namun meminta agar mereka tidak masuk ke desa-desa dan berdaganglah dengan adil atau fair trade,” katanya.

Fair trade ini lah atau berdagang dengan adil yang dipahami Pangeran Diponegoro bahwa (kegiatan) ekonomi harus adil karena akan membawa kemakmuran bersama.

Lebih lanjut Rahmat mengatakan, sikap dari Pangeran Diponegoro bukan anti tanpa sebab atau menuntut berlebihan atau anti tanpa alasan, tetapi ingin adanya keadilan (fair).

“Budaya berasal dari budi dan daya, ekonomi adalah hasil dari budaya. Jika manusia hanya berusaha (daya) tanpa dilandasi budi, dia akan menjadi tipu daya. Ekonomi cenderung profit oriented, sehingga tanpa budaya bisa mendorong orang menjadi tipu daya,” katanya.

Sebagai contoh, Rahmat membeberkan cerita tentang konflik patok – patok pengambilalihan tanah Pangeran Diponegoro oleh Hindia Belanda yang berlebihan, tidak adil, dan memakan hak orang lain adalah kegiatan di luar budi bekerja.

Oleh karena itu, menurutnya budaya berperan penting agar ekonomi tidak menciptakan ketidakadilan dan ketimpangan luas. Jangan sampai budaya hanya menjadi sekedar pertunjukan atau hanya dilihat dari sisi pendapatan masyarakat (ekonomis) saja, yang berarti kehilangan arah.

“Perlu diluruskan bagaimana mengembangkan budaya dan agar budaya berkontribusi pada ekonomi tanpa hilang arah, karena kegiatan ekonomi dibutuhkan karena manusia perlu mempertahankan hidup. Harus ada perkawinan yang berkah antara budaya dan ekonomi, jangan eksploitasi,” katanya.

Dalam dialog tersebut, selain Rahmat, turut hadir pula sebagai narasumber Tokoh Seni Kontemporer dan Akademisi, Prof. Sardono W. Kusumo, dan Pendiri Yayasan Titi Mangsa, Happy Salma.

Sardono mengungkapkan, peringatan dua abad Perang Jawa yang tahun ini jatuh tepat di tanggal 11 November 2025 membawa pesan kuat dimana seorang Pangeran Diponegoro memberdayakan (empowering) rakyat.

“Dia itu (Diponegoro) sosok yang tidak suka perang dan selalu cinta damai, namun masyarakat terinspirasi oleh Diponegoro. Peristiwa patok di tanahnya oleh Hindia Belanda itu kan karena ketidakadilan dan tidak berbudaya,” katanya.

Sementara itu, Happy Salma dalam kesempatan tersebut menyatakan, apa yang menjadi cerita sejarah di masa lalu (Perang Jawa) dan keteladanan seorang Pangeran Diponegoro bisa menyatukan bangsa.

“Dalam pentas Opera Diponegoro itu berbicara tentang bagaimana sebuah sejarah dikolaborasikan. Kita belajar dari apa yang terjadi di masa lalu yang mana vibrasinya di masa kini ternyata permasalahannya sama saja,” katanya.

Hery Priyono