PURWOREJO (SUARABARU.ID)-Badan Pelaksana Otorita Borobudur (BPOB) menggelar Sosialisasi Safety dan Security di Zona Otorita Borobudur dan Desa Penyangga di DeLoano Glamping, Kabupaten Purworejo, dipertengahan Juli 2026. Kegiatan ini menjadi langkah strategis untuk meningkatkan kesiapsiagaan pengelola destinasi wisata dan masyarakat dalam menciptakan kawasan wisata yang aman, nyaman, dan tangguh terhadap potensi bencana.
Kegiatan tersebut dihadiri oleh berbagai pemangku kepentingan, di antaranya Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Kulon Progo Setiawan Tri Widada, BPBD Kabupaten Magelang, BPBD Kabupaten Purworejo, PMI Kabupaten Purworejo, PMI Kabupaten Magelang, PMI Kabupaten Kulon Progo, Kapolsek Samigaluh, Danramil Samigaluh, perwakilan Dinas Pariwisata Kabupaten Magelang dan Kulon Progo, serta kepala desa dan pengurus Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) dari desa-desa penyangga Borobudur Highland.
Direktur Destinasi BPOB, Neysa Amelia, dalam sambutannya menegaskan bahwa keselamatan merupakan fondasi utama dalam pengembangan destinasi wisata berkelanjutan, khususnya di kawasan Perbukitan Menoreh yang memiliki karakteristik geografis dengan potensi ancaman bencana alam maupun nonalam.
“Kita tidak akan pernah tahu kapan akan terjadi hal-hal yang tidak kita inginkan. Hari ini kami mengajak masyarakat dari desa sekitar karena kami merasa kawasan ini perlu kita jaga bersama-sama. Keselamatan itu penting agar kita dan wisatawan tetap aman,” ujar Neysa kepada SUARABAR.ID.
Ia berharap materi yang disampaikan dapat menjadi bekal bagi pengelola destinasi dan masyarakat untuk meningkatkan kesiapsiagaan sekaligus memperkuat sinergi dalam menciptakan lingkungan wisata yang aman.
Senada dengan hal tersebut, Sekretaris Dinas Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata Kabupaten Purworejo, Dyah Woro Setyaningsih, mengatakan tren pariwisata saat ini telah bergeser. Wisatawan tidak lagi sekadar mencari tempat yang menarik untuk berfoto, tetapi lebih mengutamakan pengalaman, ketenangan, serta jaminan keamanan selama berwisata.
Menurutnya, desa wisata memiliki peran penting dalam menopang perekonomian masyarakat. Oleh karena itu, pengelola destinasi perlu memastikan tersedianya infrastruktur yang aman, akses yang nyaman, serta pemanfaatan digitalisasi untuk meningkatkan kualitas layanan kepada wisatawan.
“Dengan adanya kegiatan hari ini kita bisa lebih mendalami apa yang kita butuhkan dan apa yang harus kita lakukan. Ini juga menjadi kesempatan berdiskusi dengan peserta lainnya untuk bersama-sama mengembangkan wisata di daerah masing-masing,” ungkap Dyah.
Sesi pertama menghadirkan Kasubdit Audit AKBP Susyanto dari Polda DIY yang memaparkan pentingnya penerapan sistem manajemen pengamanan di destinasi wisata. Ia menjelaskan bahwa setiap pengelola destinasi perlu melakukan risk assessment atau penilaian risiko sebagai langkah awal dalam mengidentifikasi potensi ancaman keamanan.
Melalui penilaian risiko, pengelola dapat mencegah kerugian yang lebih besar, melindungi aset fisik maupun nonfisik, meminimalkan risiko hukum akibat kelalaian, serta meningkatkan kepercayaan wisatawan terhadap destinasi yang dikelola.
Materi berikutnya disampaikan oleh BPBD Kulon Progo, Setiawan Tri Widada, mengenai identifikasi potensi ancaman bencana di kawasan wisata Perbukitan Menoreh. Wilayah pegunungan seperti Samigaluh, Girimulyo, Kokap, Kalibawang, dan sebagian Pengasih memiliki tingkat kerawanan tinggi terhadap bencana hidrometeorologi, seperti tanah longsor, kekeringan, dan kebakaran hutan.
Untuk itu, pengelola destinasi didorong menyiapkan langkah mitigasi melalui penyediaan jalur evakuasi, pemasangan rambu peringatan, penentuan zona aman, penyediaan perlengkapan keselamatan dasar seperti kotak P3K, serta sistem peringatan dini dan pemantauan cuaca ekstrem secara berkala. Upaya tersebut dinilai penting untuk meminimalkan risiko sekaligus memastikan keselamatan wisatawan saat berkunjung.
Sebagai pelengkap, PMI Kabupaten Purworejo diwakili oleh Yuli Haryono dan Putri Winda Lestari, memberikan demonstrasi penanganan pertama pada kondisi darurat, meliputi penanganan luka dan patah tulang. Simulasi ini memberikan pemahaman praktis kepada peserta agar mampu memberikan pertolongan awal sebelum korban mendapatkan penanganan medis lebih lanjut.
Melalui kegiatan ini, BPOB berharap terbangun budaya sadar keselamatan di kawasan Borobudur Highland dan desa-desa penyangga. Kolaborasi antara pemerintah, aparat keamanan, lembaga penanggulangan bencana, tenaga kesehatan, serta masyarakat diharapkan mampu mewujudkan destinasi wisata yang tidak hanya menarik, tetapi juga aman, nyaman, dan siap menghadapi berbagai potensi risiko, sehingga mampu meningkatkan kepercayaan wisatawan terhadap kawasan Borobudur sebagai destinasi pariwisata berkelas dunia.(age)













