Oleh : Nor Laila Safriani
Senyumnya mengembang sederhana saat menyambut tamu yang datang ke rumahnya di Desa Senenan, Kecamatan Tahunan, Jepara. Sorot matanya yang teduh memancarkan ketenangan, sementara tangannya tetap lincah menatah sepotong kayu menjadi rangkaian motif yang hidup.
Di ruang kerja yang menyatu dengan rumah tinggalnya, bunyi ketukan tatah berpadu dengan aroma serbuk kayu, menjadi irama yang telah menemani perjalanan hidup Rumini selama lebih dari tiga dekade. Di balik kesahajaannya, tersimpan sosok perempuan pekerja keras yang menjadikan seni ukir bukan sekadar profesi, melainkan napas kehidupannya.
Kini, di usia 49 tahun, Rumini dikenal sebagai salah satu pengukir perempuan yang tetap teguh menjaga tradisi seni ukir Jepara. Setiap hari ia membagi waktunya antara mengurus keluarga dan menekuni pekerjaannya sebagai pengukir. Baginya, setiap guratan tatah bukan hanya membentuk motif pada kayu, tetapi juga menjadi cara merawat warisan budaya yang telah menghidupi masyarakat Jepara selama bergenerasi.
Perjalanan itu tidak dimulai dari bangku pendidikan tinggi. Rumini hanya menamatkan pendidikan di Sekolah Dasar Negeri 1 Sukodono tahun 1991. Namun, keterbatasan pendidikan formal tidak pernah membatasi keinginannya untuk terus belajar. Lahir dan tumbuh di lingkungan Sukodono yang lekat dengan tradisi mengukir, ia memilih memasuki “sekolah kehidupan”.

Sejak tahun 1992, ia belajar langsung kepada seorang pengukir bernama Sadi. Dari tempat sederhana itulah jemarinya mulai akrab dengan kayu, tatah, dan palu, sekaligus belajar bahwa sebuah karya besar hanya dapat lahir melalui kesabaran dan latihan yang panjang.
Di balik kesungguhannya berkarya, Rumini juga memikul tanggung jawab sebagai istri dan ibu. Bersama suaminya, Sutrisno, ia membangun keluarga sederhana yang dikaruniai dua orang putri, Ega Putri Trisniani dan Nadia Zahra Khoirunisa.
Ketika kondisi ekonomi keluarga belum stabil, Rumini tidak pernah berpangku tangan. Ia ikut menopang perekonomian keluarga melalui hasil ukirannya, sekaligus menjadi pendidik pertama bagi anak-anaknya. Baginya, keluarga adalah sumber kekuatan yang membuatnya tetap bertahan dalam berbagai keadaan.

Namun, jalan yang ditempuh Rumini tidak selalu mulus. Menjadi perempuan di dunia seni ukir bukanlah perkara mudah. Di tengah kuatnya anggapan bahwa mengukir adalah pekerjaan laki-laki, ia harus menghadapi berbagai bentuk diskriminasi. Kemampuannya sering diragukan, kepercayaan pelanggan tidak mudah diperoleh, bahkan upah yang diterimanya kerap lebih rendah dibandingkan pengukir laki-laki.
Ketika pesanan menurun akibat lesunya industri ukir, Rumini tetap bertahan. Ia memilih terus bekerja, belajar, dan memperbaiki kualitas karyanya daripada menyerah pada keadaan.
Ketekunan itulah yang kemudian menjadi titik balik kehidupannya. Pada tahun 2022 Rumini berhasil meraih juara 2 lomba ukir kategori perempuan tingkat Kabupaten Jepara dan tahun 2024 meraih juara 1. Ia tak berhenti. Pada tahun 2025, bersama para perajin perempuan Jepara, Rumini mendeklarasikan berdirinya Paguyuban Pengukir Perempuan R.A. Kartini Jepara dan ia mendapatkan kepercayaan sebagai ketua paguyuban.

Kesibukan Rumini semakin bertambah ketika Yayasan Pelestari Ukir Jepara membuka Kelas Pelajar Mengukir di Jepara Wood Carving Gallery. Sebab ia mendapatkan kepercayaan sebagai salah satu instruktur.
Pengabdian Rumini ini kemudian mendapatkan apresiasi dari Bupati Jepara. Pada akhir tahun 2025 ia mendapatkan penghargaan sebagai pelestari ukir dan pada tahun yang sama juga mendapatkan anugerah Kartini Awards sebagai Perempuan Pelestari Ukir Jepara.
Kendati demikian Rumini terus mempelajari motif-motif baru, mengasah keterampilan, dan membuka diri untuk berkolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk generasi muda.
Baginya, karya terbaik adalah jawaban paling nyata atas segala keraguan. Perlahan, kualitas ukirannya mulai dikenal luas, hingga akhirnya mengantarkannya memperoleh kepercayaan dalam berbagai pameran dan kolaborasi seni.

Puncak perjalanan itu hadir ketika Rumini dipercaya berkolaborasi bersama Tim Jaladara dalam pameran seni “Tatah” di Jakarta melalui karya berbentuk ovarium.
Tidak berhenti di sana, karya ukirnya yang bertajuk “Lada Hitam” berhasil menarik perhatian hingga dibeli oleh Wakil Menteri Hak Asasi Manusia dan dipajang di ruang kerjanya dilingkungan kementerian sebagai bentuk apresiasi atas dedikasinya melestarikan seni ukir Jepara. Pengakuan tersebut menjadi bukti bahwa ketekunan mampu menembus batas-batas yang selama ini dianggap mustahil.
Meski telah memperoleh pengakuan di tingkat nasional, Rumini tetap menjalani hidup dengan sederhana. Ia masih setia berkarya dari rumahnya, menatah kayu dengan kesabaran yang sama seperti puluhan tahun lalu.

Baginya, menjaga seni ukir bukan semata-mata menjaga sebuah pekerjaan, melainkan menjaga identitas budaya Jepara agar tetap hidup di tangan generasi berikutnya. Karena itu, ia tidak pernah lelah mengajak anak-anak muda untuk mencintai warisan budaya daerah dan berani belajar dari bawah.
Rumini percaya bahwa ukiran bukan hanya tentang membentuk kayu, tetapi juga tentang membentuk karakter. “Teruslah belajar dan buktikan dengan karya nyata, karena ketekunan jemari kita mampu mendobrak segala keterbatasan dan membawa kehormatan bagi keluarga,” pesannya.

Kalimat itu bukan sekadar nasihat, melainkan cermin perjalanan hidupnya sendiri. Dari ruang kerja yang sederhana di sudut Jepara, ia membuktikan bahwa ketekunan dapat mengubah keterbatasan menjadi kehormatan. Sebagaimana kayu yang ditatah hingga menjadi karya bernilai tinggi, demikian pula kehidupan ditempa oleh kesabaran, kerja keras, dan cinta hingga akhirnya mampu mengukir jejak yang dikenang sepanjang masa.
Penulis adalah Mahasiswa Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam Unisnu Jepara














