
Kemudian Pendeta Sediyoko mencelupkan tangan ke kotak berisi cairan warna, kemudian menempelkannya di bawah gambar gedung gereja. Selanjutnya diikuti Pendeta Didik Yulianto, dan para jemaat.
“Cap tangan yang berbeda-beda ini, dengan keindahannya masing-masing bersatu dalam sebuah karya yang bermakna,” kata Pdt. Didik.
Dikatakan, waktu terus berjalan proses terus bertumbuh, dan situasi terus berubah. “Tetapi kasih Tuhan tak pernah berubah, anugerahnya mempersatukan tiap warna menjadi sebuah harmoni indah,” kata Pdt. Didik.
Kenapa dipilih gambar gereja? Pdt. Didik Yulianto mengatakan, gereja itu menggambarkan kita bersama. “Gereja tak sekadar Gedung, tetapi gereja itu hidup, berjalan dalam kebersamaan, gereja tidak boleh kaku,” kata dia.
Di dalam gereja yang penuh warna, tidak ada warna yang menonjolkan diri. “Gereja dipanggil dalam kebersamaan dan kini tetap berjalan dalam kebersamaan,” kata Pdt. Didik.
Menapak usia melewati 62 tahun, GKJ Semarang Barat terus berbenah diri. Dengan tiga tempat ibadah, yaitu di Gereja Induk Jalan Hasanuddin G.16 Semarang, pepanthan di Jalan Mugas Barat IX Semarang, dan di gereja GKI Gereformeerd di Jalan Dokter Sutomo, semua harus terlayani dengan baik.
Peringatan HUT ke-62 ini, tak hanya berhenti di perayaan saja. Pada 5 Juli lalu, di Joglo Gereja Induk berlangsung festival seni yang diikuti warga jemaat dari empat wilayah.

Kemudian Minggu, 26 Juli mendatang dilaksanakan pemeriksaan Kesehatan gratis di Joglo Gereja Induk, dan pada 1 Agustus mendatang dilangsungkan pertandingan voli antargereja se-Semarang di GOR Satria Udinus.
Selamat ulang tahun GKJ Semarang Barat. Tetap melayani dengan menghayati keindahan keberagaman anugerah Tuhan, dan pelangi harmoni selalu terpancar di sini.
R. Widiyartono













