
Sebelum menyanyikan lagu ini, diawali dengan pembacaan geguritan (puisi berbahasa Jawa) oleh R. Widiyartono berjudul “Kluwung Mentelung ing Papan Iki”.
Penampilan para adiyuswa ini menjadi salah satu bagian dari Galeri Sahasra Varna, melukiskan perjalanan awal GKJ Semarang Barat. Gereja ini dibangun pada awalnya oleh para orang tua kala itu.
Memasuki galeri berikutnya, Bara Jiwa, diwakili oleh para muda dan remaja yang tampil memainkan kolintang. Penampilan anak-anak muda gereja ini, melukiskan kontinuitas dan kesinambungan antargenerasi. Anak-anak muda inilah yang meneruskan perjalanan GKJ Semarang Barat.
Selanjutnya galeri Bina Asa, diwakili anak-anak yang menari lincah gembira. Anak-anak inilah yang bakal menjadi harapan masa depan gereja, dan merekalah yang kelak akan meneruskan tugas-tugas para pendahulu.
Dari penampilan yang mewakili tiap generasi ini, Pendeta Sediyoko menyatakan, gereja tidak semata dibangun oleh waktu, tetapi juga dengan doa. Tanpa Rahmat dan karunia Tuhan, bangunan gereja yang megah pun menjadi tak bermakna.
Sebagaimana biasanya peringatan ulang tahun, juga dilangsungkan pemotongan tumpeng. Pendeta Sediyoko dan Pendeta Didik Yulianto memotong tumpeng secara bergantian, melengkapinya dengan lauk-pauk. Bukan diserahkan pada seseorang, tetapi saling menyerahkan.

Ini melukiskan, bahwa keduanya saling bekerja sama sebagai pendeta di GKJ Semarang Barat.
Gereja dan Tapak Tangan
Ada hal romantik yang lain, yang dirasakan sekitar 400-an warga jemaat yang memenuhi ruangan gereja. Panitia menyiapkan sebuah kanvas bergambar Gedung GKJ Semarang Barat.













