blank
Pendeta Didik Yulianto dan Pendeta Sediyoko menempelkan tapak tangan berwarna di kanvas bergambar gedung GKJ Semarang Barat. Foto: R. Widiyartono

SEMARANG (SUARABARU.ID) – Bahasa yang sangat asing mendadak muncul dalam peringatan 62 tahun Gereja Kristen Jawa (GKJ) Semarang Barat, yang berlangsung Minggu 19 Juli 2026. Museum Sahasra Warna, tidak banyak yang paham apa makna frasa ini. Mencoba mencari di google ternyata maknanya “seribu nama”.

Pemilihan istilah menggunakan bahasa lama, bahasa Sanskerta yang kemudian diserap oleh bahasa Jawa Kuno, ini memunculkan kesan romantik. Terlebih Ketua Panitia Dandun Dwianantyo ketika mengawali acara, berdoa dengan bahasa yang syahdu dengan pilihan kata yang serba indah.

Ditambah lagi dengan pembawa acara, Titi Trisnaningsih, yang memandu acara dengan sangat syahdu. Bahasanya terangkai bagai puisi indah. Benar-benar terasa romantik, peringatan 62 tahun GKJ Semarang Barat.

Ya, panitia peringatan hari ulang tahun GKJ Semarang Barat memang memberi judul perayaan sejalan dengan itu, yaitu “Potensi Seribu Warna” atau dalam Bahasa yang terasa lebih romantik “Sahasra Varna”. Menggugah dan menggali potensi yang ada di GKJ Semarang Barat dari kalangan tua (adiyuswa), warga dewasa, pemuda, remaja, hingga anak-anak.

blank
Anak-anak sebagai generasi harapan, tampil menari penuh kelincahan dan kegembiraan. Foto: R. Widiyartono

Museum Sahasra Warna, hanya sekadar nama. Pendeta Didik Yulianto mengatakan, tak sekadar menggali dan mengangkat yang pernah ada dan tersimpan, karena GKJ Semarang Barat ingin terus mengembangkan segenap potensi yang ada.

Sementara Pendeta Sediyoko menuturkan, betapa GKJ Semarang Barat yang lahir pada 15 Juli 1964, diawali dengan perjuangan jatuh bangun. Beberapa pendahulu, di antaranya Bapak Kasimin, bersama yang lain pergi ke Jakarta untuk mengawali Upaya “pembiakan” Gereja Kristen Jawa Semarang menjadi GKJ Semarang Barat dan GKJ Semarang Timur.