blank
Si Moli, Den Hasan selaku Relima dan Bunda Literasi Jepara Ella Witiarso Utomo. Foto: Dok: Relima

JEPARA (SUARABARFU.ID) – Kabar pemangkasan anggaran Perpustakaan Nasional (Perpusnas) RI pada 2026 menjadi perhatian para pegiat literasi di berbagai daerah. Lembaga yang selama ini menjadi motor penguatan budaya baca nasional harus menjalankan berbagai program dengan ruang fiskal yang jauh lebih terbatas.

Dalam rapat kerja bersama Komisi X DPR RI, pagu anggaran Perpustakaan Nasional tahun 2026 tercatat sekitar Rp377,9 miliar, turun dari sekitar Rp721,7 miliar pada tahun sebelumnya. Artinya, anggaran Perpusnas berkurang hampir 48 persen dibandingkan pagu tahun 2025.

Penurunan anggaran tersebut berdampak pada sejumlah program strategis. Kepala Perpustakaan Nasional RI, E. Aminudin Aziz, mengakui bahwa berbagai layanan penguatan literasi masyarakat berpotensi terganggu akibat keterbatasan anggaran.

“Dengan penurunan anggaran yang sangat drastis, pekerjaan yang terkait dengan literasi menjadi terganggu,” ujar Aminudin dalam rapat kerja bersama Komisi X DPR RI.

blank
Guru SDN 4 Sinanggul mendampingi siswanya memilih buku di Motor Literasi. Foto: Dok Relima

Ia juga menjelaskan bahwa program bantuan bahan bacaan bermutu yang selama dua tahun terakhir menjangkau ribuan perpustakaan desa, taman bacaan masyarakat, sekolah, puskesmas, hingga lembaga pemasyarakatan tidak dapat dilanjutkan seperti sebelumnya karena keterbatasan anggaran. Padahal, program tersebut menjadi salah satu upaya negara memperluas akses masyarakat terhadap bahan bacaan berkualitas.

Dampak dari kebijakan fiskal itu sesungguhnya tidak berhenti pada angka-angka dalam dokumen APBN. Di berbagai daerah, termasuk Kabupaten Jepara, dukungan Perpustakaan Nasional diterjemahkan menjadi berbagai gerakan yang bersentuhan langsung dengan masyarakat.

Salah satunya adalah penugasan Relawan Literasi Masyarakat (RELIMA).

Selama dua bulan terakhir, Den Hasan sebagai RELIMA lokus Kabupaten Jepara berkeliling menemui para penggerak literasi, mulai dari pengelola perpustakaan desa, perpustakaan sekolah, hingga Taman Bacaan Masyarakat (TBM). Dalam setiap perjalanan, ia membawa sebuah motor berwarna biru yang kini akrab dikenal anak-anak sebagai Si MoLi (Motor Literasi).

blank
Anak-anak anstusias menyambut kedatangan motor literasi. Foto: Dok Relima

Motor itu bukan sekadar kendaraan operasional. Di bagian belakangnya tersimpan puluhan buku cerita, buku pengetahuan, komik edukasi, dan berbagai bacaan anak yang dapat langsung dibaca bersama.

Ketika Si MoLi berhenti di halaman sekolah atau perpustakaan desa, anak-anak segera mengerumuni rak buku sederhana yang dibawa. Mereka memilih buku favorit, duduk melingkar, membaca bersama, mendengarkan dongeng, hingga mengikuti sesi membaca nyaring yang dipandu relawan.

Dalam dua bulan penugasan, Si MoLi telah menyapa ratusan anak di berbagai wilayah Kabupaten Jepara. Tidak hanya menghadirkan pengalaman membaca yang menyenangkan, program ini juga mempertemukan berbagai komunitas literasi yang selama ini bekerja di ruang-ruang kecil dengan semangat yang besar.

blank

Bagi Den Hasan, tantangan gerakan literasi bukan semata menghadirkan buku, melainkan memastikan pengalaman membaca mampu meninggalkan kesan bagi anak-anak. Karena itu, setiap kunjungan Si MoLi selalu diakhiri dengan kegiatan Berzine, sebuah inovasi literasi pascabaca yang mengajak peserta mengolah kembali cerita yang telah mereka baca menjadi zine atau buku mini karya mereka sendiri.

Melalui metode ini, anak-anak tidak hanya menjadi pembaca, tetapi juga penulis, ilustrator, sekaligus pencerita. Mereka belajar menafsirkan isi bacaan, menuangkan gagasan dalam bentuk tulisan maupun gambar, lalu membagikannya kepada teman-teman. Membaca tidak berhenti ketika halaman terakhir buku ditutup, tetapi berlanjut menjadi proses berpikir dan berkarya.

Perjalanan RELIMA di Jepara juga memperlihatkan bahwa ekosistem literasi sesungguhnya telah tumbuh di tengah masyarakat. Perpustakaan desa, perpustakaan sekolah, dan taman bacaan masyarakat menjadi ruang belajar yang hidup berkat dedikasi para pengelola, guru, pustakawan, dan relawan yang bekerja dengan segala keterbatasannya.

Namun semangat tersebut tidak seharusnya dipahami sebagai alasan bahwa gerakan literasi dapat berjalan sendiri tanpa dukungan negara. Justru pengalaman di lapangan menunjukkan sebaliknya. Program-program yang digagas Perpustakaan Nasional telah menjadi pemantik lahirnya berbagai inovasi, memperluas jejaring penggerak literasi, sekaligus menghadirkan akses bacaan hingga ke desa-desa.

Apa yang dilakukan Si MoLi di Jepara hanyalah satu contoh kecil dari bagaimana kebijakan nasional dapat diterjemahkan menjadi manfaat nyata di tingkat akar rumput. Dari sebuah motor yang membawa puluhan buku, lahir ruang-ruang baca sementara, kegiatan mendongeng, kelas kreatif, hingga karya-karya zine yang dibuat oleh anak-anak.

Karena itu, pembahasan mengenai anggaran Perpustakaan Nasional semestinya tidak dipandang semata sebagai persoalan belanja sebuah lembaga negara. Di balik setiap rupiah yang dialokasikan, terdapat jutaan warga yang memperoleh akses terhadap buku, pelatihan, pendampingan, dan ruang belajar yang selama ini belum sepenuhnya tersedia di daerah.

Gerakan literasi membutuhkan relawan, komunitas, sekolah, dan perpustakaan desa yang terus bergerak. Namun lebih dari itu, gerakan ini juga membutuhkan keberpihakan negara melalui kebijakan fiskal yang memadai. Ketika pemerintah menempatkan literasi sebagai investasi pembangunan manusia, maka anggaran yang diberikan kepada Perpustakaan Nasional bukan sekadar biaya operasional, melainkan modal sosial untuk membangun generasi yang gemar membaca, berpikir kritis, dan mampu menghadapi tantangan masa depan. Dukungan anggaran yang kuat akan memastikan inovasi-inovasi seperti Si MoLi dan Berzine tidak hanya hadir di Jepara, tetapi juga dapat tumbuh dan menginspirasi berbagai daerah lain di Indonesia

Hadepe – Den Hasan