JIKA sepele dadi gawe bermakna: Hati-hati lho, tampaknya (sesuatu) itu kecil dan sederhana saja, namun dapat membawa dampak besar; lalu apa makna: sapala gawe lega?
Sebaiknya bercerita dulu, demikian: Sebuah keluarga muda, -anaknya baru duduk di bangku SMP namun keluarga itu merasa anaknya nakal minta ampun-; datang kepada tetangganya. Tetangga itu dipilih karena di mata masyarakat, suami istri itu dikenal orang tua sukses mendidik anak-anaknya.
Pasangan muda itu ingin bertanya: Bagaimana memersiapkan masa depan anak semata wayangnya. “Bapak ibu, kami sowan, ingin ngangsu kawruh tentang mendidik dan memersiapkan masa depan anak.”
Suami-istri yang dianggap sukses itu bingung, namun melihat kesungguhan pasangan muda itu, mereka memberikan PR kepada pasangan muda itu, katanya: “Nak, kami tidak punya resep apa pun sebenarnya. Tapi cobalah, taruhlah di atas meja ruang tengahmu sejumlah uang, sejumlah komik, dan beberapa kaleng minuman.”
Seminggu kemudian, pasangan muda itu datang lagi dan berkisah: “Dalam waktu lima hari, Pak-Bu, uang diambilnya semua, sebagian komik berserakan di kamar tidurnya, dan minuman bersoda yang habis.”
Baca juga (Sepele) Dadi Gawe
Setelah terdiam beberapa lama, bapak itu berkata: “Nak, ……… anakmu bermasa depan cerah: akan menjadi pengusaha sekurang-kurangnya.”
Sapala
Kata sapala memiliki makna mirip dengan kata sepele, yakni remeh, cilik, kurang aji; namun pemakaiannyalah yang berbeda. Postingan minggu lalu tergambarkan betapa sepele dadi gawe berkaitan dengan purwakanthi karena menekankan keindahan bunyi (sepele vs gawe) dan pada umumnya berkaitan dengan tindakan sederhana seseorang.
Sepala gawe lega juga bernuansa purwakanthi dan pemakaian kata sepala pada umumnya berkaitan dengan kata-kata. Contoh kata-kata bapak di atas: “Nak, anakmu bermasa depan cerah …..” menjelaskan betapa beberapa patah kata saja itu bermakna sangat mendalam dan melegakan bagi pasangan muda itu: Sapala gawe lega.
Keluarga muda itu pasti merasa dikuatkan dan termotivasi meski hanya dengan kata-kata “masa depan anakmu cerah;” katimbang kata-kata itu misalnya menyebutkan: “Ohhh, ambyar bakale, anakmu….” Hanya dengan sepatah kata pun seseorang dapat berkobar semangatnya atau sebaliknya nglokro.
Maka, alangkah baiknya berkata-kata sapala nanging gawe lega, daripada berkata-kata penuh semangat namun membikin orang ciut hati dan semangatnya. Dalam percakapan sehari-hari pasti pernah kita dengar: “Daun pepaya saja dapat membuat perut ini lega (nyaman), aneh jika kata-kata manusia tidak dapat membuat lega?”
Gawe lega
Bikin hati lega, begitulah maksud sapala gawe lega; karena kata-kata (indah) menjadikan hati ini terpuaskan, tercerahkan, tentram, nyaman. Dalam salah satu rumusan doa liturgis Katolik, ada kata-kata demikian: Ya Tuhan saya tidak pantas, Tuhan datang pada saya; tetapi bersabdalah saja, maka saya akan sembuh.Terkandung kepercayaan, dengan hanya sepatah kata Tuhan, kita manusia akan sembuh, lega, terpuaskan, terselamatkan, dsb. Sapala gawe lega.
Baca juga Dadi Wong
Sapala juga berarti kecil, namun bermakna, small is beautiful; justru yang kecil itulah sederhana namun indah. Seorang perempuan bertambah dan tampak lebih indah ketika barang-barang hiasannya (kalung, anting, dll) kecil-kecil saja. Jika kalungmu seberat satu kilogram, bukannya dirimu akan tambah indah, melainkan akan semakin bungkuk.
Sapala gawe lega, sepatah kata yang dapat membawa serta kelegaan, selayaknya menjadi sesanti bagi orangtua di mana pun dan kapan pun. Mari, katakana saja secara singkat namun memberikan kelegaan, motivasi, dan dorongan. Itu akan lebih baik dariada berkata-lata panjanglebar namun menyakitkan.
Wahai para orang tua, wahai para pejabat; katakanlah sapala gawe lega saja, dan dengan hemat kata seperti itu jauh lebih bermakna daripada berkata-kata panjang lebar namun menyakitkan warga masyarakat.
Ingin contoh? Ada saja lho pejabat yang kata-katanya penuh kesombongan: “Tinggal terima saja kok masih berulah;” dan ada juga yang agak pongah berkata setengah berseru: “Kurang apa coba yang telah dilakukan pemerintah?” Dan……….. ada juga yang maksud hati mendukung kebijakan-kebijakan bagus, namun ungkapannya seolah-olah dia/mereka itu penguasanya: “Jika mengritik itu berdasarkan fakta dan data berikut kebenarannya, jangan asal kritik!!” Ealahhhh, lupa ya? Data, fakta dan kebenaran itu pasti terlihat secara kuantitatif maupun kualitatif oleh siapa saja.
JC Tukiman Taruna Sayoga, pengamat masalah pendidikan dan budaya Jawa tinggal di Ungaran













