KOTA MUNGKID
(SUARABARU.ID) –
Pengasuh Pondok Pesantren API Tegalrejo, Kabupaten Magelang, KH Muhammad Yusuf Chudlori, akan dicalonkan sebagai Ketua PBNU periode lima tahun ke depan. Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) akan diselenggarakan pada 27–31 Agustus 2026 di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur.
Adapun permintaan terhadap KH Muhammad Yusuf Chudlori atau Gus Yusuf untuk maju sebagai calon Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) itu dilakukan melalui acara: Lamaran Agung PCNU Jateng kepada Gus Yusuf
untuk menjadi ketua PBNU, di Ponpes Asrama Perguruan Islam (API) Tegalrejo, Sabtu (18/7/26) malam. Sebanyak 22 Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) di Jawa Tengah hadir dalam acara tersebut. Juga ada beberapa pengurus Ponpes dari Jawa Timur.
Permintaan tersebut disampaikan melalui maklumat sebagai aspirasi para pengurus cabang dan masyayikh yang menginginkan kepemimpinan PBNU mampu merangkul seluruh elemen NU, serta mengembalikan fokus organisasi pada khidmah kepada umat dan jam’iyah.
Pada acara itu para pengurus PCNU menilai NU membutuhkan kepemimpinan yang sejuk dan mampu menjaga keseimbangan di tengah dinamika internal. PBNU diharapkan tidak tersandera konflik, tetapi kembali memperkuat pelayanan melalui pendidikan, pesantren, kesehatan, pemberdayaan ekonomi, kaderisasi, serta penguatan organisasi hingga tingkat cabang dan ranting.
Butuh Dukungan
Atas adanya pinangan dari PCNU di Jateng itu, Gus Yusuf, yang ditemui seusai acara menyatakan menyambut dengan bismillah. “Ini amanah yang berat, maka kami sangat butuh dukungan semua pihak,” katanya.
Dia menilai, tugas yang diembankan adalah bagaimana kembali merajut PBNU agar bisa solid, kembali menyatu. Utamanya adanya kelompok -kelompok yang sempat muncul dengan dinamika konflik.

“Kami berharap muktamar besok betul-betul menjadi muktamar yang solutif, menyelesaikan segala konflik. Untuk bersatu kembali membangun Nahdlatul Ulama di abad yang kedua ini agar semakin maju dan berkembang,” harapnya.
Disebutkan, amanah yang diembankan, pertama adalah bagaimana untuk menyukseskan muktamar menjadi muktamar yang bermartabat, solutif, dan menyelesaikan konflik. Dalam hal ini dia muncul sebagai calon alternatif, calon yang bebas dari konflik, yang berharap bisa menjadi perekat semua elemen yang ada di Nahdlatul Ulama.
Selebihnya dikatakan, ketika dia mendapatkan amanah, maka yang pertama adalah tata kelola organisasi yang harus diperbaiki. Agar menjadi tata kelola yang betul-betul terbuka, akuntabel dan transparan.
Yang kedua adalah program tentang pendidikan. “Pondok pesantren hari ini mengalami kemerosotan, ini menjadi tantangan,” ujarnya.
Karena NU adalah pesantren dan pesantren NU. Satu, pondok pesantren salaf, yang kedua adalah pondok pesantren modern. “Ini harus berjalan beriringan, pesantren harus menjadi jawaban dari kebutuhan masyarakat. Tentu di dalamnya juga ada layanan kesehatan, rumah sakit, kami berharap nanti PC NU itu minimal memiliki klinik, syukur bisa berbentuk rumah sakit, agar layanan keumatan ini betul- betul bisa terwujud,” imbuhnya.
Wacana program yang ketiga adalah persoalan ekonomi.
Bagaimana NU bisa menjadi solusi membangkitkan inkubasi UMKM, juga memikirkan permodalan untuk warga-warga NU. Dalam hal ini NU tentu akan selaras mendukung program -program dari pemerintah, mendukung pemerintah dalam hal pengentasan kemiskinan. “Itu yang menjadi tugas NU ke depan,” katanya.
Terkait pencalonan itu dia sudah berkunjung ke sejumlah provinsi. Menurutnya responnya bagus.
Hampir semua PC dan PW berharap ada pembaharuan. Yakni ada pembaharuan di PBNU yang ke depan, muncul calon-calon yang fresh, yang segar, yang bebas konflik.
Eko Priyono













