blank
Bersamaan dengan acara pendidikan politik, Bupati Setyo Sukarno (ketiga dari kanan) berkesempatan meninjau ruang praktik siswa dan mendapatkan penjelasan dari Kepala Sekolah Heri Winanto (kedua dari kanan).(Dok.Prokopim Wonogiri)

WONOGIRI (SUARABARU.ID) – Generasi muda, menjadi aset bangsa yang akan menentukan arah pembangunan Indonesia melalui hak pilihnya pada Pemilu 2029 mendatang. Demikian ditegaskan Bupati Wonogiri, Setyo Sukarno, saat memberikan sambutan pada pendidikan politik bagi pemilih pemula di SMK Swasta (S) Pancasila 1 Wonogiri.

Bagian Prokopim Pemkab Wonogiri, mengabarkan, Pemerintah Kabupaten Wonogiri terus berusaha memperkuat pendidikan politik bagi generasi muda. Ini dilakukan, sebagai upaya membangun demokrasi yang berkualitas. Komitmen ini, diwujudkan melalui kegiatan Sosialisasi pendidikan politik bagi para pemilih pemula.

Pendidikan politik bagi para calon pemilih pemula ini, dilaksanakan dengan menggandeng Komisi Pemilihan Umum (KPU) dan Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Wonogiri. Bupati Wonogiri Setyo Sukarno hadir untuk membuka acara tersebut. Kepada para pelajar SMKS Pancasila 1 Wonogiri, dipahamkan bahwa sebagai generasi muda, mereka merupakan aset bangsa yang akan menentukan arah pembangunan Indonesia melalui hak pilihnya pada Pemilu 2029.

Oleh karena itu, tandas Bupati, para pelajar diharapkan memiliki kepedulian terhadap kehidupan demokrasi, dan tidak bersikap apatis pada pelaksanaan Pemilu. Para pelajar, diharapkan memiliki kepedulian terhadap kehidupan demokrasi, dan tidak bersikap apatis terhadap Pemilu.

Perbedaan

“Kalian adalah generasi yang akan menggunakan hak pilih pada Pemilu 2029. Jangan sampai apatis terhadap Pemilu,” pesan Bupati Setyo Sukarno. Karena suara mereka dapat menentukan arah pembangunan bangsa. Perbedaan pilihan, adalah bagian dari demokrasi, namun persatuan dan kesatuan harus tetap dijaga sebagaimana nilai yang terkandung dalam Sila Ketiga Pancasila, yaitu Persatuan Indonesia.

Disebutkan, demokrasi hendaknya tidak hanya dimaknai sebagai pelaksanaan Pemilu setiap lima tahun sekali, tetapi juga mengenai keterlibatan aktif masyarakat dalam mengawal pembangunan dan pengambilan kebijakan publik. Karena itu, peningkatan partisipasi politik menjadi salah satu indikator penting terhadap keberhasilan demokrasi.

“Kami terus mendorong pendidikan politik yang berkelanjutan, khususnya bagi pemilih pemula, perempuan dan penyandang disabilitas,” tegas Bupati. Pemerintah, tambahnya, berkomitmen menghadirkan ruang dialog yang aman, terbuka, serta bebas dari hoaks, intimidasi dan politisasi SARA. Ini sekaligus demi memperkuat sinergi dengan Partai Politik (Parpol), agar dana bantuan keuangan dari APBD dimanfaatkan secara optimal untuk pendidikan politik masyarakat.

Bupati juga mengajak seluruh elemen, mulai dari Parpol, tokoh masyarakat, tokoh agama, pemuda dan masyarakat luas, untuk bersama-sama membangun budaya politik yang cerdas. ”Yang bertanggung jawab dan menjunjung tinggi persatuan di tengah perbedaan pilihan,” tandas Bupati sembari menambahkan, penguatan demokrasi hanya dapat terwujud melalui kolaborasi seluruh pihak.(Bambang Pur)