GROBOGAN (SUARABARU.ID) – Gerakan GAZPOL (Grobogan Zero Anak Putus Sekolah) semakin diperkuat melalui Simposium dan Deklarasi Bersama yang digelar di Rumah Kedelai Grobogan, Minggu (12/7/2026).
Kegiatan yang melibatkan berbagai elemen masyarakat ini mendapat dukungan penuh dari Ketua Komisi D DPRD Grobogan Mansata Indah Maratona.
Kemudian, organisasi PC IPNU, IPPNU, PMII, pengelola PKBM, hingga pegiat pendidikan sebagai upaya bersama menekan angka anak putus sekolah di Kabupaten Grobogan.
BACA JUGA : 15 Tim Lolos Ikuti QRIS Jelajah Kuliner Indonesia 2026
Simposium bertema “Memperluas Akses Pendidikan melalui PKBM sebagai Upaya Strategis Pencegahan Putus Sekolah” tersebut menjadi wadah memperkuat kolaborasi lintas sektor.
Melalui GAZPOL, Grobogan Zero Anak Putus Sekolah diharapkan tidak sekadar menjadi slogan, melainkan gerakan nyata yang melibatkan seluruh masyarakat.
Dalam forum itu, Mansata Indah Maratona dan PC IPNU menegaskan pentingnya memperluas akses pendidikan bagi seluruh anak di Grobogan.
BACA JUGA : Berawal dari Garasi, Koperasi Kelurahan Merah Putih Banjarsari Kini Tembus Omzet Ratusan Juta
Kegiatan mempertemukan unsur legislatif, pegiat pendidikan, organisasi kepemudaan, pengelola Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM), tokoh masyarakat, hingga perwakilan mahasiswa untuk merumuskan langkah konkret dalam menekan angka putus sekolah.
Seluruh peserta sepakat bahwa persoalan pendidikan tidak bisa dibebankan hanya kepada pemerintah. Sinergi antarlembaga dinilai menjadi kunci agar setiap anak tetap memiliki kesempatan mengenyam pendidikan.
Ketua Komisi D DPRD Kabupaten Grobogan, Mansata Indah Maratona, menegaskan pendidikan merupakan hak dasar yang harus diterima seluruh anak tanpa terkecuali.
BACA JUGA : Temon Meninggal Akibat Serangan Jantung, Abdel Berduka
Ia menyebut DPRD akan terus mengawal kebijakan yang berpihak pada perluasan akses pendidikan melalui berbagai program, termasuk memperkuat peran PKBM.
“Pendidikan merupakan hak setiap anak. DPRD melalui Komisi D akan terus mendorong kebijakan dan penganggaran yang berpihak pada perluasan akses pendidikan, termasuk memperkuat keberadaan PKBM sebagai solusi bagi masyarakat yang tidak dapat menyelesaikan pendidikan melalui jalur formal,” kata Mansata.
Gerakan GAZPOL, tambah Mansata, yang diinisiasi PC IPNU, IPPNU, dan PMII harus menjadi gerakan bersama.
Menurut Mansata, keberadaan PKBM menjadi salah satu solusi strategis bagi masyarakat yang tidak dapat menyelesaikan pendidikan melalui jalur formal.
Ia juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk mengambil bagian dalam menciptakan lingkungan yang mendukung anak-anak kembali memperoleh hak belajarnya.
Pegiat Pendidikan Grobogan, Puji Astutik, menilai PKBM memiliki peran penting sebagai alternatif pendidikan yang mampu menjangkau masyarakat dari berbagai latar belakang.
Menurutnya, keberadaan PKBM dapat menjadi jembatan bagi anak-anak maupun warga yang terpaksa menghentikan pendidikan formal.
BACA JUGA : Lautan Manusia Birukan Purwodadi! Ketua DPRD Grobogan Lusia Indah Artani Puji Suksesnya Bhayangkara Fun 2026
“Anak putus sekolah bukan sekadar data statistik, tetapi menyangkut masa depan generasi. Karena itu, seluruh pihak harus membuka akses pendidikan seluas-luasnya agar mereka tetap memiliki kesempatan memperoleh pendidikan yang layak,” katanya.
Sementara itu, Ketua Forum Komunikasi Pondok Pesantren (FKPP) Kabupaten Grobogan, Gus Saidun, mengingatkan bahwa pendidikan merupakan investasi jangka panjang dalam membangun kualitas sumber daya manusia.
Ia menilai cita-cita menjadikan Grobogan bebas anak putus sekolah hanya dapat diwujudkan melalui kerja sama seluruh pemangku kepentingan.
Kolaborasi tersebut, lanjutnya, harus melibatkan pemerintah, lembaga pendidikan, pesantren, organisasi kemasyarakatan, dunia usaha hingga komunitas di tingkat akar rumput.
“Gerakan Grobogan Zero Anak Putus Sekolah membutuhkan kolaborasi nyata. Semua pihak memiliki tanggung jawab untuk memastikan tidak ada anak yang kehilangan kesempatan belajar,” tegasnya.
Dukungan terhadap gerakan tersebut juga datang dari kalangan pelajar melalui Ketua PC IPNU Kabupaten Grobogan, M. Izabul Kirom.
Ia menegaskan organisasinya siap berperan aktif memberikan edukasi, pendampingan, sekaligus mengajak anak-anak yang putus sekolah agar kembali melanjutkan pendidikan.
BACA JUGA : PAC Fatayat NU Batealit Recharge Semangat Kepengurusan Tahun Kedua melalui Upgrading dan Family Gathering
“IPNU-IPPNU siap berkontribusi melalui edukasi, pendampingan, serta mengajak pelajar yang putus sekolah agar kembali melanjutkan pendidikan, baik melalui sekolah formal maupun PKBM,” ungkapnya.
Komitmen serupa disampaikan Ketua PC PMII Grobogan, Winda Nuril Mufarida. Ia menilai mahasiswa memiliki tanggung jawab sosial untuk ikut mengawal isu pendidikan sekaligus memberikan advokasi kepada anak-anak yang kehilangan akses belajar.
“Mahasiswa harus hadir di tengah masyarakat, melakukan pendampingan dan advokasi agar setiap anak memperoleh hak yang sama untuk mengenyam pendidikan. Gerakan GAZPOL harus menjadi gerakan kolektif seluruh elemen masyarakat,” ujarnya.
BACA JUGA : Kemenkum Jateng Hadiri Seminar Problematika Jabatan Notaris di Era Digital
Rangkaian kegiatan ditutup dengan pembacaan Deklarasi Bersama GAZPOL (Grobogan Zero Anak Putus Sekolah) sebagai bentuk komitmen lintas sektor untuk memperluas akses pendidikan melalui PKBM dan memperkuat sinergi antarpemangku kepentingan.
Melalui deklarasi tersebut, seluruh peserta berharap GAZPOL, Grobogan Zero Anak Putus Sekolah, yang didukung Mansata Indah Maratona, PC IPNU, IPPNU, PMII, pemerintah, serta berbagai elemen masyarakat benar-benar berkembang menjadi gerakan berkelanjutan.
Kolaborasi itu diharapkan mampu menekan angka anak putus sekolah, meningkatkan kualitas sumber daya manusia, serta menghadirkan pendidikan yang inklusif, merata, dan berkeadilan bagi seluruh warga Kabupaten Grobogan.
TYA WIDYA













