JEPARA (SUARABARU.ID) – SMK Negeri 2 Jepara terus memperkuat pendidikan vokasi dengan menghadirkan guru tamu tenaga ahli dari kalangan praktisi dan pelaku industri. Langkah ini menjadi bagian dari upaya sekolah dalam menyiapkan lulusan yang memiliki kompetensi sesuai kebutuhan dunia kerja.
Hal tersebut diungkapkan Kepala SMKN 2 Jepara Indria Mustika, S.Pd, M.Pd. saat menerima silaturahmi Ketua Paguyuban Pengukir Perempuan R.A. Kartini Jepara, Rumini di ruang kerjanya, Rabu 1 Juni 2026. Delegasi pengukir perempuan tersebut terdiri dari Sulistiyani, Muskamah dan Septiana Wibowo relawan bahasa Inggris Yayasan Pelestari Ukir Jepara
Menurut Indria Mustika, salah satu tujuan yang dicapai dalam progam ini adalah kemampuan siswa dalam melestarikan warisan budaya ukir khas Jepara Yang akan menjadi salah satu program unggulan pada jurusan Tehnik Kriya Kayu.
“Pada tahun ajaran 2026/2027, sekolah memberikan perhatian khusus kepada peserta didik kelas X melalui penguatan keterampilan dasar seni ukir kayu. Program tersebut dirancang agar siswa memiliki fondasi yang kuat sejak awal sebelum mendalami kompetensi keahlian lanjutan,” terang Indria Mustika.
Sebagai bagian dari pembelajaran berbasis industri, SMK Negeri 2 Jepara juga berkolaborasi dengan dunia industri, dan para maestro seni ukir termasuk para Pengukir Perempuan Jepara yang telah berpengalaman secara profesional dan memiliki karya berkualitas.

Kehadiran mereka sebagai guru tamu diharapkan dapat memberikan wawasan, teknik, serta pengalaman nyata kepada siswa mengenai proses berkarya, standar kualitas produk, hingga peluang usaha di industri kreatif.
Indria Mustika menyampaikan bahwa keterlibatan praktisi merupakan salah satu strategi sekolah untuk mendekatkan dunia pendidikan dengan dunia kerja. “Melalui pembelajaran langsung dari para pelaku industri, siswa tidak hanya menguasai aspek teknis, tetapi juga memahami etos kerja, kreativitas, kedisiplinan, dan profesionalisme yang dibutuhkan saat memasuki dunia kerja,” ungkapnya
Selanjutnya ia menjelaskan, pembelajaran bersama guru tamu memberikan pengalaman yang berbeda bagi peserta didik. “Mereka belajar langsung dari para praktisi yang telah lama berkecimpung di bidangnya sehingga kompetensi yang diperoleh menjadi lebih relevan dengan kebutuhan industri,” ujarnya.
Kolaborasi dengan pengukir perempuan Jepara juga menjadi bentuk apresiasi terhadap peran perempuan dalam menjaga sekaligus mengembangkan Seni Ukir Jepara yang telah menjadi identitas Kabupaten Jepara sebagai Kota Ukir.
“Melalui pengalaman dan keahlian yang dimiliki, para pengukir diharapkan mampu menginspirasi generasi muda untuk terus berkarya dan berinovasi tanpa meninggalkan nilai-nilai budaya lokal,” ujar Rumini, sebagai perwakilan dari Pengukir Perempuan Jepara.
Ia juga menyampaikan rasa bangganya, ditengah-tengah seni ukir yang menghadapi persoalan regenerasi, SMKN 2 Jepara menjadi sekolah satu-satunya SMK yang memiliki Program Studi Kriya Kayu yang menjadikan Seni Ukir sebagai bahan ajar utama. “Semoga kerjasama ini bisa terus dilakukan demi pelestarian Ukir Jepara,” pungkas Rumini.
Dengan program pembelajaran yang melibatkan dunia usaha dan para pengukir sejak kelas X, SMK Negeri 2 Jepara optimistis dapat mencetak lulusan yang tidak hanya memiliki kompetensi vokasi yang unggul, tetapi juga siap bekerja, berwirausaha, dan berkontribusi dalam pengembangan industri kreatif berbasis budaya Jepara.
Septiana Wibowo













