GROBOGAN (SUARABARU.ID) – Program bantuan pangan berupa minyak goreng kembali menjadi perhatian publik setelah sejumlah warga Desa Penadaran, Kecamatan Gubug, Kabupaten Grobogan, mengeluhkan MinyaKita berbau solar.
Menanggapi persoalan tersebut, Dinas Ketahanan Pangan Grobogan langsung berkoordinasi dengan Bulog untuk memastikan minyak goreng yang bermasalah segera diganti kepada para penerima manfaat.
Keluhan mengenai bantuan pangan, MinyaKita berbau solar, dan langkah cepat Dinas Ketahanan Pangan Grobogan muncul setelah warga menghentikan penggunaan minyak goreng kemasan dua liter tersebut.
BACA JUGA : BNNP Jateng Sisir Tempat Hiburan di Cilacap, 9 Pengunjung Positif Narkoba
Aroma yang menyerupai bahan bakar solar membuat masyarakat khawatir terhadap keamanan produk yang mereka terima.
Minyak goreng tersebut merupakan bagian dari penyaluran bantuan pangan tahap keempat kepada keluarga penerima manfaat di Kabupaten Grobogan.
Sejumlah penerima bantuan mengaku baru mengetahui adanya aroma tidak biasa ketika kemasan dibuka dan minyak akan digunakan untuk memasak.
Kondisi itu kemudian dilaporkan kepada pemerintah desa hingga diteruskan kepada instansi terkait agar segera ditindaklanjuti.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan Grobogan, Suwarno, menyatakan pihaknya segera merespons laporan masyarakat dengan berkoordinasi bersama Bulog sebagai penyalur bantuan pangan.
BACA JUGA : 2.501 Rumah Tak Layak Huni di Blora Dapat Alokasi Perbaikan
Menurutnya, persoalan kualitas minyak goreng seperti ini baru ditemukan dalam penyaluran bantuan pangan tahap keempat.
Pihak dinas bersama Bulog langsung melakukan pendataan terhadap masyarakat yang menerima minyak goreng dengan kualitas yang diduga bermasalah.
Langkah tersebut dilakukan agar proses penggantian minyak goreng dapat berjalan tepat sasaran sesuai data penerima bantuan.
“Saat ini sudah dlakukan mapping data bagi masyarakat yang kualitas minyaknya ada masalah, pihak penyalur dalam hal ini Bulog, akan mengganti minyak tersebut kepada penerima bantuan pangan,” jelas Suwarno, Selasa 30 Juni 2026.
Dinas Ketahanan Pangan Grobogan juga memastikan proses pendataan telah memasuki tahap akhir sehingga penggantian minyak goreng bisa segera direalisasikan.
Suwarno menyebut jumlah keluarga penerima manfaat yang memperoleh bantuan minyak goreng cukup besar sehingga proses verifikasi dilakukan secara cermat.
BACA JUGA : Grup Al Hidayah Juara 1 Festival Jamjaneng 2026 PCNU Kebumen
Berdasarkan data yang dimiliki pemerintah daerah, terdapat 1.755 keluarga penerima manfaat yang menerima total penyaluran sebanyak 7.066 liter minyak goreng.
“Data yang sudah final telah didrop untuk penggantian minyak goreng,” jelas Suwarno.
Selain memastikan penggantian berjalan lancar, Dinas Ketahanan Pangan Grobogan juga meminta penyalur mempercepat distribusi minyak pengganti kepada seluruh penerima manfaat.
Langkah tersebut dinilai penting agar masyarakat tidak terlalu lama menunggu penggantian minyak goreng yang dinilai tidak layak digunakan.
Pemerintah daerah juga menekankan bahwa kualitas bahan pangan yang disalurkan kepada masyarakat harus menjadi perhatian utama seluruh pihak yang terlibat.
Menurut Suwarno, keamanan pangan tidak boleh diabaikan karena berkaitan langsung dengan kesehatan masyarakat sebagai penerima bantuan.
Karena itu, pihaknya berharap kejadian serupa tidak kembali terulang pada penyaluran bantuan pangan berikutnya.
“Dari kejadian ini, kami berharap Bulog yang menjadi penyalur bantuan pangan oleh Bapanas agar dapat menunjuk supplier yang baik, karena ini ‘kan terkait dengan keamanan bahan pangan dan kesehatan masyarakat,” tambahnya.
BACA JUGA : Kemenkum Jateng Dorong Regulasi Adaptif Melalui FGD Analisis dan Evaluasi Perda Kota Surakarta
Hasil penelusuran sementara juga menunjukkan keluhan minyak goreng tidak hanya berasal dari Desa Penadaran, Kecamatan Gubug.
Dinas Ketahanan Pangan Grobogan menerima laporan serupa dari keluarga penerima manfaat di wilayah Kecamatan Tawangharjo.
“Tidak hanya di Gubug saja, kami juga menerima info di Kemadohbatur,” pungkas Suwarno.
TYA WIDYA












