blank
Menjadi tradisi tahunan, setiap menyambut datangnya Tanggal 1 Sura, Keraton Kasunanan Surakarta selalu menggelar prosesi kirab pusaka dengan menyertakan Kerbau (Kebo) bule Kiai Slamet.(Dok.Ist)

SURAKARTA (SUARABARU.ID) – Dalam Kurup Asopon (Tahun Alip Selasa Pon), Tanggal 1 Sura sebagai awal kalender baru Tahun Be 1960 (2026 M) Windu Sancaya, jatuh Hari Rabu Kliwon Tanggal 17 Juni 2026. Sedang versi Kurup Aboge, masuk dalam hitungan Bemisgi. Artinya, setiap Tahun Be, Tanggal 1 Sura-nya jatuh pada Hari Kamis Legi.

Pedoman Aboge, mengacu pada setiap Tahun Alip, bahwa Tanggal 1 Sura jatuh pada Rabu Wage. Namun saat ini, siklusnya masuk dalam Kurup Asopon (Alip Seloso Pon), maka penentuan Tanggal 1 Sura-nya dimajukan satu hari dari hitungan versi Aboge. Artinya, bila dalam hitungan Aboge jatuh hitungan Bemisgi (Tahun Be Kamis Legi), maka dimajukan sehari yakni Rabu Kliwon.

Kurup adalah siklus periode 120 tahunan atau 15 windu dalam Kalender Jawa Mataram Islam Sultan Agung (MISA). Siklus kurup, digunakan untuk menyesuaikan perbedaan antara Kalender Jawa MISA (J) dan Kalender Hijriyah (H). Setiap Kurup, ada satu hari yang dihilangkan, untuk menyamakan siklus bulan dari kedua kalender tersebut.

Kalender Jawa MISA, menggunakan siklus 8 tahun (windu) dan memiliki sistem kabisat yang berbeda dengan Kalender Hijriyah. Kalender Jawa MISA memiliki 3 tahun kabisat dalam setiap 1 windu, sedangkan Kalender Hijriyah memiliki 11 tahun kabisat dalam setiap 30 tahun.

Terdapat selisih satu hari setiap 120 tahun antara kedua kalender tersebut. Untuk mengatasi perbedaan, Kalender Jawa MISA menggunakan sistem Kurup. Yaitu periode 120 tahunan, di mana satu hari dihapus untuk menyelaraskan dengan Kalender Hijriyah. Kurup yang sekarang berlaku, adalah Kurup Asapon (Alip Selasa Pon). Kurup ini, telah dimulai sejak Tahun Alip 1867 J atau 1936 Masehi (M). Periode siklus Kurup Asopon ini, berlangsung dari Tahun 1867 sampai Tahun 1987 J, atau dari Tahun 1936 sampai dengan Tahun 2053 M.

Lain lagi untuk versi Kalender Jawa Purwa (JP) yang mengacu pada pedoman Pranata Mangsa.Tahun Barunya, jatuh pada awal berlangsungnya Mangsa Kasa (Bulan I) atau setelah berakhirnya Mangsa Sadha (XI). Mangsa Sadha memiliki candra (sebutan) Surya Numpang Harga, berlangsung selama 41 hari, terhitung mulai Tanggal 11 Mei sampai dengan 21 Juni 2026.

Pedoman

Kemudian Mangsa Kasa (I) memiliki siklus 41 hari dan mempunyai candra Sotya Sinara Wedi. Ini dimulai dari Tanggal 22 Juni sampai dengan 1 Agustus 2026 mendatang. Dengan pedoman ini, maka Tahun Baru Jawa Purwa (JP) 2937 dimulai Senin Kliwon Tanggal 22 Juni 2026 mendatang.

Bagaimana dengan Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat ? Terlepas dari kemunculan dua raja Paku Buwono (PB) XIV yang sekarang terjadi. Yakni antara PB XIV Purbaya dan PB XIV Hangabehi, Keraton Surakarta Hadiningrat, dalam menyambut 1 Sura Tahun Dal 1960, akan menggelar Kirab Pusaka Rabu Kliwon tengah malam atau selepas Pukul 00.00 dini hari (17/7/26).

Budayawan Jawa Peraih Anugerah Bintang Budaya Kanjeng Raden Arya (KRA) Drs Pranoto Adiningrat MM, menyatakan, cara menentukan Tanggal 1 Sura dalam penanggalan Jawa MISA, berpedoman pada petung (perhitungan) Aboge dan Asopon.

Pranoto yang Abdi Dalem Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, menyatakan, Aboge adalah kependekan dari Tahun Alip Rebo Wage. Artinya, setiap Tahun Alip, Tanggal 1 Sura-nya jatuh pada Hari Rabu Wage. Kemudian Asopon, dipahami sebagai Tahun Alip Selasa Pon. Penjelasannya, manakala menganut Asopon, maka Tanggal 1 Sura jatuh pada hari Selasa Pon.

Tahun Jawa di sini, adalah Kalender Jawa yang diciptakan Raja Mataram Islam, Sultan Agung (1613-1645), dengan memadukan Kalender Saka dari India yang mendasarkan pergerakan matahari (solar), dengan Kalender Hijriyah (Kalender Islam) yang mendasarkan pada pergerakan bulan (lunar).

Perbedaan

Kalender Jawa  Sultan Agungan, dimulai pada Jumat Legi Tanggal 1 Sura Tahun Alip 1555 J atau 1 Muharram 1043 H (Tanggal 8 Juli 1633 M). Meski demikian, masih ada perbedaan perhitungan antara Tahun Jawa dan Tahun Hijiriyah. Tiap 120 tahun sekali, akan ada perbedaan satu hari pada kedua sistem penanggalan tersebut. Maka pada saat itu, Tahun Jawa MISA diberi tambahan satu hari.

Periode 120 tahun ini disebut dengan Kurup. Sampai awal abad 21 ini, telah terdapat empat Khurup. Yakni Kurup Jumuwah Legi/Amahgi (1555 J-1627 J/1633 M-1703 M), Kurup Kemis Kliwon/Amiswon (1627 J-1747 J/1703 M-1819 M), Kurup Rebo Wage/Aboge (1867 J-1987 J/1819 M-1963 M), dan Kurup Selasa Pon/Asapon (1867 J-1987 J/1936 M-2053 M).

Ada cara metodis untuk menghitung kapan Tanggal 1 Sura, menganut babon pedoman versi Aboge. Disebut Aboge, itu artinya setiap datang Tahun Alip, Tanggal 1 Sura-nya jatuh Rabu (Rebo) Wage. Setelah Aboge, kemudian Ekatpon. Yakni pada Tahun Ehe, Tanggal 1 Sura-nya jatuh pada Hari Akat Pon (Tahun Ehe, Akat Pon).

Selanjutnya Walmahpon (Tahun Jimawal, Jemuah/Jumat Pon). Berikut Jesoing (Tahun Je, Seloso Pahing). Giliran selanjutnya, Daltugi (Tahun Dal, Setu atau Sabtu Legi) dan Bemisgi (Tahun Be, Kamis Legi) sebagaimana yang berlangsung kali ini.

Berikut untuk Tahun Wawu, hitungannya mengacu pada Wunenwon (Tahun Wawu, Senin Kliwon). Kemudian Kirmahge, yang artinya pada Tahun Jimakir, Tanggal 1 Sura-nya jatuh Jemuah (Jumat) Wage. Untuk menyesuaikan ke versi Asopon, hitungan versi Aboge ini masing-masing dapat dimajukan satu hari.(Bambang Pur)