GROBOGAN (SUARABARU.ID) – Dinas Kesehatan Grobogan mencatat capaian program Cek Kesehatan Gratis (CKG) hingga 10 Juni 2026 masih didominasi kelompok bayi baru lahir.
Data yang dipaparkan Kepala Dinas Kesehatan Grobogan, dr Djatmiko, menunjukkan tingkat kehadiran bayi baru lahir dalam program tersebut mencapai 48,54 persen.
Dinas Kesehatan Grobogan melalui dr Djatmiko menjelaskan, kelompok peserta terbesar berikutnya berasal dari Balita Anak Pra Sekolah (Balapras) dengan persentase kehadiran mencapai 28,99 persen.
BACA JUGA : Ahmad Luthfi Ajak Ulama Jadi Penyejuk Bangsa di Tengah Banjir Hoaks dan Disinformasi
Program Cek Kesehatan Gratis tersebut terus dimanfaatkan masyarakat untuk mendeteksi berbagai risiko kesehatan sejak dini.
Selain bayi dan balita, anak usia sekolah dan remaja juga tercatat aktif mengikuti program tersebut. Kelompok usia sekolah dan remaja atau Usekrem memiliki tingkat kehadiran sebesar 23,32 persen.
Sementara itu, kelompok lanjut usia atau lansia mencatat tingkat kehadiran sebesar 21,07 persen. Adapun peserta usia dewasa yang mengikuti pemeriksaan kesehatan gratis tercatat sebesar 18,11 persen.
“Untuk Lansia itu catatan kami 21,07 persen, sedangkan usia dewasa tercatat hadir mengikuti cek kesehatan gratis 18,11 persen,” jelas dr Djatmiko.
Menurutnya, program CKG dirancang untuk memberikan layanan pemeriksaan kesehatan yang disesuaikan dengan kelompok usia masing-masing. Pemeriksaan tersebut bertujuan mendeteksi penyakit maupun faktor risiko kesehatan lebih awal.
Pada kelompok bayi baru lahir, pemeriksaan meliputi skrining berbagai kelainan bawaan. Pemeriksaan dilakukan sejak dini agar gangguan kesehatan dapat segera ditangani.
“Bayi yang baru lahir, program CKG ini meliputi skrining kelainan bawaan, seperti hipotiroid kongenital dan G6PD), pemeriksaan jantung bawaan sampai dengan pemantauan pertumbuhan dan perkembangan,” jelas dr Djatmiko.
Untuk kelompok Balita Anak Pra Sekolah, petugas kesehatan memfokuskan pemeriksaan pada skrining tuberkulosis (TBC), tumbuh kembang gigi, serta fungsi penglihatan dan pendengaran.
BACA JUGA : Tanggung Jawab Sosial dalam Interaksi Digital
Sementara itu, peserta usia sekolah hingga remaja usia 7-17 tahun menjalani pemeriksaan status gizi, tekanan darah, kadar gula darah, hingga kesehatan jiwa.
Selain itu, petugas kesehatan juga melakukan pemeriksaan kesehatan reproduksi serta deteksi anemia dan talasemia pada kelompok usia tersebut.
Bagi peserta usia dewasa, layanan CKG mencakup pemeriksaan tekanan darah, kadar kolesterol, gula darah, fungsi ginjal, serta skrining TBC.
Program ini juga menyasar deteksi dini berbagai penyakit tidak menular yang berisiko tinggi, seperti penyakit jantung, stroke, Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK), dan berbagai jenis kanker.
Data Dinas Kesehatan menunjukkan pemeriksaan tekanan darah menjadi salah satu layanan yang paling banyak dimanfaatkan masyarakat.
“Dinas Kesehatan Grobogan mencatat pengecekan tekanan darah hingga 10 Juni 2026 ada 139.998 orang dengan cakupan persentase 85,35 persen dari 164.032 peserta usia lebih dari 18 tahun,” jelas dr Djatmiko.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 106.053 orang memiliki tekanan darah dalam kategori normal. Namun, petugas juga menemukan sejumlah peserta dengan gangguan tekanan darah.
Tercatat sebanyak 15.172 orang mengalami hipertensi. Selain itu, sebanyak 12.848 orang masuk kategori tekanan darah meningkat.
Sisanya terbagi dalam kelompok hipertensi derajat 1, hipertensi derajat 2, hipertensi derajat 3, hingga hipertensi sistolik terisolasi.
BACA JUGA : FKG Unissula Perkuat Kompetensi Dokter Gigi di Bidang Periodonsia
“Yang perlu pemeriksaan lanjutan itu pasien yang mengalami tekanan darah meningkat,” tambahnya.
Pada indikator Indeks Massa Tubuh (IMT), Dinas Kesehatan mencatat sebanyak 144.349 peserta mengikuti pemeriksaan. Dari jumlah tersebut, sebanyak 44.001 orang masuk kategori gemuk atau overweight.
Peserta dengan berat badan normal tercatat sebanyak 61.144 orang. Angka ini menjadi kelompok terbesar dalam pemeriksaan IMT.
Sementara itu, kategori obesitas tingkat 1 tercatat sebanyak 29.298 orang. Sedangkan obesitas tingkat 2 ditemukan pada 6.319 peserta.
Petugas juga menemukan 3.590 peserta yang masuk kategori berat badan kurang atau underweight.
Untuk pemeriksaan lingkar perut, sebanyak 145.557 peserta usia di atas 18 tahun mengikuti skrining. Hasilnya, 108.262 orang memiliki ukuran lingkar perut normal.
“Sebanyak 37.295 orang mengalami obesitas sentral,” jelas dr Djatmiko.
Menurut dr Djatmiko, rendahnya tingkat kehadiran peserta usia dewasa dalam program Cek Kesehatan Gratis bisa menjadi indikator bahwa sebagian besar kelompok usia tersebut merasa dalam kondisi sehat sehingga belum memanfaatkan layanan yang tersedia.
Meski demikian, Dinas Kesehatan Grobogan tetap mendorong masyarakat dari seluruh kelompok usia untuk mengikuti Cek Kesehatan Gratis.
Kepala Dinas Kesehatan Grobogan dr Djatmiko berharap cakupan program semakin luas agar berbagai penyakit dapat terdeteksi lebih awal dan penanganan medis bisa dilakukan sebelum menimbulkan komplikasi serius.
“Kita harapkan, program CKG ini bisa didapatkan oleh masyarakat karena tujuan utamanya untuk melakukan deteksi dini terhadap berbagai penyakit atau risiko kesehatan sejak dini agar penanganan dan pengobatan dapat dilakukan secepat mungkin sebelum terjadi komplikasi,” pungkas dr Djatmiko.
TYA WIDYA













