blank
Dalang muda Ki Rama dari ISI Surakarta, menyajikan Lakon Rama Tambak di acara tradisi Bersih Dusun di Dusun Brubuh, Desa Ngadirojolor, Kecamatan Ngadirojo, Kabupaten Wonogiri.(Dok.Ist)

WONOGIRI (SUARABARU.ID) – Bersih Dusun, merupakan tradisi Jawa yang lestari turun-temurun sejak nenek moyang. Digelar oleh komunitas warga di masing-masing pedusunan. Tradisi yang menjadi event wisata budaya ini, sering disebut pula sebagai Bersih Desa, Memetri Desa atau Rasulan.

Diselenggarakan setiap tahun sekali, seusai kaum agraris memetik panen. Utamanya dilakukan warga di pedesaan kawasan selatan-selatan Pula Jawa wilayah Pawonsari. Yakni di Kabupaten PAcitan (Jawa Timur), Kabupaten WONogiri (Jawa Tengah) dan WonoSARI Gunungkidul (Daerah Istimewa Yogyakarta/DIY).

Biasanya, ramai digelar pada Bulan Besar dan Sura. Ini menjadikan Bulan Besar dan Sura, sebagai bulan gampang nonton wayang. Sebab, hampir semua pedusunan yang mengadakan tradisi Bersih Dusun, selalu menyertakan pagelaran wayang kulit. Disamping acara baku kenduri selamatan, sebagai media pemanjatan doa dan pernyataan wujud syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Sebagaimana yang terjadi Malam Selasa Kliwon atau Senin malam (1/6/26) misalnya. Di Dusun Keblokan, Desa Sendang Ijo, Kecamatan Selogiri, Kabupaten Wonogiri, menggelar wayang kulit semalam suntuk. Menyajikan lakon Bimo Suci oleh Dalang Ki Anjat Sutrisno. Diiringi Group Seni Karawitan Bagaskara Kusuma Laras dari Dusun Sukorejo, Desa Gemawang, Kecamatan Ngadirojo, Kabupaten Wonogiri. Dimeriahkan Bintang Tamu Pelawak Gareng Semarang.

Pada waktu bersamaan, wayangan Bersih Dusun di Dusun Kajar, Desa Pokoh Kidul, Kecamatan Wonogiri, Kabupaten Wonogiri, menyajikan Lakon Semar Ngejawantah. Dimainkan Dalang Ki Widodo Wilis, menyertakan Bintang Tamu Gareng Tralala dan Mboke Ganden.

Bersih Dusun di Dusun Dawe, Desa Watu Agung, Kecamatan Baturetno, Kabupaten Wonogiri, semalam, menggelar wayang kulit Lakon Tinuntun Wahyu Sejati. Dimainkan Dalang Ki Bagong Yunioko. Dalang Ki Bagong Yunioko, sebelumnya juga tampil di Bersih Dusun Ngulu Wetan, Desa Praci, Kecamatan Pracimantoro, Kabupaten Wonogiri. Menyajikan Lakon  Wahyu Makutarama.

Dalang Ki Jangkung Sugiyanto SSn, mendalang di acara Bersih Dusun Ngululor, Desa Praci, Kecamatan Pracimantoro, Kabupaten Wonogiri. Kemudian Dalang Muda Ki Rama (Sahrul Oktavian Ramadhan, mendalang di acara Bersih Dusun di Dusun Brubuh, Desa Ngadirojo Lor, Kecamatan Ngadirojo, Kabupaten Wonogiri.

Duet Mawut

Ki Rama, Mahasiswa ISI Surakarta ini, pernah meraih juara lomba dalang remaja tingkat Kabupaten Wonogiri. Dia tampil bersama dalang cilik Kenzo Gibran El Barra (Kelas 2 SD negeri Purworejo). Lakon yang dibawakan Rama Tambak. Menampilkan Bintang Tamu Bagong Soemantri dari Kabupaten Boyolali.

blank
Bintang Tamu Bagong Soemantri dari Kabupaten Boyolali, tampil meramaikan wayangan semalam suntuk di acara Bersih Dusun di Dusun Brubuh, Desa Ngadirojolor, Kecamatan Ngadirojo, Kabupaten Wonogiri.(Dok.Ist)

Sebelumnya, Ki Rama, dalam Bersih Dusun di Dusun Ngaglik, Desa Pulutan Kulon, Kecamatan Wuryantoro, Kabupaten Wonogiri, tampil mendalang dalam atraksi ‘duet mawut’ bersama Dalang Ki Alifian Nur Rohmad Arif. Yakni dalang muda yang tengah naik daun, yang mahir memainkan sabet dan piawai menampilkan gerak wayang secara atraktif.

Anggota DPRD Kabupaten Wonogiri, Widiyatno SH, mengatakan, Bersih Dusun memang identik dengan pagelaran wayang kulit semalam suntuk. Wakil Rakyat yang pernah menjabat Kepala Desa (Kades) ini, menyatakan, hampir semua dusun menggelar wayangan saat melaksanakan tradisi Rasulan.

Parmin, salah seorang warga Dusun Pelem, Desa Watangrejo, menyatakan, sumber dana untuk Bersih Dusun, dikumpulkan dari iuran warga. Setiap warga memberikan iuran masing-masing Rp 165 ribu. ”Disamping wayangan, juga dilaksanakan turnamen bola voli berhadiah,” ujar Parmin.

Budayawan Jawa peraih anugerah Bintang Budaya, Drs Kanjeng Raden Arya (KRA) Pranoto Adiningrat MM, menyatakan, Bersih Dusun memiliki sejarah panjang di masyarakat Jawa. Keberadaannya, dituliskan pada Ensiklopedi Kejawen, Buku Bauwarna Adat Tata Cara Jawa karya Drs R Harmanto Bratasiswara. pada halaman 123-124.

Bersih Dusun, menjadi tradisi masyarakat Jawa yang dimensional. Satu sisi, sebagai wujud syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Yang telah memberikan anugerah rezeki atas diperolehnya panen hasil bumi yang melimpah. Melalui Bersih Dusun, warga juga memaknai keberadaan Danyang Cikal Bakal, yakni tokoh pendahulu yang berjasa telah membuat dusun sebagai hunian tempat tinggal. Juga menjadi media permohonan doa tolak balak, untuk membersihkan desa dari gangguan gaib negatif, agar warga senantiasa selamat, hidup aman dan tenteram.(Bambang Pur)