blank

SALATIGA (SUARABARU.ID) – Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) menggelar Workshop Anti-Bullying “Dampak Medis, Psikologi, dan Hukum” dengan suasana interaktif yang asyik pada Kamis (21/5/2026).

Kegiatan ini berlangsung di Balairung Universitas dengan menghadirkan dr. Marcella Aprilia, M.M dan Profesor Dr. Ferdy S. Rondonuwu sebagai narasumber.

Marcella Aprilia merupakan sosok inspiratif dengan beragam talenta dan pencapaian membanggakan. Dikenal luas sebagai Marcella Violin, ia tidak hanya berprofesi sebagai dokter, tetapi juga aktif sebagai violinist dan penyanyi.

Kepiawaian Marcella sebagai violinist membuka sesi paparan yang bertajuk Membangun Budaya Empati di Lingkungan Pendidikan. Dengan gaya interaktifnya, Marcella yang saat ini tengah menempuh studi di Magister Ilmu Hukum, Fakultas Hukum (FH) UKSW menyampaikan materi seputar bullying mulai dari definisi dan jenis, dampak medis dan psikologis, aspek hukum serta strategi pencegahan dan penanganan di sekolah.

Di hadapan ratusan peserta yang terdiri dari mahasiswa Program Studi Bimbingan dan Konseling (BK), Pendidikan Matematika, Pendidikan Guru Sekolah Dasar, serta mahasiswa Pendidikan Profesi Guru (PGG) UKSW, Marcella mengingatkan bahwa guru memiliki posisi yang sangat penting dalam pencegahan bullying karena dampaknya sangat luas baik secara fisik maupun psikologis.

“Peran guru dan calon guru sangat penting sebagai role model di sekolah. Guru harus mampu membangun budaya empati, mendampingi korban maupun pelaku, serta menciptakan lingkungan belajar yang aman,” ujar Marcella.

Profesor Ferdy S. Rondonuwu yang juga Wakil Rektor Bidang Pengajaran, Akademik, dan Kemahasiswaan (WR PAK) dalam materinya menyatakan, membangun pembelajaran yang lebih sehat merupakan hal yang penting dalam dunia pendidikan. Menurutnya, pembelajaran yang sehat akan memberikan ruang bagi siswa untuk pulih, berkembang, dan berani berpikir.

Guru Besar bidang Ilmu Fisika ini juga menyoroti budaya pendidikan di Indonesia yang masih sering membuat siswa takut berbeda pendapat atau takut dianggap salah. Dalam banyak forum, ketika diberi kesempatan bertanya, hanya sedikit siswa yang berani mengangkat tangan.

“Karena itu, pendekatan pembelajaran modern seperti student-centered learning, inquiry learning, problem-based learning, dan project-based learning menjadi penting untuk diterapkan. Dasar utama dari semua pendekatan tersebut adalah kemampuan guru dalam mengajukan pertanyaan yang mendorong siswa berpikir,” imbuhnya.

Pendidikan Berdaya

Dekan FKIP Dr. Helti Lygia Mampouw, S.Pd., M.Si., menyampaikan bahwa sekolah harus menjadi tempat yang nyaman dan menyenangkan untuk belajar sekaligus mengembangkan potensi peserta didik, karena lingkungan yang kondusif menumbuhkan rasa aman, nyaman, dan bahagia.