
“Penurunan itu tak hanya dilakukan oleh pemerintah, tetapi harus diimbangi dengan kolaborasi lintas sektor dan kepedulian masyarakat. Kami targetkan zero stunting pada 2030 mendatang, tetapi tidak mudah. Harus pelan-pelan dan diupayakan berbagai pihak,” ujar Endah.
Ketua TP PKK Kabupaten Kudus turut mengamini pentingnya pengawasan dalam pelaksanaan program pemenuhan gizi. “Secara pentaheliks pihaknya juga turut memastikan bahwa setiap dapur SPPG harus memenuhi standarisasi sesuai regulasi badan gizi nasional. Dengan begitu, program tersebut bisa bermanfaat dan tidak menimbulkan gangguan atau potensi keracunan,” pungkas Endah.
Pada kesempatan tersebut, Rusman juga menekankan pentingnya gerakan cegah stunting sejak dini melalui lima program prioritas Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN, yaitu Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (GENTING), Taman Asuh Sayang Anak (TAMASYA), Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI), hingga program Lansia Berdaya (SIDAYA) yang seluruhnya bertujuan memperkuat kualitas keluarga.
“Diawali memperkuat dan memperbaiki kualitas keluarga, maka kualitas masyarakat dan bangsa akan menjadi kuat dan baik pula,” ujar Rusman.
Selain sosialisasi, kegiatan juga diisi dengan demo masak menu sehat bergizi dan lomba memasak sesuai program Dapur Sehat Atasi Stunting bersama PT Kobe Boga Utama sebagai edukasi pemenuhan nutrisi keluarga untuk mendukung pencegahan stunting sejak dini.
Mita/R. Widiyartono













