DEMAK (SUARABARU.ID) – Mahasiswa KKN Reguler 86 Posko 12 UIN Walisongo Semarang melaksanakan program kerja bertema “Seni Menjemput Rupiah: Mengolah Potensi Desa Menjadi Bisnis yang Berdaya Jual”, Kamis, 07 Mei 2026.
Workshop Kewirausahaan dan Pelatihan Tas dengan Teknik Sashiko bersama ibu-ibu PKK Desa Ngegot, Kecamatan Mijen, Kabupaten Demak ini berlangsung di Balai Desa Ngegot dan dihadiri oleh Ketua PKK Desa Ngegot Sri Khomsatun, Bidan Desa Hajjah Isnah, para pemateri, serta ibu-ibu PKK Desa Ngegot.

Workshop ini menghadirkan dua pemateri, yaitu Nailis Sa’adah dan Indah Laili, yang memberikan pelatihan mengenai pemanfaatan limbah kain tenun troso menjadi produk kerajinan bernilai ekonomi. Dalam kegiatan tersebut, peserta diperkenalkan pada teknik sashiko, yaitu teknik jahitan khas Jepang berbentuk jelujur berpola yang kini banyak digunakan sebagai elemen dekoratif pada berbagai produk kerajinan seperti totebag, aksesoris, dan hiasan kain.
Nailis Sa’adah menjelaskan bahwa kain Troso merupakan kain tenun yang dibuat secara manual dan dalam pelatihan ini memanfaatkan kain perca Troso sebagai bahan utama pembuatan kerajinan. “Sebelum digunakan, kain harus dicuci terlebih dahulu untuk menghindari penyusutan sehingga hasil jahitan menjadi lebih rapi dan tahan lama,” ujarnya

“Teknik jahit sashiko merupakan teknik jahitan khas Jepang berupa jahitan jelujur berpola yang awalnya digunakan untuk memperkuat kain, namun saat ini juga berkembang menjadi hiasan dekoratif pada berbagai kerajinan,” jelas Nailis Sa’adah sebagai pemateri workshop.
Dia juga menambahkan bahwa proses pembuatan kerajinan memerlukan perpaduan warna dan ukuran kain yang sesuai agar menghasilkan produk yang menarik dan memiliki nilai jual. Selain itu, seluruh proses jahit dilakukan secara manual menggunakan tangan sehingga membutuhkan ketelitian dan kesabaran dalam pengerjaannya.
“Untuk pembuatan kerajinan totebag dari kain troso, bahan yang digunakan tidak perlu terlalu besar karena proses pengerjaannya cukup memakan waktu. Satu produk totebag dapat diselesaikan sekitar 2,5 jam tergantung tingkat kerumitan pola jahitan,” tambahnya.
Ketua PKK Desa Ngegot, Sri Khomsatun, menyampaikan apresiasinya terhadap kegiatan yang dilaksanakan mahasiswa KKN UIN Walisongo. Menurutnya, program pelatihan kewirausahaan seperti ini merupakan kegiatan baru yang belum pernah dilaksanakan pada program KKN sebelumnya di Desa Ngegot.
“Acara ini sangat bermanfaat. KKN sebelumnya di desa ini belum ada kegiatan seperti ini, baru pertama kali dan baru tahun ini dilaksanakan,” ujarnya.
Dia juga menilai bahwa pelatihan keterampilan pemanfaatan kain troso memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi peluang usaha masyarakat
“Sangat penting dan memiliki potensi untuk dikembangkan sehingga bisa menghasilkan cuan bagi masyarakat, khususnya ibu-ibu PKK,” tambahnya.
Lebih lanjut, Sri Khomsatun berharap kegiatan pelatihan tersebut dapat memberikan dampak positif bagi masyarakat dan membantu meningkatkan kesejahteraan keluarga.
“Harapan ke depannya semoga kegiatan seperti ini bisa membantu perekonomian keluarga dan mahasiswa KKN dapat terus berbaur dengan masyarakat dalam setiap kegiatan sehingga masyarakat tetap antusias seperti acara kali ini,” tuturnya.
Kegiatan workshop diakhiri dengan praktik langsung pembuatan totebag menggunakan teknik sashiko. Peserta tampak antusias mencoba membuat pola dan jahitan secara mandiri dengan pendampingan dari mahasiswa KKN dan pemateri. Melalui kegiatan ini, mahasiswa KKN Reguler 86 Posko 12 berharap keterampilan yang diberikan dapat menjadi langkah awal dalam mengembangkan potensi ekonomi kreatif masyarakat Desa Ngegot berbasis keterampilan dan pemanfaatan limbah kain.
Hadepe – Aden Sandy Febriyansah













