blank
Ilustrasi keluarga. Foto: reka SB.ID

Oleh Jhosef Nanda Putrablank

DAPAT dikata, perjuangan terpanjang adalah perjuangan dalam berkeluarga. Ini adalah hubungan pernikahan. Dalam kalimat lain, dikatakan bahwa doa terpanjang adalah pernikahan. Tak disangkal, bahwa dalam hubungan pernikahan, baik buruknya pasangan menjadi makanan sehari-hari. Sebagai keniscayaan, kedua kutub hidup pasangan itu harus diterima dengan lapang dada. Belum lagi jika telah hadir keturunan, tentu permasalahan akan kian kompleks.

Yang paling berat dalam hidup berkeluarga itu apa? Saya pun tidak tahu. Saya menulis mengenai ini pada posisi belum berkeluarga. Lalu kenapa saya menulis soal ini? Hemat saya, semata-mata tulisan ini hanya sebagai hasil analisis saya mengenai kehidupan berkeluarga. Dan menurut saya, siapa pun Anda yang masih bujangan, wajib melakukan analisis yang baik dan juga dalam, mengenai hidup berkeluarga.

Jadi teman-teman pembaca, jangan sentimen dalam menanggapi secuil tulisan ini ya, karena ini hanya analisis saya. Selamat membaca!

Tugas Tertua Manusia

Berkeluarga. Ini merupakan tugas manusia paling tua, setua peradaban manusia itu sendiri. Mau ditinjau dari kisah manapun, berkelurga adalah tugas yang melekat dengan eksistensi manusia.

Secara biologis, berkeluarga adalah strategi evolusioner yang paling efisien demi menjaga keberlanjutan hidup manusia. Tapi bernarkah demikian? Di titik inilah saya mau mencoba memisahkan pengertian berkeluarga dengan perkawinan semata.

Berkeluarga, kendati ada unsur biologis di dalamnya, lebih kompleks dari sekedar perkawinan. Ini bukan sekedar persoalan kawin dan memperbanyak keturunan. Dalam psikologi, keluarga bukanlah unit biologis yang statis. Keluarga merupakan unit emosional yang dinamis.

Pertama saya akan mengulas bahwa keluarga adalah sebuah sistem. Dalam psikologi, ini bisa dibedah dengan Family System Theory. Teori yang dikembangkan oleh Murray Bowen ini bicara bahwa keluarga bukan sekadar kelompok individu, melainkan sebagai unit emosional. Ini artinya, ada keterkaitan secara emosional antara satu anggota dengan anggota keluarga lainnya. Permasalahan satu orang individu dalam keluarga merupakan permasalahan satu keluarga.

Beberapa waktu yang lalu saya pernah mendengar kesaksian sebuah keluarga yang sedang mengalami badai permasalahan. Seorang anak remaja yang dirawat sejak kecil, dibiayai sekolah dan dipenuhi segala macam kebutuhannya, justru menjadi petaka bagi keluarga kecil ini. Remaja ini yang dikenal pendiam dan jarang bersosialisasi, ternyata diam-diam terjerat oleh bahaya judi daring dan pinjaman daring, yang membuahkan utang ratusan juta rupiah.

Kedua orang tuanya yang tidak menyangka soal permasalahan ini, terkejut bukan kepalang. Mereka harus pontang-panting kesana-kemari untuk membereskan hutang yang bunganya kian membengkak itu. Lalu apakah mereka akan tinggal diam dan tak ambil pusing, karena ini adalah masalah si anak? Tentu tidak.

Permasalahan yang ditimbulkan oleh anak tersebut akhirnya menjadi masalah keluarga. Masalah keluarga secara menyeluruh. Ini timbul karena sekali lagi, keluarga adalah unit emosional, satu sama lain saling terkait secara emosional.

Berikutnya dalam teori ini, ada keadaan dalam keluarga yang ideal, yaitu keadaan homeostatis secara emosional. Keluarga yang baik, secara benar akan menjaga keseimbangan (homeostatis) emosional, bukan sekedar berkembang biak saja (biologis). Keluarga yang tidak terus menerus menjaga keseimbangan emosional setiap harinya, akan mudah runtuh jika dihadapkan dengan konflik nilai, atau saat mengalami peristiwa-peristiwa yang berat dan traumatis.

Pondasi ini harus kuat sejak kehidupan pra-keluarga. Setiap pasangan harus memahami bahwa menerapkan mekanisme homeostatis berkeluarga adalah penting, dan harus diperjuangkan setiap harinya. Jika ada perdebatan, Anda harus tahu bagaimana menyelesaikannya. Jika ada permasalahan di masa lalu yang belum beres, Anda tahu mengomunikasikannya dengan pasangan. Ini adalah contoh bagaimana menjaga keseimbangan emosional (homeostatis) keluarga.

Selanjutnya saya tertarik untuk memperluas kacamata analisis mengenai keluarga dengan pemikiran Viktor Frankl (Logoterapi). Frankl dikenal dengan pandangannya mengenai manusia sebagai individu yang mencari makna.

Ini memperjelas bahwa dorongan berkuarga bukanlah biologis semata (perkawinan atau menciptakan keturunan), melainkan jauh lebih dalam daripada itu adalah proses mencari makna. Inilah yang membedakan manusia dengan makhluk apapun di muka bumi ini.

Alhasil dari pandangan ini, berkeluarga memerlukan kerangka makna yang jelas melalui hidup bertanggung jawab, pengorbanan, saling mengerti, cinta altruistik (mementingkan orang lain) dan cinta yang tanpa syarat (agape). Hidup yang bermakna ini adalah kebutuhan eksistensial yang jauh melampaui dorongan hormonal untuk kawin. Itulah berkeluarga.

Di era sekarang ini, keluarga menjadi rentan berakhir kandas. Hemat saya, ini terjadi karena tak dipahaminya hidup berkeluarga sebagai proses panjang untuk mencari makna. Kalau proses ini dipahami dengan benar, keluarga tidak menjadi mudah hancur. Percaraian sekuat mungkin akan dihindari, karena setiap konflik yang ada merupakan jalan menuju kebermaknaan.

Dalam teori Frankl, jalan menemukan makna dalam kehidupan berkeluarga dapat ditempuh melalui tiga nilai. Pertama adalah nilai kreatif (creative value). Bahwasanya, hidup berkeluarga bukan sekedar “membuat anak”, melainkan merawat, membentuk karakter anak, menanamkan nilai dan membangun ekosistem keluarga yang sehat yang menular kepada orang sekitar. Ini adalah proses yang kreatif dimana keluarga memberikan sesuatu kepada dunia, yang merupakan karya terbaik sebuah keluarga.

Kedua adalah nilai pengalaman (experiential value). Nilai ini bicara tentang bagaimana seseorang menerima sesuatu keindahan dari dunia, melalui cinta, kasih sayang, seni dan keindahan. Mencintai anggota keluarga adalah cara terdalam untuk memahami keunikan inti spiritual orang lain.

Frankl mengatakan bahwa  “mencintai adalah satu – satunya cara untuk memahami hakikat terdalam dari pribadi manusia.”. Di dalam keluarga, Anda mencintai pasangan dan anak bukan karena fungsinya semata (sebagai pencari nafkah atau pengurus rumah tangga), melainkan karena keberadaannya yang unik dan tak tergantikan.

Dan nilai yang terakhir adalah nilai bersikap (attitudinal value). Ini adalah bagaimana kita menyikapi setiap peristiwa yang terjadi dalam kehidupan berkeluarga. Baik yang baik-baik, maupun yang membuat pusing kepala. Ini tentang bagaimana kita bersikap. Alih-alih mengakhiri keluarga, tantangan ekonomi, sakit dan lainnya justru menjadi ruang untuk menunjukkan keteguhan martabat sebagai manusia. Pada titik itulah sebuah makna bisa dijumpai.

Frankl percaya bahwa setiap orang memiliki kebebasan terakhir, yaitu kebebasan bersikap. Dalam keluarga, sikap anda pada masalah yang ada menentukan apakah masalah itu akan menghancurkan keluarga atau justru berpotensi menjadi semen yang mempererat ikatan emosional keluarga.

Replikasi dalam Berkeluarga

Pada akhirnya, saya berkesimpulan bahwa secara biologis kita hanya membutuhkan replikasi dalam berkeluarga. Namun secara psikologis kita butuh terkoneksi. Perbedaan diantara keduanya terletak pada titik dimana kemanusiaan kita diuji dan dikembangkan.

Perkawinan adalah pintu awal masuk dalam kehidupan berkeluarga, namun pembangunan “rumah” emosional adalah kerja psikologis seumur hidup. Jadi untuk Anda yang belum berkeluarga, takarlah kekuatan pondasi pada diri Anda untuk berkeluarga.

Dan untuk Anda yang sudah berkeluarga, mari mulai sadari bahwa keluarga adalah sebuah unit emosional yang dinamis serta merupakan proses panjang dalam pencarian makna.

Jhosef Nanda, alumni Fakultas Psikologi Universitas Katolik Soegijapranata Semarang, Pamong remaja Bagimu Negeriku (sebuah Rumah Bhinneka)