blank
Ilustrasi BAZNAS. Foto: Dok/BAZNAS

Mereka menyatakan mencakup perkiraan mendalam atas penurunan kognitif yang diukur mulai mempengaruhi efektivitas kepemimpinannya di Gedung Putih.

Isu ini semakin mencuat setelah anggota DPR, Jamie Raskin, menjadi salah satu sosok yang paling vokal dalam mendesak dokter kepresidenan untuk segera melakukan tes kognitif terhadap Trump. Raskin menilai bahwa berbagai pernyataan yang dikeluarkan Trump dalam beberapa waktu terakhir menunjukkan perubahan perilaku yang mempengaruhinya.

Perubahan perilaku ini memicu spekulasi di kalangan masyarakat mengenai kemungkinan gejala demensia sebagai salah satu penyebab utama menurunnya fungsi kognitif sang Presiden. Sorotan terhadap kesehatan mental Trump ini tidak lepas dari kebijakan kontroversialnya, terutama terkait ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran . Sejak akhir Februari lalu, pernyataan Trump yang dianggap memicu ancaman perang terhadap Iran telah memicu gelombang kritik dari berbagai pihak.

Bahkan, situasi ini telah mendorong munculnya desakan pemakzulan terbaru dari sejumlah petinggi Kongres, khususnya dari Fraksi Demokrat. Sebagian besar rakyat Amerika Serikat dilaporkan setuju dengan langkah-langkah pemakzulan tersebut, mengingat kebijakan Trump yang dianggap berisiko memicu konflik bersenjata.

Mereka memandang bahwa ancaman terhadap Iran dan ketidakstabilan perilaku Presiden merupakan alasan kuat untuk mengambil langkah tegas demi kepentingan nasional.

Demensia adalah penurunan fungsi kognitif seperti daya ingat, berpikir, dan bernalar yang mengganggu aktivitas sehari-hari. Gejala utamanya meliputi sering lupa (pikun), disorientasi waktu/tempat, sulit fokus, komunikasi terganggu, perubahan perilaku (menjadi emosional/apatis), dan kesulitan merencanakan kegiatan.

Gejala Umum dan Awal Demensia

Gangguan Memori Jangka Pendek: Sering lupa hal yang baru saja terjadi, menanyakan hal yang sama berulang kali, atau menaruh barang tidak pada tempatnya.iliar.

Penurunan Kemampuan Kognitif: Sulit fokus, bingung melakukan aktivitas rutin (misalnya memasak atau mengatur keuangan), dan sulit memecahkan masalah.

Perubahan Perilaku dan Kepribadian: Menjadi arogan, egois, mudah marah, depresi, curiga, atau menarik diri dari pergaulan. Kurang menghargai orang lain atau “ngewongno”.

Tes kemampuan kognitif adalah sebuah evaluasi sistematis terhadap fungsi kognitif atau mental seseorang. Fungsi kognitif mencakup cara otak memproses, menyimpan, dan menggunakan informasi. Area yang diukur meliputi kemampuan belajar, pemecahan masalah, dan pengambilan keputusan. Ini adalah indikator penting kesehatan otak secara keseluruhan.