JEPARA (SUARABARU.ID) – Dua dalang cilik perempuan binaan Sanggar Prabakusuma Jepara Nafihta Agustina Ramadhani (13) dan Dayu Vita Asih Widayasti (16) , sukses menyita perhatian publik melalui penampilan wayang kulit yang memukau dalam ajang Heritage Performing Arts, yang digelar di pendapa RA Kartini Jepara Sabtu (25/4/2026).

Pembukaan pagelaran tersebut dilakukan oleh Bupati Jepara Witiarso Utomo dengan menyerahkan wayang kepada Nafihta Agustina Ramadhani dan Wagub Gus Ibnu Hajar kepada Dayu Vita Asih Widayasti. Sebelumnya wayang tersebut diserahkan oleh Direktur Utama Perusda Aneka Usaha Wike Dwi Utomo kepada Bupati dan Wakil Bupati.

Hadir juga menyaksikan pagelaran, Sekda Jepara Ary Bachtiar dan Kepala Disparbud Jepara Ali Hidayat serta ratusan penonton.
Penampilan keduanya menjadi bukti nyata regenerasi seni sekaligus upaya pelestarian Wayang Kulit di kalangan generasi muda, khususnya perempuan.

Dalam pementasan tersebut, kedua dalang cilik tampil percaya diri dengan teknik pedalangan yang terbilang matang untuk usia mereka. Kemampuan dalam mengolah vokal, membangun karakter tokoh, serta mengatur alur cerita mendapat apresiasi tinggi dari para penonton, mulai dari masyarakat umum, pegiat seni, hingga Bupati dan Wakil Bupati Jepara.

Saat menampilkan adegan goro-goro, beberapa kali mereka mendapatkan aplause penonton. Bahkan mengajak Bupati untuk “nembang” yang kemudian di wakili oleh Kepala Disparbud Ali Hidayat dengan dialog dan menyanyikan lagu Jepara Istimewa.

Ditemui di sela kegiatan, Nafihta Agustina Ramadhani, dalang cilik asal Kembang, Desa Dermolo, mengungkapkan lakon yang dibawakannya.
“Saya hari ini menampilkan lakon Srikandi Tandang,” ujarnya.
Ia juga menegaskan pentingnya peran generasi muda dalam menjaga kelestarian budaya, khususnya keterlibatan perempuan dalam dunia pedalangan.

“Untuk melestarikan. Dalang perempuan itu sekarang sudah jarang, jadi kami ingin ikut menjaga agar budaya ini tidak hilang,” jelasnya.
Menurutnya, keterlibatan anak-anak dalam seni tradisi perlu terus didorong agar warisan budaya tetap hidup di tengah perkembangan zaman.
“Semoga ke depan semakin banyak anak-anak yang mau melestarikan budaya Jawa,” tuturnya.

Menurut Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Jepara, Ali Hidayat kehadiran dalang perempuan usia dini ini dinilai sebagai langkah progresif dalam membuka ruang inklusivitas di dunia pedalangan yang selama ini identik dengan laki-laki. “Di balik kelir, kepiawaian mereka dalam menggerakkan wayang yang selaras dengan iringan gamelan mencerminkan proses latihan yang intens serta dukungan lingkungan yang kuat,” ujarnya usai pagelaran
Ia menilai melalui penampilan tersebut, dalang cilik perempuan tidak hanya menghadirkan pertunjukan berkualitas, tetapi juga membawa harapan baru bagi keberlangsungan ekosistem seni tradisi Indonesia di tengah arus modernisasi.
Direktur Utama Perusda Aneka Usaha Wike Dwi Utomo selaku penyelenggara pun berharap kegiatan serupa dapat terus digelar secara berkelanjutan sebagai media strategis edukasi dan pelestarian budaya. ” Ini baru pembuka dan tentu akan terus kami gelar untuk mengidupkan museum RA Kartini dan juga untuk merawat budaya tradisi,” tegasnya
Sementara Bupati Jepara dalam sambutannya yang disampaikan oleh Wakil Bupati M. Ibnu Hajar memberikan apresiasi pada pagelaran tersebut. “ Ini langkah kongkrit bahwa seni budaya tradisi mendapatkan tempat di Bumi Kartini yang membawa misi Jepara Mulus,” ujarnya
Hadepe -Ika Putri Aprlia













