blank
Gelar Wicara Peringatan Hari Kartini ke-147, hadir pula Staf Khusus Menteri Kebudayaan Bidang Diplomasi Kebudayaan dan Hubungan Internasional Anisa Rengganis, SIP., MA. Foto: Septi.

JEPARA (SUARABARU.ID) – Suasana khidmat sekaligus hangat terasa di Pendopo Kabupaten Jepara siang tadi 21 April 2026. Usai diadakan Upacara Peringatan Hari Kartini ke-147 di Halaman Setda Kabupaten Jepara.

Kegiatan ini menjadi ruang temu lintas gagasan dan lintas zaman, menghadirkan berbagai tokoh dari latar belakang yang berbeda untuk membicarakan kembali relevansi pemikiran R.A. Kartini di tengah dinamika zaman.

blank
Foto bersama peserta dan tamu undangan didampingi langsung oleh Bupati Witiarso Utomo beserta Istri. Foto: Septi.

Acara diawali dengan pembukaan yang sederhana namun sarat makna, dilanjutkan dengan penampilan tari selamat datang dari siswa SLB Jepara. Gerakan yang luwes dan ekspresif itu seolah menjadi simbol semangat inklusivitas bahwa nilai-nilai Kartini hidup di semua kalangan, tanpa batas.

Hadirin kemudian berdiri bersama menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, disusul Mars Jepara dan lagu “Ibu Kita Kartini”. Suasana berubah menjadi penuh haru ketika lirik-lirik perjuangan perempuan Indonesia menggema di dalam pendopo, mengingatkan kembali akan panjangnya jalan yang telah dilalui.

blank
Wakil Bupati Ibnu Hajar mewakili Bupati Jepara Witiarso Utomo untuk membuka acara. Foto: Septi.

Memasuki sesi sambutan, Direktur Sejarah dan Permuseuman Kementerian Kebudayaan, Agus Mulyana, menyampaikan pentingnya merawat ingatan sejarah sebagai fondasi membangun masa depan. Ia menekankan bahwa Kartini bukan hanya tokoh masa lalu, tetapi juga sumber inspirasi yang terus relevan dalam membangun kesadaran budaya dan pendidikan.

Acara kemudian secara resmi dibuka oleh Bupati Jepara Witiarso Utomo yang diwakilkan oleh Wakil Bupati Ibnu Hajar, yang dalam sambutannya menegaskan komitmen pemerintah daerah untuk terus mendorong peran perempuan dalam berbagai sektor kehidupan.

blank
Demo melukis oleh Komunitas Lukis Asta di halaman Pendopo Jepara. Foto: Septi.

Pembukaan ditandai dengan ajakan untuk menjadikan semangat Kartini sebagai gerak bersama, tidak hanya dalam seremoni, tetapi juga dalam tindakan nyata. “Jadilah ibu inspirasi dan sekolah pertama sebagai orang tua. Jadilah teladan agar anak menjadi Sholeh Sholehah dan berguna bagi nusa dan bangsa. Aminn,” pungkas Gus Hajar sapaan akrab Wakil Bupati.

Hadir pula Direktur Sejarah dan Permuseuman, Kementerian Kebudayaan. Prof. DR. Agus Mulyana serta Wakil Menteri Hukum dan HAM, Mugiyanto, yang dalam sambutannya menggaris bawahi pentingnya kesetaraan dan perlindungan hak perempuan sebagai bagian dari pembangunan bangsa.

blank
Demo mengukir pelajar yang diikuti oleh 50 siswi dari berbagai seolah di Jepara. Foto: Septi.

Memasuki inti acara, gelar wicara menghadirkan tiga panelis dengan perspektif yang beragam. Anisa Rengganis, Staf Khusus Menteri Kebudayaan Bidang Diplomasi Kebudayaan dan Hubungan Internasional, membuka diskusi dengan tema “Diplomasi Pena: Kartini dalam Membangun Jembatan Budaya Global.” Ia mengulas bagaimana surat-surat Kartini menjadi medium diplomasi budaya yang memperkenalkan pemikiran perempuan Jawa ke dunia internasional.

Panelis berikutnya diisi oleh Mulyani, penerima Anugerah Kebudayaan Indonesia 2024 kategori Pelopor atau Pembaharu, yang mengangkat tema “Perempuan dan Seni.” Ia menyoroti peran perempuan dalam menjaga dan mengembangkan seni sebagai bagian dari identitas budaya, sekaligus ruang ekspresi yang membebaskan.

blank
Demo membatik oleh 100 siswi SMK/SMA dan SMP yang diwakili dari berbagai sekolah di Jepara. Foto: Septi.

`
Sementara itu, penyair dan pegiat budaya Muhammad Ade Putra menghadirkan perspektif generasi masa kini melalui tema “Kartini di Mata Generasi Masa Kini.” Dengan gaya tutur reflektif, ia menggambarkan bagaimana Kartini tidak lagi sekadar sosok historis, tetapi telah menjadi simbol yang terus ditafsirkan ulang oleh generasi muda.

Walau para audiens tampak sangat antusias dan terjadi dialog interaktif antara panelis dan peserta, Gelar Wicara ini tidak hanya menjadi ajang diskusi, tetapi juga ruang perenungan. Bahwa di tengah perubahan zaman yang begitu cepat, nilai-nilai yang diperjuangkan oleh R. A. Kartini seperti pendidikan, kesetaraan, dan etika kembali ditegaskan sebagai fondasi yang tak lekang oleh waktu.

Acara juga dimeriahkan dengan demo melukis dari Komunitas Lukis Asta dan para anak sekolah di halaman Pendopo Jepara. Serta demo ukir dan membatik dari perwakilan sekolah di Jepara di halaman belakang museum.

Dari Pendopo Kabupaten Jepara, suara Kartini seolah kembali diperdengarkan. Bukan hanya sebagai kenangan, tetapi sebagai arah, bahwa perjuangan belum selesai, dan setiap generasi memiliki cara masing-masing untuk melanjutkannya.

Septiana W.