blank
Penasihat MUI Jateng KH Dr Fachrurozi menyampaikan tausiyah di depan peserta halal-bihalal Perwakilan BKKBN Jateng. Foto: R. Widiyartono

Dalam kesempatan ini, KH Dr M Fachrurozi (penasihat MUI Jateng) menyampaikan tausiah Lebaran. KH Fachrurozi menyampaikan, bahwa Islam masuk ke Nusantara tidak untuk merusak atau menghapus budaya yang sudah ada pada masyarakatnya.

“Islam berkembang bersama kebudayaan yang ada di Nusantara. Di Arab tidak ada halal bihalal, tetapi di Indonesia ada budaya ini. Kalaupun di Arab ada halal bihalal, yang menyelenggarakan pasti orang Indonesia,” kata Ustad Fachurozi.

Kemudian dia menceritakan keanehan-keanehan yang menjadi hal biasa di Indonesia. Yang berkaitan dengan puasa, misalnya, ada istilah takjil. “Takjil dalam Bahasa Arab artinya segera, tetapi di Indonesia bisa berubah makna menjadi snack,” kata Ustad Fachurozi.

Lalu dikisahkan, bagaimana ini terjadi. Pada saat berada di masjid menjelang magrib saat bulan puasa, begitu azan berkumandang, imam masjid berkata “Takjil…. Takjil….” Yang maknanya agar disegerakan membatalkan puasa.

Lalu ada orang yang datang membawa makanan, dan orang bersama-sama berbuka dengan makanan itu. “Maka kata takjil yang artinya segera di tempat kita berubah makna jadi snack. Ya nggak papa karena itu baik dan tidak merugikan orang lain,” kata KH Fachrurozi.

Kemudian mengenai kata Idul Fitri, menurut KH Fachrurozi juga terjadi perubahan makna. Makna kata “fitri” sejatinya adalah “sarapan” atau “makan pagi” dan Id artinya Kembali.

“Orang Arab setelah menyelesaikan puasa akan berkata aidil fitri yang artinya kita boleh sarapan kembali setelah Ramadan selesai. Nah, di sini dimaknakan sebagai kembali suci. Padahal fitri itu artinya sarapan,” ujarnya disambut tawa hadirin.

Juga kata minal aidin wal faizin yang di sini dianggap berarti “maaf lahir batin”. Padahal dalam konteks ini bermakna “orang-orang yang kembali (dari perang melawan hawa nafsu) dan meraih kemenangan.

“Lha anehnya di sini, kita mengucapkan minal aidin wal faizin dibalas dengan ucapan padha-padha (sama-sama),” katanya kembali disambut tawa hadirin.

Selain itu, disampaikan bahwa pada saat puasa, bila sedang berwudu saat berkumur, kemudian meludahkan air berkali-kali, agar tidak ada air yang masuk ke kerongkongan.

“Pada saat berpuasa, air setetes pun jangan sampai masuk kerongkongan. Maka, ketika tidak lagi berpuasa, jangan sampai kita mengambil sesuatu yang bukan haknya. Saat puasa air setetes saja nggak boleh masuk, setelah puasa kok air dua tangki diangkut. Lakban atau staples kantor dibawa pulang, apalagi yang lain,” ujarnya kembali disambut tawa.

Acara halal bihalan diakhiri dengan bersalam-salaman saling memaafkan dan  makan bersama.

R. Widiyartono