blank
Penampilan memukau salah satu peserta Festival Tong Tek 2026.

 

blank

Oleh : Ky Hisyam Zamroni

Di tengah gempuran notifikasi TikTok dan algoritma Spotify, ada satu suara analog yang tetap gagal digantikan oleh teknologi di sudut-sudut Kabupaten Jepara yaitu  Tong Tek. Bukan sekadar bunyi bambu yang dipukul, Tong Tek adalah detak jantung kebersamaan yang bertransformasi dari tradisi religius menjadi simbol eksistensi anak muda.

Tong Tek adalah  anatomi Tradisi, lebih dari sekadar membangunkan sahur. Bagi masyarakat luar, Tong Tek mungkin dianggap sebagai cara berisik membangunkan orang tidur. Namun, bagi warga Jepara, ini adalah orkestra jalanan.

Secara etimologi: Nama “Tong Tek” diambil dari onomatope suara yang dihasilkan: “Tong” (suara bambu besar/kentongan) dan “Tek” (suara bambu kecil atau kayu). Secara historis, ini adalah alat komunikasi sosial (tanda bahaya) dan media syiar Islam untuk mengajak sahur. Tong Tek mengalami  Evolusi Visual: Dulu hanya bambu polosan, sekarang sudah menggunakan gerobak hias, lampu LED, hingga sistem suara (sound system) mini yang terintegrasi.

blank
Penampilan salah satu peserta Festival Tongtek 2026

Mengapa Gen Z Jepara Masih “Vibe” dengan Tong Tek?

Seringkali generasi muda dituduh meninggalkan tradisi. Namun di Jepara, Gen Z justru menjadi bahan bakar utama pelestarian Tong Tek. Mengapa? Pertama, Sebagai Medium Ekspresi Kreatif.  Tong Tek adalah “kanvas” bagi pemuda Gen Z. Mereka mengaransemen ulang lagu-lagu viral (dari koplo hingga pop) ke dalam ketukan perkusi bambu. Ini adalah bentuk remix tradisional yang sangat disukai anak muda. Kedua, Solidaritas Tanpa Wi-Fi. Di era digital yang individualis, Tong Tek memaksa anak muda keluar rumah, berkumpul di “gardu”, dan berjalan berkilo-kilo meter bersama. Ini adalah momen bonding nyata yang tidak bisa didapatkan di grup WhatsApp. Ketiga,  Gengsi dan Identitas Lokal. Ada kebanggaan tersendiri ketika rombongan Tong Tek dari desanya memiliki ketukan paling rapi atau dekorasi paling estetik. Ini adalah bentuk kompetisi sehat antar kampung.

Akulturasi Budaya: Antara Bambu dan Teknologi

Tong Tek merupakan tradisi ini tidak stagnan. Di Jepara, kita bisa melihat perpaduan unik. Bagi telinga orang awam, Tong Tek mungkin terdengar hanya musik keriuhan biasa. Namun bagi Gen Z Jepara yang sudah terbiasa dengan logic pro atau FL Studio mereka tahu ada struktur komplek di sana.

Dalam satu grup Tong Tek modern di Jepara, biasanya terdapat pembagian tugas layaknya grup band, seperti Pembawa Gending Bambu Besar, berperan sebagai Bassline . Suaranya rendah dan berfungsi menjaga tempo utama. Tek tek Bambu Kecil, berperan sebagai snare atau  hit hat . Memberikan tekstur ritme cepat dan tajam. Kentongan modifikasi seringkali di stel dengan nada tertetu (di – stem) untuk menghasilkan melodi sederhana. Tambahan ada Drum dari plastik, alat alat musik modern sebagai transformasi yang mengintegrasikan antara musik tradisional dan modern.

Dari sana, Tong Tek Jepara menggunakan konsep Poliritmik yaitu menggunakan dua atau lebih ritme yang berbeda secara bersamaan yang seakan akan saling bertabrakan namun menciptakan harmoni yang kompleks.

Kecerdasan Tong Tek Gen Z Jepara adalah mampu mengkombinasikan lagu lagu tradisional dengan lagu modern ke dalam irama bambu yang arstistik. Ini lah yang membuat Tong Tek di Jepara masih terasa hidup dan energik  dari waktu ke waktu dibandingkan dengan daerah lain. Ada drop (saat semua instrumen berhenti kecuali satu) yang kemudian diikuti oleh ledakan suara serentak — mirip sekali struktur lagu EDM. Keren !!!

Tantangan di Era Modern: Polusi Suara atau Budaya?

Gen Z adalah generasi visual. Sesuatu yang tidak instagranmable akan sulit bertahan. Oleh sebab itu Tong Tek Di Jepara mengalami revolusi estetik di mana ada perubahan custom paint yaitu perubahan warna warni bambu dan alat Tong Tek lainnya. Banyak grup Tong Tek mengecat instrumen mereka dengan warna neon atau motif airbrush yang keren. Penggunaan lighting show dengan menggunakan lampu LED strip dan strobo pada gerobak Tong Tek sehingga pada malam hari grup Tong Tek layaknya night club berjalan yang  membelah ruas jalan raya. Grup Tong Tek menggunakan _Outfit of The Day yaitu memakai pakaian  seragam yang ekselen sesuai dengan tema yang disuguhkan oleh grup mereka yang menjadi sebuah identitas dan kebanggaan.

Tentu, tidak semua berjalan mulus. Ada perdebatan mengenai batas waktu dan volume suara. Gen Z di Jepara ditantang untuk tetap melestarikan tradisi ini tanpa mengganggu ketertiban umum;  “Tradisi itu bukan menyembah abu, tapi menjaga api.”

Bagaimana Tong Tek tidak dianggap “nddeso” oleh mereka yang terpapar buda K – Pop? Gen Z Jepara berhasil menjaga “api” Tong Tek dan mempunyai  caranya sendiri:

Pertama, Mengadakan Festival Resmi.  Pemerintah Kabupaten Jepara maupun di Kecamatan, setiap bulan Ramadhan selalu  mengadakan lomba Tong Tek untuk memberikan “panggung prestesius”,  apresiasi dan  wadah prestasi yang meriah. Pemenang lomba Tong Tek tingkat Kabupaten Jepara adalah pencapaian yang setara dengan pemenang kompetisi E  sports

Kedua, Kalaborasi Lintas Genre. Tong Tek Jepara harus di dorong mampu berkalaborasi antara pemain Tong Tek dengan pemain musik modern seperti pemain Saksofon, gitar elektronik, piano dan alat musik lainnya. Eksperimen dan kalaborasi ini akan disukai oleh Gen Z karena kreatif, keren dan terasa segar.

Ketiga, Membutuhkan Digitalisasi atau The Power Of Tiktik. yaitu berupa cuplikan 15 menit “drop” aksi musik Tong Tek yang energik sangat cocok dengan Algoritma Tik Tok.  sehingga dapat menjadi  “branding” budaya lokal yang  bisa mendunia yang secara tidak langsung akan mampu mempromosikan pariwisata budaya Jepara.

Kesimpulan: Warisan yang Berisik namun Berisi

Tong Tek di Jepara adalah bukti bahwa tradisi tidak harus membosankan. Bagi Gen Z, ini adalah cara mereka berkata, “Kami modern, tapi kami tidak lupa akar.” Suara bambu yang dipukul adalah pengingat bahwa di balik layar smartphone, ada komunitas nyata yang saling menjaga.

Tradisi Tong Tek di Jepara bukan lagi hanya untuk membangunkan sahur. Ia menjadi sebuah pernyataan sikap di tengah tengah dunia yang semakin seragam karena globalisasi. Gen Z Jepara memilih untuk tetap “berisik” dengan cara yang paling “autentik”. Selama bambu masih tumbuh di Nusantara dan semangat kumpul masih ada pada anak anak Gen Z, suara “Tong” dan “Tek” akan terus menggema, melintasi zaman.

Hisyam Zamroni; Sekretaris Jam’iyyah Ahlith Thoriqoh Al Mu’tabaroh An Nahdliyyah (Jatman) Kab. Jepara