blank
Diskusi perdamaian dan krisis iklim yang berlangsung di Omah Laut , Bondo diiukyi oleh sejumlah aktivis, tokoh agama dan budayawan. Foto: Dok Panitia

JEPARA (SUARABARU.ID) — Sejumlah aktivis, tokoh agama, budayawan, dan pegiat lingkungan menggelar diskusi perdamaian di Omah Laut Bondo pada Jumat malam, 13 Maret 2026. Pertemuan ini menghadirkan tamu dari Kanada yang membahas isu perdamaian serta krisis perubahan iklim dalam perspektif global dan lokal.

Profesor Emeritus bidang Alkitab dan Teologi dari Canadian Mennonite University Gordon Zerbe hadir sebagai pembicara utama bersama istrinya Wendy Kroeker yang menekuni studi perdamaian dan transformasi konflik di universitas yang sama.

Dalam diskusi diskusi yang diinisiasi oleh Danang Kristiawan, Pendeta dari Jepara yang juga aktivis perdamaian lintas agama. Wendy Kroeker menjelaskan bagaimana krisis iklim tidak dapat dilepaskan dari sejarah, politik, serta relasi kekuasaan antara negara maju dan negara berkembang. Ia mencontohkan kondisi di Kanada yang memiliki sejarah panjang masyarakat adat,” ujar teolog  yang aktif dalam kegiatan dialog lintas iman baik di tingkat lokal maupun internasional.tersebut,

“Masyarakat di Kanada secara umum dapat dipahami dalam tiga kelompok besar, masyarakat adat, pendatang kulit putih, serta masyarakat campuran dari berbagai benua yang kini tinggal di sana,” terang Wendy Kroeker.

blank
Diskusi berlangsung produktif dan menghasilkan sejumlah rekomendasi. Foto: Dok Panitia

Menurutnya dominasi kelompok pendatang kulit putih tersimbolkan melalui keberadaan patung Queen Victoria yang berdiri di depan sejumlah kantor pemerintahan. Ia menjelaskan bahwa masyarakat adat banyak tinggal di wilayah utara yang memiliki suhu ekstrem, bahkan bisa mencapai lebih dari minus 50 derajat Celsius.

Sementara para pendatang umumnya menetap di bagian selatan yang lebih dekat dengan perbatasan negara tetangga. Konflik yang muncul di berbagai wilayah, memiliki pola yang serupa yaitu dominasi kelompok berkuasa yang berorientasi pada keuntungan ekonomi yang sering kali berhadapan dengan masyarakat adat yang berupaya mempertahankan cara hidup mereka.

“Eksploitasi sumber daya alam untuk kebutuhan teknologi modern menjadi salah satu sumber persoalan. Gaya hidup modern membutuhkan banyak peralatan yang berasal dari sumber daya alam. Tanpa perhitungan keseimbangan lingkungan, aktivitas ini dapat merusak alam,” jelasnya.

Berbanding dengan masyarakat adat yang telah beradaptasi dengan alam selama ratusan tahun. Mereka hidup dengan berburu, membangun rumah yang mampu melindungi dari cuaca ekstrem, serta menjaga keseimbangan alam dengan lingkungan tanpa eksploitasi berlebihan.

“Gaya hidup modern lah yang merusak lingkungan, juga mempercepat pemanasan bumi yang berdampak pada mencairnya es di wilayah utara,” imbuhnya.

Menurut Gordon Zerbe, Kondisi ini berpotensi mengubah cara hidup masyarakat adat yang selama berabad-abad bergantung pada ekosistem tersebut.

Ia juga berbagi pengalaman saat tinggal di Zimbabwe. Di sana, kata Wendy, banyak perempuan harus berjalan kaki hingga 12 kilometer pulang pergi hanya untuk mengambil air. Mereka membawa wadah air di atas kepala dan ember di kedua tangan karena sumber air semakin sulit dijangkau akibat kerusakan lingkungan yang dipicu berbagai bentuk eksploitasi sumber daya.

Diskusi semakin berkembang ketika sejumlah aktivis dan tokoh lokal turut menyampaikan pengalaman mereka. Aktivis lingkungan Daniel Tangkilisan berbagi cerita mengenai perjuangannya menolak pembangunan tambak udang di kawasan Pulau Karimunjawa yang sempat membuatnya menjalani masa penahanan.

Sementara itu budayawan Jepara Fahrudin menyoroti keterkaitan antara kondisi lingkungan dengan budaya serta dinamika sosial masyarakat pesisir. Pematung Roni Lantang juga turut hadir dan membahas kegiatan budaya “Tilik Segara Lor” yang berkaitan dengan hubungan masyarakat dengan laut.

Persoalan sosial lain turut disampaikan oleh aktivis perempuan muda Anis yang menyoroti isu pernikahan dini serta kekerasan terhadap perempuan di masyarakat. Selain itu, Agung mengangkat pentingnya pertanian yang kembali pada hakikatnya, yakni menjaga alam sekaligus menyediakan pangan bagi semua makhluk hidup.

Diskusi yang berlangsung santai namun mendalam tersebut ditutup dengan refleksi bersama. Para peserta menekankan bahwa semua agama memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga kelestarian bumi.

Mereka juga menyadari bahwa upaya mengatasi krisis lingkungan bukanlah hal mudah karena sering kali berhadapan dengan berbagai kepentingan ekonomi dan politik. Oleh karena itu, dibutuhkan kemauan politik atau political will yang kuat dan serius dari para pemimpin serta partisipasi masyarakat luas untuk menjaga keberlanjutan kehidupan di bumi.

Septiana W