blank
Ketua DPD LDII Wonogiri Sutoyo (deret depan keenam dari kanan) didampingi Wanhat LDII Djoko Santosa HP dan Suharto (deret depan kelima dari kanan dan kelima dari kiri), foto bersama dengan para awak media dan pengurus.(SB/Bambang Pur)

WONOGIRI (SUARABARU.ID) – Beda hari dalam melaksanakan ibadah sholat Idul Fitri 1447 H (2026 M), hendaknya tidak perlu dipermasalahkan. Tapi masing-masing harus saling memahami, saling menghormati dan tidak perlu untuk saling dipertentangkan.

Pendapat ini, disampaikan Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) Kabupaten Wonogiri, H Sutoyo, Jumat petang (13/3/26), saat berlangsungnya acara media gathering bersama para insan jurnalis. Acara yang dirangkai dengan buka puasa bersama ini, dihadiri pula oleh jajaran Dewan Penasehat (Wanhat) bersama para pengurus LDII Kabupaten Wonogiri.

Diprediksikan, penentuan Tanggal 1 Syawal 1447 H (2026 M) mendatang berpotensi akan berbeda harinya. Hal ini terjadi, karena awal ibadah puasa Ramadhan 1447 H juga berbeda harinya. Muhammadiyah, telah mengawalinya puasa pada Hari Rabu (18/2/26). Tapi pemerintah baru memulainya Kamis (19/2/26).

Menyikapi hal tersebut, Ketua DPD LDII Kabupaten Wonogiri, Sutoyo, menyatakan, akan menunggu pengumuman dari pemerintah. Meski demikian, kini telah dirancang penyiapan tempat sholat Idul Fitri yang jumlahnya lebih dari 100 lokasi. ”Sekaligus menentukan siapa nanti yang akan tampil menjadi khotib dan imamnya,” jelas Sutoyo yang juga menjabat sebagai Anggota DPRD Kabupaten Wonogiri ini.

LDII Kabupaten Wonogiri, makin berkembang luas. Kini, telah memiliki 23 cabang yang menyebar di Kabupaten Wonogiri. ”Kurang dua kecamatan yang kini masih dalam persiapan. Yakni Kecamatan Karangtengah dan Kecamatan Paranggupito,” jelas Sutoyo.

Media gathering adalah ajang pertemuan informal bersama insan wartawan. Tujuannya, untuk membangun silaturahmi, mewujudkan hubungan yang akrab, membangun kemitraan dan memperkuat jalinan relasi. Ini dilakukan, demi meningkatkan citra positif melalui suasana yang cair.
Kegiatan ini, dilakukan untuk meningkatkan reputasi, memperkuat komunikasi dan kolaborasi.

Desimal

Wartawan Bambang Pur yang mewakili awak media, menilai, LDII Kabupaten Wonogiri pintar dalam menjalin kemitraan dengan wartawan. Yakni memakai filosofi bilangan desimal, dengan menempatkan posisi wartawan sebagai angka nol di belakang bilangan. Ini dilakukan, demi memperoleh nilai yang besar.

Sebagai contoh, pada bilangan satu sebagai angka terkecil sekalipun, manakala di belakangnya dipasangkan dengan nol, akan diperoleh angka 10. Lain halnya bila angka nol ditaruh di depan angka, maka nilainya akan sangat jatuh merosot.

Bilangan desimal diciptakan oleh Al Hawarizmi. Yakni seorang ilmuwan muslim terkemuka di abad Ke-9, yang lahir di Uzbekistan dan besar di Irak. Dia dikenal sebagai sosok penting yang memperkenalkan dan mengembangkan sistem angka desimal serta konsep angka nol ke dunia Barat. Melalui karyanya, ia menyederhanakan perhitungan dengan meletakkan dasar aritmatika modern dan aljabar.

Ikut hadir menyampaikan sambutan dan sekaligus memberikan tausyiah, Ustadz H Suharto SPd yang juga menjabat sebagai Wanhat LDII Kabupaten Wonogiri. Dia menyatakan, beda hari dalam melaksanakan ibadah sholat Ied sebaiknya jangan dipermasalahkan. ”Yang jadi masalah itu, bila diantara kita ada yang tidak menjalankan puasa,” ujarnya.

Dalam tausyiahnya, Suharto, menekankan betapa pentingnya dalam menyikapi sisa hari di Bulan Ramadhan. yakni dengan meningkatkan amalan dan ibadah. Karena pada malam-malam sisa hari di Bulan Ramadhan, Allah SWT menurunkan anugerah Lailatul Qadar.

Lailatul Qadar adalah malam kemuliaan di bulan Ramadhan, yang lebih baik dari seribu bulan atau setara dengan 83 tahun. I
ni, diyakini jatuh pada malam ganjil di sepuluh hari terakhir Bulan Ramadhan, dan menjadi momen mustajab untuk beribadah dan memohon ampunan.

Ustadz Suharto, mencoba membandingkan kemuliaan 83 tahun tersebut dengan usia umat sekarang. ”Usia hidup kita sekarang ini rata-rata hanya 60 sampai 70 tahun saja,” jelasnya. Karena itu, kemuliaan setara seribu bulan tersebut, sungguh merupakan anugerah yang luar biasa bagi umat Rasulullah.(Bambang Pur