blank
Susana dialog Forum Diskusi kebudayaan Sambatan Roso. Foto: Atril

JEPARA (SUARABARU.ID) – Forum diskusi kebudayaan Sambatan Roso kembali digelar untuk yang kesepuluh kalinya dengan mengangkat tema “Kenduri Suwung (Perjamuan di Meja Ketiadaan)”. Kegiatan ini berlangsung dalam suasana hangat dan reflektif, menghadirkan dua senior sastra Jepara, Mustain Umar (Pak Mex) dan Didid Endro S.

Dalam pemaparannya, Mustain Umar menuturkan dinamika perkembangan sastra di Jepara melalui KSSJ (Kelompok Studi Sastra Jepara). Ia juga berbagi pengalaman dan persentuhannya dengan Umbu Landu Paranggi dalam lingkup Persada Studi Klub (PSK). Menurutnya, Umbu merupakan figur yang mencerminkan laku suwung, yakni sikap batin yang telah melepaskan diri dari keterikatan hasrat duniawi.

Pak Mex menegaskan bahwa makna suwung bukan sekadar kosong, melainkan kondisi batin yang matang—“ora kagetan, ora gumunan”—tidak mudah terkejut dan tidak mudah terpesona oleh gemerlap dunia. Ia mengajak agar forum-forum reflektif seperti ini terus dijaga dan diperbanyak sebagai ruang perawatan kesadaran kolektif.

blank
Forum Sambatan Roso berlangsung dalam suasana hangat dan reflektif, menghadirkan dua senior sastra Jepara, Mustain Umar (Pak Mex) dan Didid Endro S.

Sementara itu, Didid Endro S menyoroti frasa “Perjamuan di Meja Ketiadaan” sebagai metafora perjumpaan spiritual. Ia menyampaikan bahwa perjamuan tersebut merupakan simbol dialog batin manusia dengan Yang Transenden. Dalam kesempatan itu, Didid juga menyinggung sejumlah karya puisinya, di antaranya “Senandung Tuhan” yang memaknai dinamika hidup sebagai bagian dari kehendak Ilahi, serta “Jamaah Penjilat Tuhan” yang menjadi kritik terhadap praktik keberagamaan yang kehilangan esensi kejujuran spiritual.

Diskusi berlangsung dinamis dengan partisipasi aktif peserta lintas generasi. Perspektif generasi muda turut mewarnai pembahasan, di antaranya pandangan bahwa suwung dapat dimaknai sebagai kesepian dan kehilangan arah dalam konteks sosial kontemporer. Di sisi lain, terdapat pula pandangan yang melihat suwung sebagai “manunggaling roso”, yakni penyatuan rasa dan kesadaran.

Meskipun jumlah peserta terbatas, kualitas dialog yang terbangun menunjukkan kedalaman refleksi dan keterbukaan gagasan. Beragam metode untuk mencapai kondisi suwung turut dibahas, mulai dari meditasi, dzikir, hingga pendekatan kontemplatif dalam praktik teater.

Sambatan Roso Edisi ke-10 menegaskan pentingnya ruang-ruang dialog kebudayaan sebagai sarana merawat kesadaran, memperdalam pemaknaan hidup, serta memperkuat tradisi intelektual dan spiritual di tengah dinamika zaman.

Hadepe – Atril