Clarissa Martiana Yovita Fallo
Puasa di Antara Dentang Lonceng
dan Azan yang Mengalun
Di tepi fajar yang masih berembun,
lautan berbisik pelan kepada jiwa-jiwa yang rindu.
Ombaknya bukan sekadar air yang berkejaran,
melainkan doa-doa yang bangkit dari kedalaman sunyi.
Di ufuk timur, cahaya merekah seperti harapan,
mengajarkan bahwa menahan diri
adalah seperti menahan ombak di dada
bukan untuk melemahkan,
tetapi untuk menguatkan karang iman.
Puasa adalah samudera luas
tempat manusia belajar menyelam ke dalam diri.
Dalam hening pertobatan umat Katolik,
dan dalam sabar dan syukur Ramadan,
kita sama-sama berlayar menuju cahaya Illahi.
Angin asin menyentuh wajah,
mengingatkan bahwa hidup tak selalu tenang.
Namun seperti nelayan yang percaya pada bintang,
kita percaya pada kasih yang tak pernah padam.
Di tengah gelombang lapar dan dahaga,
jiwa ditempa seperti mutiara
yang lahir dari luka kerang
indah karena kesabaran,
berharga karena keteguhan.
Sebab dalam puasa,
tak ada sekat antara doa yang terangkat.
Semua menuju langit yang sama,
semua mencari damai yang sama.
Dan ketika senja turun perlahan,
seperti lonceng yang berdentang lirih
atau azan yang mengalun lembut,
kita tahu bahwa perjalanan hari ini
bukan tentang menahan lapar,
melainkan menemukan makna.
Lautan berkilau oleh cahaya bulan,
seolah berkata:
“Siapa yang berani menyeberangi sunyi,
akan menemukan pulau harapan.”
Maka berlayarlah, wahai jiwa-jiwa,
dalam samudra puasa yang suci.
Karena di setiap gelombang pengorbanan,
Tuhan menanamkan pelabuhan kedamaian.
Clarissa Martiana Yovita Fallo, suster di Susteran Notre Dame Salatiga, saat ini sedang menempuh studi di Prodi Ilkom UKSW













