SEMARANG (SUARABARU.ID) – Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Provinsi Jawa Tengah mencatat sekitar 17,3 ribu hektare sawah di provinsi ini terdampak banjir dari hingga awal Februari 2025.
Dari jumlah itu, lebih dari 10 ribu hektare di antaranya mengalami gagal panen menyusul kondisi banjir.
Kepala Distanak Provinsi Jawa Tengah, Defransisco Dasilva Tavares, mengatakan, pendataan masih terus berlangsung karena banjir di sejumlah daerah belum sepenuhnya surut.
“Kalau sementara ini data yang kita inventarisasi di beberapa kabupaten itu ada sekitar 17,3 ribu hektare yang terdampak. Dari jumlah itu, lebih dari 10 ribu hektare sudah kami identifikasi untuk pengajuan penggantian asuransi tanaman,” ujar Tavares, Selasa 10 Februari 2026.
Wilayah terdampak tersebar di sejumlah kabupaten, mulai dari wilayah di Pantai Utara (Pantura) hingga bagian tengah Jawa Tengah. Anntara lain Kabupaten Pati, Brebes, Demak, Jepara, Kebumen, Grobogan, dan Purbalingga.
Tavares bilanh, daerah dengan dampak terparah berada di Pantura timur, khususnya Kabupaten Pati.
“Paling banyak itu Pantura sebelah timur, Pati. Terakhir tercatat sekitar 5.600 hektare sawah mengalami puso,” katanya.
Khusus di Kabupaten Pati, sawah terdampak banjir mencapai 6.726 hektare, dengan 5.764 hektare gagal panen.
Sementara di Kabupaten Jepara, banjir merendam 4.166 hektare sawah, menyebabkan 2.807 hektare puso. Di Kabupaten Kudus, sawah terdampak tercatat 2.110 hektare, dengan puso 1.282 hektare.
Wilayah lain yang terdampak antara lain Batang 469 hektare (139,5 ha puso), Pemalang 818,6 hektare (103 ha puso), Demak 758 hektare, Kendal 144 hektare, Pekalongan 575 hektare dengan puso 5,8 hektare, serta Grobogan 256 hektare.
Tavares megatakan, tidak seluruh sawah yang terendam otomatis masuk kategori puso. Verifikasi lapangan akan dilakukan sebelum mengajukan klaim asuransi atau bantuan penggantian tanaman.
“Yang kita ajukan itu yang sudah diidentifikasi lebih lanjut. Tidak semuanya langsung puso,” katanya.
Pemerintah provinsi menyiapkan mekanisme klaim asuransi dan bantuan penggantian tanaman untuk memastikan petani terdampak bisa segera menanam ulang setelah banjir surut. Pendataan akan terus diperbarui seiring kondisi di lapangan.
“Karena kondisinya masih berjalan, data ini juga akan terus bergerak. Kita pastikan petani yang lahannya gagal panen bisa mendapat bantuan,” kata Tavares. (*)
Diaz A Abidin













