JEPARA (SUARABARU.ID) – Lautan jamaah bermukena putih seketika mengubah wajah Alun-Alun Kelet, Jepara, menjadi hamparan suci yang bergemuruh oleh takbir pada Rabu pagi (27/5/2026). Ribuan umat muslim dari berbagai pelosok Keling meluapkan kerinduan ibadah terbuka dalam pelaksanaan Salat Iduladha 1447 H yang mencatat lonjakan massa luar biasa. Antusiasme yang meluap ini rupanya dipicu oleh satu pesan besar yang dibawa oleh sang khotib sejak fajar menyingsing.
Sinyal persatuan dan ketundukan spiritualitas komunal tersebut terpancar kuat sepanjang jalannya ibadah. Bertindak sebagai Imam dan Khotib, Ustaz Muhammad Afif, S.Ag., mengupas tuntas keterkaitan batin antara jamaah di tanah air dengan jutaan kaum muslimin yang tengah menunaikan rukun Islam kelima. Ketua Majelis Tabligh Pimpinan Cabang Muhammadiyah Keling ini menegaskan bahwa setiap gerak ibadah haji memiliki makna filosofis yang sangat dalam bagi kehidupan sehari-hari.

”Mengagungkan Allah dengan melakukan ibadah di antara Shofa wal Marwah, wukuf di Arafah, melempar jumrah di Jamarat,” ujar Muhammad Afif dengan suara berwibawa yang menggema melalui pengeras suara ke seluruh penjuru alun-alun. Beliau menambahkan bahwa seluruh rangkaian tersebut merupakan pembuktian nyata dari ketundukan total seorang hamba yang melepaskan segala ego dunianya demi menggapai rida ilahi.
Sentilan Khotib: Kerinduan Rumah dan Keikhlasan Kurban
Suasana berubah semakin magis dan menyentuh sisi emosional ketika khotbah mulai bergeser pada potret kehidupan keluarga Islami yang harmonis. Muhammad Afif secara runut menggambarkan bagaimana kehadiran anggota keluarga terkadang menjadi ujian sekaligus berkah terbesar dalam menjaga konsistensi iman.
”Suara anak yang mengusir tidur kita, tawanya menghidupkan rumah kita,” tutur Muhammad Afif di hadapan ribuan jamaah yang menyimak dengan takzim. Melalui analogi sederhana namun mendalam ini, beliau mengingatkan warga Kelet bahwa kepedulian dan keikhlasan harus dimulai dari unit terkecil, yaitu menghidupkan rasa syukur di dalam rumah tangga sebelum menyebarkannya kepada masyarakat luas melalui ibadah kurban.

Kehangatan Warga dan Tradisi Kurban di Bumi Kelet
Usai kalimat penutup doa dibacakan, kedamaian hari raya langsung melebur dalam tradisi bersalaman antar jamaah di area lapangan. Berdasarkan pantauan langsung di lokasi, tampak kelompok ibu-ibu paruh baya, pemuda, hingga lansia saling melempar senyum dan bermaaf-maafan di atas hamparan terpal plastik yang menjadi alas sholat mereka.
Kendati arus lalu lintas di sekitar Alun-Alun Kelet sempat merayap padat akibat volume sepeda motor jamaah yang membludak, situasi di lapangan tetap terkendali dengan aman yang dibantu oleh Kokam dan relawan non Islam beserta Babinsa Polsek Keling. Selepas membubarkan diri secara tertib, warga bergegas menuju masjid dan mushala terdekat di lingkungan masing-masing untuk memulai prosesi penyembelihan serta pendistribusian daging kurban sebagai wujud nyata penguatan kepedulian sosial.
Hadepe – Kusnitah












