blank
Ketua LDII Kabupaten Wonosobo H Amir Ma'ruf saat menyerahkan paket daging kurban pada perwakilan warga. Foto : SB/Muharno Zarka

WONOSOBO (SUARABARU)– Takmir Masjid Baitul A’laa Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) Sariagung Wonosobo membagikan daging kurban ke sejumlah warga di luar daerah Sariagung, Rabu (27/5/2026).

Ketua LDII Wonosobo Amir Ma’ruf yang juga Takmir Masjid Baitul A’laa Sariagung mengatakan distribusi daging kurban dilakukan di daerah kota Wonosobo, Garung, Kertek, Kalikajar dan Sapuran.

“Selain itu, daging kurban juga dibagikan ke wilayah Kepil, Leksono, Wadaslintang dan Kaliwiro. Pembagian daging ke luar daerah diberikan sebagai bentuk kepedulian LDII kepada warga yang membutuhkan,” katanya.

Dengan menyembelih 8 ekor sapi dan 31 ekor kambing, lanjutnya, jika hanya dibagikan untuk warga Sariagung Wonosobo saja, daging kurban akan berlebih. Maka perlu dilakukan pendistribusian daging kurban ke wilayah lain.

“Daging kurban juga didistribusikan ke Pondok Pesantren Al Akbar Jambusari Kertek. Banyak warga di berbagai daerah di Wonosobo yang masih belum kebagian daging kurban, maka mereka perlu diberi agar bisa ikut menikmati,” ujarnya.

Hewan kurban, berupa sapi dan kambing, merupakan kontribusi dari warga LDII di daerah Sariagung Wonosobo. Setiap tahun, ibadah kurban terus dilakukan dan dijaga jemaah LDII setempat. Daging kurban yang ada pun selalu dibagikan kepada warga daerah lain yang lebih membutuhkan.

Sekretaris Takmir Masjid Baitul A’laa Sariagung Khoiru Astadi yang juga Wakil Ketua LDII Wonosobo menambahkan usai melakukan sholat Idul Adha bersama di Masjid Baitul A’laa Sariagung, warga setempat melakukan kerja bakti untuk menyembelih hewan kurban, mencacah dan membungkus daging untuk dibagikan ke warga setempat dan warga daerah lain di luar Sariagung.

“Pada saat mendistribusian daging kurban, pengurus LDII Wonosobo juga ikut terjun langsung melakukan pemantauan ke berbagai wilayah yang jadi obyek pembagian daging kurban. Pemantauan dilakukan untuk memastikan daging kurban terdistribusi dengan baik dan tepat sasaran,” paparnya.

Momentum Berbagi

blank
Daging kurban dari Takmir Masjid Baitul A’laa Sariagung Wonosobo yang siap didistribusikan ke daerah lain di luar Sariagung. Foto : SB/Muharno Zarka

Sementara itu, dalam pesan khutbah Idul Adha di Masjid Baitul A’laa Sariagung Wonosobo, khotib menyampaikan keagungan takbir tidak hanya berhenti di lisan. Tapi momentum Idul Adha bisa dimanfaatkan untuk ikhlas berkurban dan ikut berbagi.

“Ibadah kurban bukan sekadar ritual menyembelih hewan kurban, tetapi sebuah instrumen Islam untuk meruntuhkan tembok kesenjangan sosial di tengah masyarakat. Ketakwaan sejati itu memiliki dua dimensi yang tak terpisahkan. Yakni dimensi vertikal kepada Allah SWT dan dimensi horizontal kepada sesama,” tegasnya.

Di era saat ini, lanjut khotib, ada realitas ekonomi yang menantang. Seperti inflasi yang menghimpit dan kesenjangan sosial yang kian lebar. Di saat sebagaian orang bingung memilih menu hidangan apa, tapi di sudut lain ada orang lain yang bingung apakah dapur mereka esok hari masih bisa mengepul.

“Dalam konteks itulah, ibadah kurban hadir bukan sekadar ritual darah, melainkan sebagai instrumen keadilan ekonomi antar warga. Daging kurban yang dibagikan adalah pernyataan sikap bahwa “Aku menolak kenyang sendirian selagi saudaraku kelaparan”. Ini adalah bentuk redistribusi kekayaan yang paling tulus,” tegasnya.

Daging kurban, sebutnya, merupakan jembatan kemanusiaan yang bisa meruntuhkan tembok kasta antara Si Kaya Dan Si Miskin. Saat orang menyerahkan hewan, sebenarnya sedang menyerahkan ego kepemilikan yang ada.

“DPP LDII mengingatkan bahwa ber-kurban adalah bukti nyata bentuk kesalehan sosial. Di tengah situasi ekonomi yang sulit, kurban menjadi oase yang dapat mendinginkan suhu kecemburuan sosial dan memperkuat kohesi bangsa,” tuturnya.

Dikatakan, tidak boleh menjadi hamba yang kaya secara finansial, namun miskin secara empati. Harta yang dikurbankan tidak akan berkurang melainkan bertransformasi menjadi keberkahan yang dapat menjaga stabilitas ekonomi umat.

“Mari jadikan momentum Idul Adha 1447 H untuk menghidupkan kembali semangat gotong-royong. Jangan biarkan ada tetangga di sekitar kita yang melewati perayaan hari raya kurban ini dengan perut kosong. Jadikan ibadah kurban sebagai modal sosial untuk membangun Indonesia yang lebih peduli dan bermartabat,” ajaknya.

Muharno Zarka