
Oleh : Averroes Schyuler Xavier Mohammad Cordovi
Setiap bangsa besar tidak hanya dibangun oleh kekuatan ekonomi dan politik, tetapi juga oleh keteladanan intelektual dan spiritual para tokohnya. Indonesia memiliki banyak figur semacam itu, salah satunya adalah Raden Mas Panji Sosrokartono. Memperingati wafatnya Sosrokartono bukan sekadar mengenang seorang tokoh sejarah, melainkan menghadirkan kembali nilai-nilai yang relevan untuk menjawab tantangan generasi muda Indonesia hari ini, khususnya mahasiswa Indonesia yang sedang menempuh pendidikan di luar negeri.
Sosrokartono adalah kakak dari tokoh emansipasi wanita R.A. Kartini, lahir di Jepara pada 10 April 1877 dan wafat di Bandung pada 8 Februari 1952. Ia dikenal luas sebagai seorang poliglot, intelektual kosmopolitan, jurnalis perang, sekaligus figur spiritual yang melampaui sekat Timur dan Barat. Namun, yang lebih penting dari sekadar prestasi intelektualnya adalah etos hidupnya, keberpihakan pada kemanusiaan, kerendahan hati dalam ilmu, dan keberanian moral dalam menyuarakan kebenaran. Nilai-nilai inilah yang patut dijadikan cermin oleh mahasiswa Indonesia di diaspora global.
Sebagai mahasiswa Indonesia di luar negeri, khususnya di kawasan Timur Tengah seperti Yaman, saya merasakan secara langsung bagaimana identitas kebangsaan, keislaman, dan intelektualitas diuji dalam ruang pergaulan internasional. Dalam konteks ini, Sosrokartono tampil bukan hanya sebagai figur sejarah, tetapi sebagai role model diplomasi kultural dan moral yang sangat relevan.
Sosrokartono adalah simbol intelektual Indonesia yang mampu berdiri sejajar dengan dunia internasional tanpa kehilangan akar budayanya. Ia menguasai lebih dari dua puluh bahasa, berinteraksi dengan para pemikir besar Eropa, dan bekerja sebagai jurnalis pada masa Perang Dunia I. Namun, kecakapan bahasa dan keluasan wawasannya tidak menjadikannya elitis atau terasing dari bangsanya sendiri. Justru sebaliknya, Sosrokartono menggunakan ilmunya untuk membela kaum tertindas dan memperjuangkan kemanusiaan universal.
Keteladanan ini penting bagi mahasiswa Indonesia di luar negeri yang hari ini sering berada dalam dilema antara mengejar prestasi akademik global dan menjaga komitmen terhadap bangsa dan nilai-nilai keislaman. Sosrokartono mengajarkan bahwa menjadi global tidak harus berarti tercerabut dari akar. Ia membuktikan bahwa kosmopolitanisme sejati justru lahir dari identitas yang kokoh, bukan dari peniruan buta terhadap Barat.
Dalam konteks diplomasi dan hubungan luar negeri, Sosrokartono dapat dibaca sebagai pelopor diplomasi non-negara (track two diplomacy) jauh sebelum istilah itu dikenal secara akademik. Ia tidak membawa mandat resmi negara, tetapi membawa nilai empati, dialog, dan kemanusiaan. Ketika menjadi jurnalis perang, ia tidak sekadar melaporkan peristiwa, tetapi memperjuangkan suara korban yang sering diabaikan oleh narasi kekuasaan.
Bagi mahasiswa Indonesia di luar negeri keteladanan ini sangat relevan. Diplomasi hari ini tidak lagi hanya dilakukan oleh diplomat resmi, tetapi juga oleh mahasiswa, akademisi, dan masyarakat sipil. Setiap interaksi lintas budaya adalah arena diplomasi. Dalam hal ini, Sosrokartono mengajarkan bahwa diplomasi paling kuat adalah diplomasi moral melalui kejujuran, empati, dan konsistensi nilai.
Sebagai pengurus PPI Yaman bidang diplomasi dan hubungan luar negeri, saya melihat langsung bagaimana mahasiswa Indonesia sering menjadi representasi pertama wajah Indonesia di mata masyarakat internasional. Sikap, tutur kata, dan cara berpikir mahasiswa bukan hanya mencerminkan individu, tetapi juga bangsa. Sosrokartono memberi teladan bahwa kecerdasan intelektual harus berjalan seiring dengan keluhuran akhlak.
Lebih jauh, Sosrokartono juga memberikan pelajaran penting tentang spiritualitas intelektual. Setelah menjalani kehidupan akademik dan jurnalistik yang gemilang di Eropa, ia memilih jalan hidup yang sederhana, kontemplatif, dan penuh pengabdian sosial. Ia tidak terjebak dalam glorifikasi gelar dan pengakuan. Bagi Sosrokartono, ilmu bukan alat untuk menumpuk prestise, tetapi sarana untuk mendekatkan diri kepada Tuhan dan melayani sesama.
Nilai ini sejalan dengan tradisi keilmuan Nahdlatul Ulama yang menekankan keseimbangan antara ilmu, adab, dan pengabdian. Dalam kapasitas saya sebagai pengurus LTNNU PCI NU Yaman, saya melihat Sosrokartono sebagai figur yang merepresentasikan “Islam berilmu” dan “ilmu yang berakhlak”. Ia adalah contoh nyata bahwa kecerdasan tidak harus berseberangan dengan spiritualitas, dan modernitas tidak identik dengan sekularisasi nilai.
Bagi mahasiswa Indonesia di luar negeri, khususnya yang bergelut dengan wacana global, keteladanan ini menjadi sangat penting. Dunia akademik internasional sering kali menuntut sikap kritis, rasional, dan kompetitif. Semua itu penting. Namun tanpa fondasi etika dan spiritual, ilmu bisa kehilangan arah. Sosrokartono mengingatkan bahwa puncak intelektualitas adalah kebijaksanaan, bukan sekadar kecerdasan.
Memperingati wafat Sosrokartono juga berarti merefleksikan ulang makna pengabdian setelah studi. Banyak mahasiswa Indonesia di luar negeri yang dihadapkan pada pilihan kembali mengabdi pada bangsa atau mengejar kenyamanan personal di luar negeri. Sosrokartono menunjukkan bahwa pengabdian tidak selalu berbentuk jabatan formal atau kekuasaan struktural. Pengabdian bisa hadir dalam bentuk tulisan, pemikiran, pendidikan, dan keteladanan hidup.
Dalam dunia yang semakin terpolarisasi, baik secara politik, ideologis, maupun keagamaan, Sosrokartono juga mengajarkan seni menjembatani perbedaan. Ia tidak terjebak dalam dikotomi Timur-Barat, agama-ilmu, atau nasional-global. Ia berdiri di tengah, menjadi jembatan dialog yang meneduhkan. Inilah keterampilan yang sangat dibutuhkan oleh mahasiswa Indonesia di kancah internasional hari ini.
Akhirnya, mengenang wafat Sosrokartono bukanlah nostalgia romantik terhadap masa lalu, melainkan ikhtiar membangun orientasi masa depan. Mahasiswa Indonesia di luar negeri adalah calon pemimpin intelektual dan moral bangsa. Mereka tidak hanya dituntut untuk unggul secara akademik, tetapi juga untuk memiliki sensitivitas sosial, keberanian moral, dan komitmen kebangsaan.
Sosrokartono telah mencontohkan bahwa seorang intelektual sejati adalah mereka yang mampu menyinari dunia tanpa membakar sekitarnya; yang mampu berbicara dengan dunia tanpa kehilangan jati diri; dan yang mampu meraih ilmu setinggi-tingginya tanpa merendahkan sesama. Keteladanan inilah yang semestinya terus hidup dalam diri mahasiswa Indonesia di manapun mereka berada.
Semoga peringatan wafat Sosrokartono menjadi momentum refleksi bersama: bahwa ilmu adalah amanah, diaspora adalah ladang pengabdian, dan Indonesia menunggu kontribusi terbaik dari putra-putrinya yang sedang menimba ilmu di panggung dunia.
Penulis adalah Putra asli Jepara, Pengurus PPI Yaman Bidang Diplomasi dan Hubungan Luar Negeri dan Pengurus LTNNU PCI NU Yaman













